Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Kubingkai Kau dalam Pelukan Perempuan Lain

Aku merindukanmu bahkan di perjalanan menuju kota berplat H Kota yang kita gadang sebagai kota mewujudkan mimpi Pada setiap perpindahan menuju kota itu Aku berharap kamu ada di sebelahku Sekedar melihat senyummu atau memandangi pemandangan dengan sesekali diselingi canda Atau setidaknya aku ingin mengucapkan salam perpisahan secara baik-baik Aku ingin membawamu pada pengalamanku menuju kota yang baru kali ini kudatangi Kita akan menyelami setiap jengkal kenang yang masih terekam dalam memoriku Lalu kugenggam tanganmu untuk kembali menemuiku yang pernah ada dalam hidupmu Aku memintamu untuk bersiap, gunakan sabuk pengaman atau minumlah obat pereda mual Karena ini akan sedikit memualkan perutmu Kuajak berputar pada lubang-lubang besar tempat aku meletakkan orang yang pernah berarti dalam hidupku Ya, kamu salah satunya Sebab kamu adalah guru yang mengajarkanku cinta sekaligus kecewa Aku masih mengingat dengan baik Hanya perlu waktu tiga hari untuk membuatmu mengatakan me...

Jatuh

Tempo hari, saya lupa kapan. Kamu terbawa tornado sampai di ujung lembah. Kebetulan, saya sedang lewat. Mau tidak mau, saya pegangi ujung bajumu agar tidak jatuh. Kamu meyakinkan saya bahwa bersama kita kan baik-baik saja. Kita kuat melawan angin kencang. Kamu menjanjikan saya langit beserta isinya. Tapi kamu selalu suka bercerita tentang hujan. Ternyata saya lupa, untuk memegangi ujung bajumu saya harus kuat terlebih dahulu. Bagaimana saya bisa menyelamatkanmu kalau saya sendiri tidak memiliki kekuatan untuk menarik? Lalu pada akhirnya, kita jatuh. Diiringi hujan lebat pasca angin kencang. Kamu senang, karena melayang dibersamai hujan yang kaupuja adanya. Sedangkan saya? Saya jatuh terbentur curam--dengan penuh patah dan lebam. Jika dirimu dipenuhi dia, lantas saya ini siapa? 18 November 2019 19.00

Wisata Kelamnya Masa Lalu Ibu Pertiwi di Museum Lubang Buaya

Gambar: Monumen Pancasila Sakti Kali kedua sowan ke Monumen Pancasila Sakti yang terletak di Jalan Raya Pondok Gede RT.4/RW.12, Lubang Buaya, Kec. Cipayung, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13810. Gambar: pendopo sumur lubang buaya Gambar: Skema Gerakan PKI Ilegal Iramani di Purwodadi Pertama kali menyambangi Museum Lubang Buaya ini pada 26 Juli 2015, ditemani Rina Suryati , Resti Ria Fauzi , dan War sini . Berempat motoran macam bocah indie home (?). Hari ini, 16 November 2019, kembali mengunjungi tempat yang sama. Dengan rute yang sama, tapi partnernya berbeda. Ditemani Jeppy Happy New Year. Ini nama aseli, bukan kaleng-kaleng haha ha Memasuki gedung Museum Pengkhianatan PKI (komunis) , suasana masih sebagaimana museum pada umumnya. Berkisah tentang sepak terjang Partai Komunis Indonesia—sebagaimana yang ada di bagian bawah Monumen Nasional (Monas) —h anya saja, foto-foto pendukung kejadian di berbagai tempat kurang terjaga ke- ...

Surat Terbuka untuk Diriku

Untukku di masa yang akan datang Kuharap kau jauh lebih kuat dibanding saat tulisan ini        kurangkai kata demi kata. Kelak dimana pun kau berada Kumau senyum indah yang jarang muncul itu        bertengger mesra dengan atau tanpa gincu. Sehat dan berbahagialah selalu. Terima kasih untuk pertahanan sekuat tenaga melawan        menerjang ego diri yang suka semena-mena. Terima kasih untuk segala upaya mencoba        berproses panjang menghalau rasa bosan. Terima kasih sudah berusaha baik-baik saja        meski seringkali berpikir untuk menyerah. Terima kasih sudah bersyukur dengan melakukan hal-hal yang kau suka        dengan tidak melewati batas kemampuanmu. Nanti kau akan menemui aku pada tumpukan kertas mahakarya mentah di sudut kamarmu, kertas lembar jawaban murid-muridmu, kertas parkir, atau mungkin di balik struk total belanjaanmu. Saat kau bac...

Genggam

Kau genggam tanganku erat seperti mentransfer energi       supaya takutku lebur mendebu di antara sela-sela tangan kita. Binar pada netra sayumu masih sama,       kesukaan yang diam-diam kupatri tuk kuingat. Perpisahan menjadi begitu kacau, buru-buru, berujung pilu. Pada keheningan dini hari pukul satu Hanya detak jam yang mengisi gendang telingaku Orang-orang sibuk merapal mimpi memeluk guling Sedang aku-- masih saja berharap kau memaafkanku. Bumi 02 November 2019 20.53

Mati

Kukunjungi makam seperti menyambangi tempat ternyaman. Tak peduli itu Rabu atau Sabtu, bahkan bisa jadi itu Minggu. Tak kukenal kata libur dalam kamusku. Kuberhenti pada gundukan tanah dengan batu nisan bernamakan kita. Kurawat dan kusebar bunga di atas pusaranya. Dengan harapan, seseorang di dalamnya tenang dan tak kemana-mana. Perpisahan ini, Tuan. Tentang merelakan, bahwa kita pernah salah mengobati. Kita sepakat. Selesai mengemban pilu karena tak akan pernah bersatu. Tambun Utara 12 Oktober 2019 20.18

Teman Kecil

: Neng Risma Herliana Pagi tadi aku terbangun dengan ingatan-ingatan masa kecil Ada rasa yang masih hangat seperti baru saja selesai Sempat kuberpikir, "masihkah berada di mimpi?" Tapi kau sudah tak ada di mana-mana Kuberlari ke teras rumah Kau tak ada di sana Rupanya rumah telah berubah Adanya... Neng, sahabat kecilku Aku benci sepi Aku benci sendiri Barangkali jika saja jarak tak pernah ada Dan perpindahan itu fana Andai dulu telepon genggam sudah menjadi kacang rebus Kurasa kita kan selalu ada Meski tak bisa bersama-sama selamanya. Kata orang, dengan berdoa pada Sang Pencipta Segala doa akan diaamiini alam semesta Setelah kuberdoa, kau masih saja tak ada Aku pikir orang sedang mengada-ada. Sebelum hari ini berakhir Aku ingin berpesan padamu Bersamaiku selalu Membenci gemuruh rindu sendiri Tambun Utara 11 Oktober 2019 17.57

Siluet Kekasih

Saat rasa itu merekah sedang merah-merahnya Bersamaan dengan itu Ingin kubuat siluet kekasih Berwujud wajahmu Wajah yang barangkali nanti akan kutatap kala pagi menyapa atau malam pengantar menuju lelap Berkabar menjadi kebiasaan yang tetap dilakukan pada hari-hari yang acapkali berlalu seenaknya Percakapan tentang berita yang sedang hangat di layar kebanyakan orang atau media Berdiskusi layaknya kawan lama yang sudah terbiasa dengan jumpa Namun kebenaran dan dusta telah bercampur Aku tak mengerti bagaimana caranya 'tuk mengurai Tanyaku tak kunjung bertemu jawab Menguap tanpa paham yang dibiarkan lapar Pada akhirnya siklus itu masih sama Obrolan yang memiliki banyak kesamaan, sejalannya persepsi, nyaman, dan asing kembali Mari terbiasa dengan kata tanpa seperti awal mula Menjadi asing sebagaimana akhir tanpa bahagia Saling merelakan masing-masing kita menjemput suka Dengan pengganti yang dapat mengalihkan kenang kembali ke persemayaman. 28 September 2019 21....

Dingin

Hari ini genap malam ke 132 kau menjelma dingin yang merasuk ke selah-selah tulang rusukku Membekukan segala rasa dan mengaburkan pandangan mataku Apa semua manusia bisa berubah sewaktu-waktu? Saat ia mau, maka berubahlah ia menjadi dingin menusuk yang perlahan menghancurkan segala kenang yang manisnya mengeroposi gigi Singgasana yang tadinya purna di bawah ibumu telah diisi puan lain yang telah kau nilai sebaik-baiknya puan Puan yang tak pernah mengisi malam harinya dengan tangis, melainkan senyum yang mati-matian kau hadirkan melalui kabel telepon yang transparan Obrolan seputar hari ini dibahas tuntas, dibumbui tawa yang menggema di langit-langit kamarku Gigi rapimu terlihat gemerlapan disinari lampu malam yang temaram Rayumu melengkapi tawa puan yang tak sedikit pun paham tentang cerita lain yang harus karam demi cerita baru penuh bunga memabukkan Bahagiamu, tuan. Bahagia semesta alam dengan sejuta persoalan. 1sep19 21.31

Atas Dasar Cinta pada Sesama

: untuk seluruh perempuan korban kejahatan KDRT Mata indah yang kudamba, ternyata menyimpan cerita yang pada malam-malam banjir dan tak seorang pun tahu Tangan gemulai kurus itu maha karya Tuhan yang belingsatan mengusap jejak sungai bandang di dua bukit kemerah-merahan Pikiran yang terbaca cerah di mata orang-orang kebanyakan ternyata sesak dengan cerita yang menyakitkan Malam kian panjang, seakan detak jam berhenti bergerak Merasa mati pada hidup yang sejatinya dikemas kesementaraan Aliran sungai kecil begitu deras hingga tak tahu bagaimana caranya berhenti Bagaimana cara membendung agar tak tumpah Dan terus berulang bak iklan yang tak bosan menggiring wabah Lebam di kulit bertemu dengan benturan lain pada tempat yang sama di waktu yang berbeda Luka yang melahirkan darah segar mengalir membentuk corak mega mendung yang pekat dengan asin Rambut panjang ditarik paksa dan menanggalkan rumahnya Benturan demi benturan lama-kelamaan menjadi suatu siksa yang diterima dengan...

Menjelma Tempat, Lagu, dan Kursi

Aku ingin menjelma tempat dimana sepenggal kisah abadi meski nanti aku berubah Menampung segala cerita apapun kemasannya, dari perkara obrolan ringan seputar basa-basi atau membahas sesuatu yang menyisakan sesak Kusimpan dan kutumpahkan jika mereka membutuhkan atau tak sengaja mengundang Sebab aku tak berjarak dan tak pernah beranjak Aku ingin menjelma lagu-lagu yang biasa diabaikan ketika mereka mulai berbagi cerita, namun didengar ketika obrolan itu menjelma diam Kualunkan nada sendu yang liriknya mudah dihafal agar membekas dan membangkitkan sesuatu yang mati-matian mereka lupa: dengan sengaja Sebab aku tak apa dan akan selalu ada Aku ingin menjelma kursi yang menyangga tubuh masing-masing mereka dan membuat nyaman layaknya ranjang Kuayun dalam diam gugup saat bertemu seseorang yang banyak berubah di dalam, namun raganya masih sama Kudorong agar lawan bicara merasa ditanggapi saat merangkai kata yang tlah dilatih sejak di rumah Sebab aku tetap mencoba dan meyakini tuk me...

Keras Kepala

Puisiku punya dunianya sendiri Segala kemungkinan bisa kucipta tanpa seorangpun menginterupsi Aku bisa menempatkanmu di sana, hidup dalam rahim puisi Bahkan jika ada yang mencoba merombaknya, aku tak peduli Jika kenang itu melintas tanpa kuasa kuenyahkan, aku akan terus merangkai Aku tak apa jika kau telah melupa, juga orang seenaknya menilai Sebab senjataku hanya kata yang keras kepala 8Juli2019 18.36

Menjadi Sesuatu

Kau harus jadi sesuatu yang dapat diceritakan kelak setidaknya pada seseorang di masa yang akan datang Sesuatu yang sekedar mengembalikan senyum pada bibir tanpa senyum Sesuatu yang berproses dengan suka duka yang kau kemas rapi dengan pita hitam kesukaanmu Sesuatu yang menghadirkan gelak tawa teman sejawat perkara hal remeh-temeh Sesuatu yang menciptakan sungai kecil di pipi sendiri pada malam hari namun baik-baik saja di hari berikutnya Sesuatu yang mencoba ikhlas mengulang cerita-cerita yang bahkan sudah kau hafal betul akhirnya Sesuatu yang kuat bagai karang di dasar laut yang menggema tanpa seorangpun kan mendengar Sesuatu yang merapal doa dalam hening namun meninggalkan sembab seharian Sesuatu yang bersitahan tuk melewati setiap fase yang mau tak mau harus dituntaskan Meski sedikit terlambat, kau pasti kuat 7Juli2019 00.46

Selamat!

Kemarin hari pengukuhan gelar di belakang namamu. Senyumku adalah bentuk bangga dari jauh karena bahagiamu makin lengkap. Gelar bukan sekedar tambahan nama tanpa arti, melainkan tanggung-jawab ilmu yang berada membayangi. Lepas dari bangku kuliah, dunia mempertemukanmu pada rimba buas yang sewaktu-waktu membuatmu lelah. Tapi di lain sisi, serupa taman penuh bunga tempatmu menari dan membuatmu tak kuasa mengalunkan kidung penuh euforia. Perjalanan bertualangmu menuju hidup tiada habisnya baru dimulai. Berbagai rasa dalam satu hentakan waktu kan kau sesapi sari-sarinya. Pesanku, berbagilah supaya kau benar-benar merasa lega. Dan, kekasih. Semua perjalanan akan sampai pada jalan menyimpang, lewati kemudian rayakan. Guratan itu masih menjadi definisi favoritku yang kian ranum dengan pelengkap dalam pigura: teman wisuda. 30 Juni 2019 23.11

Proses Awal Melupakan

Andai kau benar-benar tahu Mataku masih terjaga dari kantuk yang seharusnya sudah bergelayut menutup hanya sekedar menunggu pesan ucapan selamat malam darimu juga tambahan panggilan yang kau cipta untukku Andai kau benar-benar tahu Pada malam-malam panjang kueja tiap kata yang mengulas kembali cerita yang telah lalu kata yang perlahan tak ada artinya bagimu: angin lalu Andai kau benar-benar tahu Hingga menit ke 216.000 masih kubayangkan mawujud isi pikiran dan juga hatimu namun kesia-siaan justru membenturkan kepalaku dan aku menjumpai ke 3.600 pilu Andai kau benar-benar tahu Aku perempuan yang pernah kau ajak berdiri tegap kembali ini telah jatuh pada gambaran semu yang kau refleksikan tanpa kau sadari sejak awal mula jumpa Andai kau benar-benar tahu Pada hembusan napasmu itu kuselipkan doa abid yang mengandung kata, "selamat malam, kamuku." 25 Juni 2019 23.12

YaAllah Tolong Jangan Jauh-jauh

YaAllah tolong jangan jauh-jauh Jangan tinggalkan aku Aku membutuhkan-Mu lebih dari siapapun YaAllah tolong jangan jauh-jauh Genggam tanganku Bantu aku berdiri Tuk membuat siapapun percaya bahwa aku kuat YaAllah tolong jangan jauh-jauh Aku butuh rumah Aku ingin pulang Benar-benar pulang Bukan pada kekosongan yang perlahan menggerogoti jiwa Bukan pada kesemuan manusia YaAllah tolong jangan jauh-jauh Aku butuh dekap hangat-Mu Aku ingin pulang Pada-Mu yang memberiku segala Pada-Mu yang mengizinkanku merasakan sejuta rasa Aku ingin Kau dekat Memelukku erat Dengan cara paling dahsyat Aku ingin pulang Pada-Mu dengan penuh kelegaan 16 Juni 2019 23:16

Surat Tiga Babak untuk U

1 Aku duduk pada salah satu pasang kursi di beranda rumah. Membayangkan kau duduk menempati kursi kosong yang lain. Bercerita tentang kerjaan yang acap kali mengerjai. Mengenang hal-hal manis yang barangkali menjadi bagian kita untuk selamanya. Serta merajut benang-benang yang kita sulap menjadi indah di kemudian hari. 2 Katamu kata yang mempertemukan kita akan berkembang menjadi kalimat dan akhirnya menjelma cerita. Kutulis namamu pada cerita yang riuh bergemuruh layaknya kota. Dan kau visualisasikan aku seperti semilir angin di cuaca terik yang menyibak rambutmu. Kita membahas banyak topik pembicaraan; tentang keluarga yang secara perlahan kita selami, isi buku yang membuatku hidup di dalamnya, tempat yang kau sukai dan ingin disambangi lagi, biografi tokoh yang banyak menginspirasi, amanat film yang mampu memunculkan debat, warung makan mana yang menyuguhkan cita rasa surgawi, dan masih banyak lagi. ...

Pengganti

Hai... Maaf mengganggu waktu istirahatmu Aku hanya ingin berkata, "maaf" Dan keputusanmu pergi adalah pilihan terbaik Kamu akan bertemu perempuan baik Dia akan membuatmu bahagia, meski hatiku bersitahan, "hanya aku yang mampu begitu." Suatu hari kamu akan bertemu Dan dia akan meliputimu dengan kasih layaknya seorang ibu Dia akan memegang tanganmu erat, seakan tak ingin ditinggal Memintamu meneleponnya hanya untuk memberi makan rindu Lisannya tak akan bosan menyanjungmu bahwa kamu adalah lelaki terbaik setelah ayahnya Dia mengingat setiap kata baik yang kamu ucapkan dan sesekali menceramahi dengan alasan sayang Membuatmu tenang dengan peluk hangat saat kacaumu sesekali menerjang Dia akan mencintaimu, mencintaimu lebih dari segala upayaku Balaslah pegangan eratnya yang menyayangimu Sayangilah dia sebagaimana dia memperlakukanmu Kamu akan terbiasa dan perlahan mengikhlaskanku Aku takkan mengacaukan dongeng kalian Sebab kita sudah sampai pada titik ...

Kepala Suku Sioux :Sitting Bull

Gambar: Sitting Bull dan Catherine Weldon dalam film Woman Walks Ahead (2017) Kala itu, tuan telah berjuang melawan ketidakadilan Tetua setia suka rela memberi petuah Anak-anak riang ketika hujan datang Perempuan bekerja keras sebagai lambang kemandirian Semasa hidupmu sungguh senyum mampu dikulum Kala nestapa begitu gencar berlari mengikuti Catatan sejarah menyebut tiga ratus anggota mati tertembus peluru Tak pandang bulu: tua, muda, anak-anak, pria, wanita Mengapa ada manusia yang begitu tega merenggut bocah belia yang sedang indah-indahnya? Bala tentara yang tidak puas merenggut budaya berpakaian Mengecam berpendapat mengenai keberlangsungan Menekan persediaan makanan demi kemaslahatan kolonial Tuan telah melawan Melawan demi kebaikan manusia dan juga bumi Kepada mereka yang serakah dan tega menguliti Kukirim doa supaya tuan bahagia di sana Kuharap doaku sampai Sebab Tuhan tak pernah menanyai agamaku ketika kuberdoa Dan juga agama tuan sebagai penerima ten...

Pukul Sepuluh

Kutatap layar ponsel yang menampilkan tulisan teman-teman dengan berbagai kesan untuk hari ini. Bagiku itu hanya deretan kata yang kurasa semakin awam. Aku mulai terbiasa melewati malam dengan membacai tulisan atau mungkin gambar-gambar. Tak ada lagi hingar-bingar yang bertanya, "bagaimana harimu? Tadi hujan, kamu bisa tetap berkendara meski embun menutup sebagian besar kacamatamu?" Tak ada. Sama sekali. Hari-hari makin terasa sepi. Entah sejak kapan hal ini bermula. Seakan hidup tak semeriah sebelumnya. Aku mulai merindukan waktu-waktu seperti membicarakan topik tentang buku atau film yang pernah ditonton. Atau perkembangan semesta akhir-akhir ini. Barangkali bisa juga tentang manusia dengan segala persoalan dan kesementaraan yang mau tak mau harus diterima dengan lapang dada. Tapi pembahasan itu memang harus dibenturkan pada realita yang ada. Menjadi asing bahkan untuk diri sendiri. Juga mencoba sekuat tenaga untuk tidak mendefinisikan kehidupan satu sama lain penti...

Kepada Roh Puisiku: Kau

Bagaimana mungkin jadi rasa: puisi pada barisan kata tanpa makna? Aku pernah melihatmu pada hal-hal yang tak kau katakan: mengepul bersama asap susu panas yang baru saja kuhidangkan di meja beranda. Manusia silih berganti menyambangi: kemudian pergi dan tak kembali. Beranda ini sepi. Di antara kepulan susu hangat dan pisang goreng ini, kau usir sepersekian ramai. Pada mulutmu, kata mulai membatasi diri. Lalu kau kini ikut sepi. Toko di seberang jalan menghadiahi hidung aroma coklat. Kau sesapi esensi lumeran coklat dalam balutan cake dengan rasa yang sama. Di sebelahnya ada toko makhluk pasif berbulu yang sewaktu-waktu ingin kau peluk. Teddy Bear dan Big Panda berpandang-pandangan mengerutkan dahi terheran-heran. Teddy Bear dengan topi bermotif polkadot. Big Panda dengan bambu yang berdaun tiga di mulut. Tapi kau tak suka keduanya. Kau hanya menyukai lara tiada akhir. Seperti cerita yang telah tamat kemarin. Aku ingin membuatkan sesuatu yang dapat menemani malammu saat mere...

Jam Dua Dini Hari

Pukul dua dini hari, bersama irama detak jam yang kian detik kian gaduh namun semakin terasa sepi. Pikiranku berkenalana tanpa tujuan pasti. Aku muak dengan segala tanya tanpa jawab, tentang rasa yang sulit diterka eksistensinya. Kuanalisis setiap tanya yang mencuat dan kusatukan dengan jawab yang dipaksa seiya sekata. Tapi antitesis meronta, meluluhlantakan jawaban yang kuanggap pas maknanya. Detik demi detik lewat tanpa permisi, angin dini hari merangsek masuk melalui celah-celah jendela kamar, pikiranku masih saja berwarna kelabu dengan praduga yang berujung pilu. Kupejamkan mata petanda menyerah kalah, dengan harap tanyaku mandiri menemu jawabannya sendiri. 09 Maret 2019

Puisi tanpa Kata Cinta

Tuan, kutulis sebuah puisi di bawah temaram sore yang melahirkan senja indah warnanya Sepotong masa lalu yang sendu melayang mengetuk pintu ingatanku Tak pernah mengindahkan yang masih hidup dalam dadaku Didudukannya aku di kursi terdakwa sebagai perempuan yang tak layak mendapat balasan rasa Kenangan betah berlama-lama, sedang aku pecundang yang dikoyak bayang-bayang sebegini rupa Hingga detik ini, masih kugenggam rasa yang nyatanya telah memuai jadi udara Mengenangmu seperti menunggu Lama, semakin lama, tetapi aku tak kunjung bosan Kasihmu seperti senja Membekas, membara, sebentar, kemudian hilang Penyesalan itu gencar menghantuiku Barang tentu sesalku ini bagimu tiada arti Maka berhentilah menghantui serta bonus berlipat yang membuatku tak mampu berdiri dengan kedua kakiku sendiri Darimu aku belajar, perjuangan yang kunilai sia-sia memang layak dibayar tunai dengan penuh sesal dan air mata Keegoisanku Tuan hadiahi perpisahan Aku pikir sikapku sudah benar ...

Urgent

YaAllah... Kalau saja aku boleh meminta, aku ingin Mama kembali sehat seperti sedia kala Supaya bisa kulihat senyum indahnya saat kumembuka mata Supaya kulihat pula pagar rapi yang berjejer menjaga lidahnya YaAllah... Kupikir cobaan di tahun lalu telah tertutup menjadi senyum yang abadi Tapi bulan pertama tahun ini Kau beri kesempatan lagi untuk membuatku beserta keluarga lebih menghargai hidup ini YaAllah... Aku rindu suara tawa yang membahana hingga terpuyuh-puyuh Mama ke kamar mandi Terlebih, aku rindu keajaiban maha Lezat dari tangan yang ditaburinya cinta YaAllah... Kalau pintaku ini fana, bukankah aku beserta bahagia memang fana adanya? Lantas tak bisakah kupinta karunia-Mu untuk Mama? Dini hari saat kutunggui Mama Sambil kutatap nanar infus 13 Januari 2019 02.20

Gagal Paham

Maafkan aku karena tidak berhasil mendefinisikan setiap sabar dan tutur kata halusmu ke dalam hatiku Pikiranku terlalu rumit ketimbang adu argumen netizen yang entah membela atau menghakimi siapa Hembusan angin malam ini benar-benar mampu menusuk tulangku juga menggertakan gigiku, sama seperti hatiku Aku kesulitan membalas rasa yang aku yakin telah memenuhimu Kini aku hanya mengasihani diri sendiri dan enggan dibuat kecewa meski hanya terlintas dalam pikiran Maafkan, aku gagal Karang Satria 3 Januari 2019 23.21