Langsung ke konten utama

Pukul Sepuluh

Kutatap layar ponsel yang menampilkan tulisan teman-teman dengan berbagai kesan untuk hari ini. Bagiku itu hanya deretan kata yang kurasa semakin awam.

Aku mulai terbiasa melewati malam dengan membacai tulisan atau mungkin gambar-gambar. Tak ada lagi hingar-bingar yang bertanya, "bagaimana harimu? Tadi hujan, kamu bisa tetap berkendara meski embun menutup sebagian besar kacamatamu?" Tak ada. Sama sekali.

Hari-hari makin terasa sepi. Entah sejak kapan hal ini bermula. Seakan hidup tak semeriah sebelumnya.

Aku mulai merindukan waktu-waktu seperti membicarakan topik tentang buku atau film yang pernah ditonton. Atau perkembangan semesta akhir-akhir ini. Barangkali bisa juga tentang manusia dengan segala persoalan dan kesementaraan yang mau tak mau harus diterima dengan lapang dada.

Tapi pembahasan itu memang harus dibenturkan pada realita yang ada. Menjadi asing bahkan untuk diri sendiri. Juga mencoba sekuat tenaga untuk tidak mendefinisikan kehidupan satu sama lain penting dan bertalian.

Pada detik ini, aku mulai sadar. Berpikir berlebihan meski hati telah terasa getir adalah suatu kesalahan tiada akhir.

Pada banyak cerita yang sudah berhasil dilewati, ternyata aku memang seseorang dengan banyak kekeliruan. Mengira yang sudah-sudah sebagai rumah, padahal tafsiranku salah. Kukira akhir cerita itu akan indah, nyatanya dilabuhkan hatinya bukan hanya untukku.

Aku terlalu jauh mengarang cerita, sebelum penaku patah, aku lunglai tak berdaya tanpa suatu apa. Tak berdaya, bermandikan ribuan kata yang tak pernah menjadi nyata.

Dan kini aku harus terbiasa dengan pola yang sama. Terbiasa patah meski sudah kalah sejak awal mula. Serta menerima bahwa hidup memang sebatas berbagi tawa.

8 April 2019
22.12

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Perkenalan

Kidungku Aku Bernyanyi dalam kidung irama rindu Mencoba memahat segurat senyum Saat membuat sajak perkenalan ini Namaku Vita Lahir di Ibu kota Indonesia Pada bulan ke enam Jumlah alfabet ditambah dua tanggalnya Kebetulan lahir sunggang Kedua orang tua asli Jawa Tapi aku hanya tahu beberapa Sepi bukan berarti hilang Diam bukan berarti lupa Kadang Meskipun aku hanya setitik debu di atas karang Meskipun aku hanya satu diantara ribuan titik hujan Keindahan gerimis senja memberikanku setetes harapan Kehadiranku bukanlah yang terindah Akupun bukan yang terpenting Satu yang aku harapkan Hadirku berguna bagi sesama 09.09.14 19:24 Diiringi suara detak jam

Sastra Koran

SASTRA KORAN DAN KAITANNYA DENGAN ROMAN PERGAOELAN: PENGELOMPOKKAN KOTA DAN PINGGIRAN Sastra Koran Dessy wahyuni 28 November 2015 - 23.42 WIB Publikasi karya sastra  melalui koran sudah sangat lama terjadi di Indonesia. Hampir semua sastrawan Indonesia memanfaatkan koran sebagai media untuk “mengiklankan” karya (dan nama) mereka kepada publik. Sebut saja Seno Gumira Ajidarma, Yanusa Nugroho, Taufik Ikram Jamil, Nurzain Hae, Raudal Tanjung Banua, Marhalim Zaini, dan Fakhrunnas M.A. Jabbar (tentu masih ada sederetan nama lainnya). Berkat karya-karya korannya, nama mereka pun menjulang cakrawala. Melalui salah satu tulisannya, “Evolusi, ‘Genre’ dan Realitas Sastra Koran”, Ahmadun Yosi Herfanda menengarai bahwa sastra koran di Indonesia menemukan oasenya pada dekade ’70-an dan ’80-an. Ketika itu, karena rubrik-rubrik sastra menjamur di hampir semua surat kabar (seperti Suara Karya, Berita Buana, Kompas, Sinar Harapan, Kedaulatan Rakyat, dan Med...

Patibrata Praharsa

Surat Senja     Sepucuk surat memutuskan menetap Berisi tulisan tangan seseorang Yang rela menghabiskan 15 tahun waktunya untuk mengenalku Surat itu bertuliskan Patibrata Praharsa [1] Kubalas dengan Amin terkhusyuk Dan berharap semesta menirunya Perlahan Sang Surya tergelincir menuju ufuk barat Kutatap ia lekat dengan kedip sesekali Tak lupa kuselipkan senyum simpul untuk meringkas bahagiaku 17 maret 2016 19:34 [1] Sansekerta Patibrata = sehidup semati, Praharsa = bahagia. Patibrata Praharsa = bahagia sehidup semati.