Kutatap layar ponsel yang menampilkan tulisan teman-teman dengan berbagai kesan untuk hari ini. Bagiku itu hanya deretan kata yang kurasa semakin awam.
Aku mulai terbiasa melewati malam dengan membacai tulisan atau mungkin gambar-gambar. Tak ada lagi hingar-bingar yang bertanya, "bagaimana harimu? Tadi hujan, kamu bisa tetap berkendara meski embun menutup sebagian besar kacamatamu?" Tak ada. Sama sekali.
Hari-hari makin terasa sepi. Entah sejak kapan hal ini bermula. Seakan hidup tak semeriah sebelumnya.
Aku mulai merindukan waktu-waktu seperti membicarakan topik tentang buku atau film yang pernah ditonton. Atau perkembangan semesta akhir-akhir ini. Barangkali bisa juga tentang manusia dengan segala persoalan dan kesementaraan yang mau tak mau harus diterima dengan lapang dada.
Tapi pembahasan itu memang harus dibenturkan pada realita yang ada. Menjadi asing bahkan untuk diri sendiri. Juga mencoba sekuat tenaga untuk tidak mendefinisikan kehidupan satu sama lain penting dan bertalian.
Pada detik ini, aku mulai sadar. Berpikir berlebihan meski hati telah terasa getir adalah suatu kesalahan tiada akhir.
Pada banyak cerita yang sudah berhasil dilewati, ternyata aku memang seseorang dengan banyak kekeliruan. Mengira yang sudah-sudah sebagai rumah, padahal tafsiranku salah. Kukira akhir cerita itu akan indah, nyatanya dilabuhkan hatinya bukan hanya untukku.
Aku terlalu jauh mengarang cerita, sebelum penaku patah, aku lunglai tak berdaya tanpa suatu apa. Tak berdaya, bermandikan ribuan kata yang tak pernah menjadi nyata.
Dan kini aku harus terbiasa dengan pola yang sama. Terbiasa patah meski sudah kalah sejak awal mula. Serta menerima bahwa hidup memang sebatas berbagi tawa.
8 April 2019
22.12
Aku mulai terbiasa melewati malam dengan membacai tulisan atau mungkin gambar-gambar. Tak ada lagi hingar-bingar yang bertanya, "bagaimana harimu? Tadi hujan, kamu bisa tetap berkendara meski embun menutup sebagian besar kacamatamu?" Tak ada. Sama sekali.
Hari-hari makin terasa sepi. Entah sejak kapan hal ini bermula. Seakan hidup tak semeriah sebelumnya.
Aku mulai merindukan waktu-waktu seperti membicarakan topik tentang buku atau film yang pernah ditonton. Atau perkembangan semesta akhir-akhir ini. Barangkali bisa juga tentang manusia dengan segala persoalan dan kesementaraan yang mau tak mau harus diterima dengan lapang dada.
Tapi pembahasan itu memang harus dibenturkan pada realita yang ada. Menjadi asing bahkan untuk diri sendiri. Juga mencoba sekuat tenaga untuk tidak mendefinisikan kehidupan satu sama lain penting dan bertalian.
Pada detik ini, aku mulai sadar. Berpikir berlebihan meski hati telah terasa getir adalah suatu kesalahan tiada akhir.
Pada banyak cerita yang sudah berhasil dilewati, ternyata aku memang seseorang dengan banyak kekeliruan. Mengira yang sudah-sudah sebagai rumah, padahal tafsiranku salah. Kukira akhir cerita itu akan indah, nyatanya dilabuhkan hatinya bukan hanya untukku.
Aku terlalu jauh mengarang cerita, sebelum penaku patah, aku lunglai tak berdaya tanpa suatu apa. Tak berdaya, bermandikan ribuan kata yang tak pernah menjadi nyata.
Dan kini aku harus terbiasa dengan pola yang sama. Terbiasa patah meski sudah kalah sejak awal mula. Serta menerima bahwa hidup memang sebatas berbagi tawa.
8 April 2019
22.12
Hikmahnya banyak ternyata..
BalasHapus