SASTRA KORAN DAN KAITANNYA DENGAN ROMAN PERGAOELAN:
PENGELOMPOKKAN KOTA DAN PINGGIRAN
Sastra Koran
Dessy
wahyuni
28
November 2015 - 23.42 WIB
Publikasi
karya sastra melalui koran sudah sangat lama terjadi di Indonesia. Hampir
semua sastrawan Indonesia memanfaatkan koran sebagai media untuk “mengiklankan”
karya (dan nama) mereka kepada publik. Sebut saja Seno Gumira Ajidarma, Yanusa
Nugroho, Taufik Ikram Jamil, Nurzain Hae, Raudal Tanjung Banua, Marhalim Zaini,
dan Fakhrunnas M.A. Jabbar (tentu masih ada sederetan nama lainnya). Berkat
karya-karya korannya, nama mereka pun menjulang cakrawala.
Melalui
salah satu tulisannya, “Evolusi, ‘Genre’ dan Realitas Sastra Koran”, Ahmadun
Yosi Herfanda menengarai bahwa sastra koran di Indonesia menemukan oasenya pada
dekade ’70-an dan ’80-an. Ketika itu, karena rubrik-rubrik sastra menjamur di
hampir semua surat kabar (seperti Suara Karya, Berita Buana, Kompas, Sinar
Harapan, Kedaulatan Rakyat, dan Media Indonesia), lahirlah nama-nama
besar, seperti Sutardji Calzuom Bachri, Abdul Hadi W.M., Emha Ainun Najib,
Korrie Layun Rampan, dan Linus Suryadi A.G.
Harus
diakui bahwa sastra koran memiliki keterbatasan-keterbatasan. Di samping
keterbatasan ruang dan waktu (karena sifat koran: terbatas dan sementara),
sastra koran juga memiliki keterbatasan ide (karena harus menyesuaikan dengan
selera redaktur, yang bisa jadi tidak berlatar belakang sastra). Mungkin hal
seperti itulah yang membuat Katrin Bandel (pengamat sastra Indonesia di
Universitas Hamburg, Jerman itu) terheran-heran atas fenomena sastra koran di
Indonesia. Menurutnya, fungsi halaman sastra di Indonesia agak “luar biasa”
karena menyeleweng dari peran koran pada umumnya: sebagai media informasi di
berbagai bidang untuk orang awam. Sementara itu, di Indonesia koran justru
menjadi media komunikasi antarorang sastra dan sekaligus menjadi media utama
untuk menyosialisasikan karya-karyanya.
Keheranan
Katrin Bandel atas fenomena sastra koran di Indonesia seperti itu tentu dapat
dimaklumi. Di Jerman, budaya baca masyarakatnya sudah tinggi sehingga tidaklah
mengherankan jika buku sudah menjadi bacaan utama. Bagaimana di Indonesia?
Sudah menjadi rahasia umum, buku jarang (jika tidak boleh dikatakan tidak)
dibaca. Mungkin, itulah sebabnya koran masih menjadi primadona bagi
penulis-penulis Indonesia untuk memublikasikan karyanya.
Dalam
kenyataannya, kehadiran sastra koran telah membuka jalan bagi para penulis
untuk lebih bersemangat menuangkan ide-ide imajinya. Hal itu tentu didorong
oleh keinginan agar karyanya bisa dinikmati oleh para pembaca. Pada umumnya,
mereka menyadari betul bahwa sebuah karya (sastra) akan bermakna jika tidak
mendapat apresiasi masyarakat. Sebagus dan sehebat apa pun karya (sastra) itu,
jika tidak dipublikasikan, tidak ada artinya. Oleh karena itu, idealnya seorang
penulis memiliki ruang publik untuk menginternalisasikan karya-karyanya. Salah
satu ruang publik itu adalah koran.
Para
penulis (sastra koran) sebenarnya tidak perlu khawatir mengirimkan karyanya ke
koran. Meskipun harus menyesuaikan dengan selera redaktur, karya yang baik
tetap akan terjaga kualitasnya. Belakangan ini beberapa koran telah berupaya
membukukan karya-karya yang pernah dimuatnya. Kompas, misalnya, bahkan telah
menerbitkan karya-karya sastra pilihannya (dalam bentuk buku) setiap tahun.
Media cetak nasional yang menyapa pembaca melalui tradisi pemuatan cerpen
setiap Minggu sejak 1967 ini telah menerbitkan antologi cerpen pilihan Kompas
mulai 1992. Nama-nama seperti Jujur Prananto, Ahmad Tohari, Umar Kayam, Putu
Wijaya, B.M. Syamsuddin, Yanusa Nugroho, dll. tercatat sebagai penulis cerpen
yang dimuat dalam buku setebal 170 halaman berjudul Kado Istimewa: Cerpen
Pilihan Kompas 1992 (Jakarta: Kompas, 1992) tersebut. Pada 2014, bahkan 24
cerpen terpilih dimuat dalam Di Tubuh Tarra, dalam Rahim Pohon: Cerpen
Pilihan Kompas 2014. Ini merupakan jumlah terbanyak untuk isi sebuah buku
antologi cerpen pilihan Kompas sejak 1992 tersebut.
Hal
yang sama juga dilakukan Riau Pos. Surat kabar ternama di Riau itu,
melalui Yayasan Sagang telah menerbitkan karya-karya pilihannya (berupa cerpen,
puisi, esai, bahkan karya jurnalistik) dalam bentuk antologi setiap
tahunnya. Anugerah Sagang 2000: Kumpulan Cerpen, Sajak, dan Esai
Riau Pos 2000 merupakan kumpulan karya sastra pertama yang dibukukan. Sejak
2000 hingga 2006, cerpen, sajak, dan esai masih terangkum dalam satu buku
(terkadang buku yang diterbitkan hanya memuat cerpen saja). Akan tetapi, mulai
2007, cerpen, puisi, esai, bahkan karya jurnalistik telah terangkum pada
masing-masing buku yang berbeda, yakni: Keranda Jenazah Ayah (Kumpulan
Cerpen Riau Pos, Pekanbaru: Yayasan Sagang, 2007); Komposisi Sunyi (Kumpulan
Puisi Riau Pos, Pekanbaru: Yayasan Sagang, 2007); Krisis Sastra Riau (Kumpulan
Esai Riau Pos, Pekanbaru: Yayasan Sagang, 2007); serta Dari Belaras ke
Semenanjung (Kumpulan Karya Jurnalistik Rida Award, Pekanbaru: Yayasan
Sagang, 2007). Hingga kini, Yayasan Sagang selalu menerbitkan buku kumpulan
tersebut secara ajek.
Upaya
penerbitan buku, sebenarnya, juga dapat dilakukan oleh penulis sendiri. Penulis
yang aktif dan produktif bisa mengumpulkan karya-karyanya yang pernah dimuat di
(berbagai) koran, lalu menerbitkannya menjadi sebuah buku kumpulan/antologi.
Hal seperti itu pernah dilakukan cerpenis Benny Arnas dan Yetti A.KA. Kedua
penulis itu mengumpulkan cerpen-cerpennya yang pernah dimuat di koran, lalu
menerbitkannya dalam sebuah antologi: Benny Arnas menghasilkan Jatuh dari
Cinta (Bandung: Grafindo, 2011), sedangkan Yetti A.KA menghasilkan Satu
Hari Bukan di Hari Minggu (Yogyakarta: Gress Publishing, 2011).
Begitu
pula yang dilakukan Dr. Junaidi dan Agus Sri Danardana. Keduanya mengumpulkan
esai-esai sastranya yang pernah dimuat di koran, lalu menerbitkannya dalam
sebuah antologi: Dr. Junaidi menerbitkan Interpretasi Dunia Sastra (berisi
11 esai analisis sastra dan 7 esai gagasan bahasa-sastra, Pekanbaru: Palagan
Press, 2009), sedangkan Agus Sri Danardana menerbitkan Pelangi Sastra:
Ulasan dan Model-model Apresiasi (Pekanbaru: Palagan Press, 2013).
Senyatanyalah,
kehadiran koran telah berandil dalam membesarkan nama penulis. Koran tidak
hanya menjadi media praktis pemuatan karya, tetapi juga menjadi media strategis
perawatan eksistensi penulis/sastrawan. Sekalipun bukan satu-satunya wadah
sastra, di Indonesia, koran masih menjadi pilihan utama penulis untuk
memublikasikan karya-karyanya. Bravo sastra koran.***
Sumber: http://www.riaupos.co/2755-spesial-sastra-koran.html#.V1zadhLH7Mw diakses pada 12 Juni 2016 pukul 13:27
Kaitan
dengan Peristiwa Roman Pergaoelan
Koran
adalah lembaran-lembaran kertas bertuliskan kabar (berita) dsb, terbagi dalam
kolom-kolom, terbit di setiap hari atau secara periodik. Seperti itu lah secara
harfiah koran diterjemahkan. Jika pada tahun yang bekisar antara 90an hingga
saat ini koran-koran besar yang terdapat di pusat kota dimaknai oleh masyarakat
sebagai wadah untuk memperkenalkan karya serta ajang mendompleng nama. Sehingga
kanonisasi sastra Indonesia terbentuk dengan sendirinya.
Hal
ini juga terjadi pada masa Balai Pustaka serta Pujangga Baru yang notabene
berpusat di Jakarta, yang memiliki bandingan karya yang berasal dari daerah.
Sumatera, terutama Sumatera Utara dan Sumatera Barat, termasuk yang paling
subur pertumbuhan dan kehidupan sastranya. Di kedua wilayah itu kehidupan pers
(surat kabar) juga sudah lama hadir sehingga memberi perkembangan sastra.
Sejumlah
penerbitan di kedua daerah itu memberikan sumbangan yang berarti bagi masyarakat
yang berarti bagi kehidupan sosial-politik pada masa-masa pra-kemerdekaan.
Fungsi jurnalistik bagi masyarakat dapat dijalankan dengan maksimal, terutama
dalam kritik sosial dan advokasi bagi masyarakat dalam berbagai bidang
kehidupan. Hal ini, didukung oleh situasi pendidikan dan ekonomi masyarakat
yang sangat berkembang. Bagi pertumbuhan sastra, sumbangan pers pada 1920-an
hingga 1930-an terletak pada muatannya cerita, baik cerita pendek maupun bersambung
(fuilleton), dan puisi yang memungkinkan terbentuknya perkenalan masyarakat
dengan karya sastra. Peran surat kabar dalam mengenalkan dan menyebarluaskan
karya sastra sangat efektif karena memang lebih murah dalam hal harga dan lebih
luas dalam hal jangkauan, sebaran dan jumlah pembacanya, dibandingkan dengan
karya sastra dalam bentuk buku (Sudarmoko, 2008: 2).
Pada
akhir 1930-an sejumlah penerbitan karya sastra di berbagai daerah mulai
mengelola penerbitannya secara khusus. Roman mulai diterbitkan secara periodik.
Ideologi yang diusung oleh penerbitan yang diusungkan oleh orang-orang pibumi
tanpa bantuan dari pemerintah dan berada di luar pusat kekuasaan Jakarta.namun
hingga kini, keberadaan penerbitan dan karya-karya di luar center of authority tersebut masih terabaikan.
Di
Bukittinggi pernah berdiri sebuah penerbitan bernama Penjiaran Ilmoe yang
menerbitkan sebuah genre roman yang disebut Roman
Pergaoelan. Penerbitan Roman Pergaoelan berlangsung selama empat tahun,
yaitu 1938-1941. Di dalam rentang masa kehadirannya, roman-roman itu
mengahadapi berbagai reaksi dan tanggapan yang diberikan oleh publik
pembacanya.
Roman
Pergaoelan dipimpin oleh Tamar Djaja yang dibantu oleh Aziz Thaib yang bekerja
sebagai redaktur, kemudian muncul juga Martha (Maisir Thaib) dan Taher Samad
sebagai anggota redaksinya. Sementara itu, B. Doice bertugas sebagai ilustrator
dan Amiroeddin Zain sebagai tenaga administrasi. Namun di jalan tengah,
tepatnya sejak edisi Marwan Djamal
karya Mahals (Mohammad Ali Al Hanafiah Lubis) 5 februari 1940, posisi
Amiroeddin digantikan oleh S. Rahmansjah, bekas pegawai administrasi N. V
Inkorba.
Roman
pergaoelan (dalam Sudarmoko, 2008: 33) adalah salah satu divisi (genre) karya
fiksi yang diterbitkan khusus oleh Penjiaran Ilmoe. Sejumlah penulis dan
pengarang dari berbagai daerah, seperti Kalimantan, Yogyakarta, Solo, Batavia
(sekarang Jakarta), Medan, dan terutama penulis dari Sumatera Barat sendiri
mengirimkan karya mereka ke penerbit Penjiaran Ilmoe. Berdasarkan beragamnya
latar belakang penulis yang meramaikan rubik tersebut, maka penerbit Penjiaran
Ilmoe merupakan penerbit yang cukup terkenal pada zamannya.
Roman
Pergaoelan diterbitkan secara periodik dua mingguan, biasanya tanggal 1 dan 20
setiap bulannya. Karena diterbitkan secara periodik, beberapa orang menyebutnya
sebagai majalah. Jumlah halaman Roman Pergaoelan sekitar 70-120 halaman. Hal
ini juga didukung oleh sasaran yang ingin dituju oleh penerbit yakni pemuda
pada masa itu.
Penerbitan
secara periodik juga ditenggarai sebagai sebuah taktik untuk merebut dan
menguasai pasar. Penerbitan berkala berlaku bagi seluruh roman yang diterbitkan
di Medan, Padang, ataupun Bukittinggi. Strategi penerbitan tersebut berbeda
dengan keadaan penerbitan sejenis pada masa setelah kemerdekaan. Penerbitan
secara periodik memang menjadi sebuah alasan untuk memperlakukan keberadaan
penerbit karena dengan demikian perputaran modal dan keuangan akan lebih
terjamin.
Dalam
penulisannya, Roman Pergaoelan memiliki ciri tersendiri berkenaan dengan bentuk
formalnya. Plot yang digunakan dalam kebanyakan roaman bersifat linier dan
memiliki patron penulisan yang hampir sama. Tentu dibeberapa roman terdapat
roman dengan plot yang rumit dan jalinan cerita yang cukup kompleks.
Kesusastraan
modern Indonesia berhutang sejarah pada jenis bacaan seperti ini. hal yang sama
juga menimpa bacaan-bacaan yang dinilai sebagai bacaan liar oleh pemegang
otoritas kekuasaan pada masa-masa awal kehidupan kesusastraan Indonesia modern,
yaitu: Balai Pustaka. Di tengah minimnya bahan bacaan, jenis bacaan ketiga
muncul di berbagai daerah di luar Jakarta, di kantong-kantong yang memiliki
tradisi dan kehidupan sastra yang cukup baik pada masa itu, seperti Makassar,
Bali, Semarang, Yogyakarta, Solo, Bandung, Medan, Bukittinggi, dan juga Padang.
Dalam situasi seperti itu, di tengah hegemoni dan kekuasaan Kesusastraan yang
diwakili oleh Pujangga Baru dan kekusastraan `pemerintah` yang diwakili oleh
Balai Pustaka, bacaan-bacaan lokal yang diusahakan oleh penerbit swasta atau
pribadi itu mengisi kekurangan. Lebih jauh, dengan kepentingan khusus, Roman
Pergaoelan memiliki nilai tambah yaitu mengisi dan membantu upaya mendidik
masyarakat lewat karya sastra yang berangkat dari, dan dimengerti oleh bahasa,
masyarakat itu sendiri (Sudarmoko, 2008: 67).
Jadi,
Roman Pergaoelan merupakan salah satu upaya untuk mendobrak pengelompokkan
karya sastra kota dan pinggiran. Karena bahwasanya karya sastra bukan dimana ia
diterbitkan melainkan esensi dari karya sastra tersebut, yang mana selain
menghibur pembaca juga memberikan katarsis bagi para penikmatnya.
Daftar
Pustaka
Sudarmoko.
2008. Roman Pergaoelan. Yogyakarta:
Insist Press.
menarik
BalasHapus