Langsung ke konten utama

S A M A ?



S a m a ?


 

 
Apa semua pria sama
Disodorkan kesempatan dan wanita cantik
Tak menolak?

Apa semua wanita sama
Akan ditinggalkan pada waktunya
Sebab tak cantik lagi?

Apa semua pria sama
Tak cukup mencintai satu wanita
Kurang?

Apa semua wanita sama
Rela badannya tak seindah masa gadis
Seusai bersalin?

Apa semua pria sama
Merasa bosan dengan hidup yang sedemikian
Cari suasana lain?

Apa semua wanita sama
Ingin dimengerti walau tak bicara sepatah kata
Menyebalkan?

Apa semua pria sama
Hanya memperjuangkan di awal
Dan pergi?

Apa semua wanita sama
Sekali cinta akan bertahan
Hingga akhir?

Apa semua pria sama
Berjanji pada wali wanita untuk setia
Dusta?

Apa semua wanita sama
Dijanjikan sehidup semati berdua
Dikhianati?

Apa pria yang meninggalkan
Rusuknya belum benar-benar lengkap?
Apa wanita yang ditinggalkan
Rusuknya belum benar-benar pindah?

Satu diantaranya terbelenggu pada sifat manusia
Tak pernah puas
Satu yang lain membiarkan dirinya hancur
Demi menyelamatkan yang lain


Sukoharjo, 20 maret 2016
8:24

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Perkenalan

Kidungku Aku Bernyanyi dalam kidung irama rindu Mencoba memahat segurat senyum Saat membuat sajak perkenalan ini Namaku Vita Lahir di Ibu kota Indonesia Pada bulan ke enam Jumlah alfabet ditambah dua tanggalnya Kebetulan lahir sunggang Kedua orang tua asli Jawa Tapi aku hanya tahu beberapa Sepi bukan berarti hilang Diam bukan berarti lupa Kadang Meskipun aku hanya setitik debu di atas karang Meskipun aku hanya satu diantara ribuan titik hujan Keindahan gerimis senja memberikanku setetes harapan Kehadiranku bukanlah yang terindah Akupun bukan yang terpenting Satu yang aku harapkan Hadirku berguna bagi sesama 09.09.14 19:24 Diiringi suara detak jam

Sastra Koran

SASTRA KORAN DAN KAITANNYA DENGAN ROMAN PERGAOELAN: PENGELOMPOKKAN KOTA DAN PINGGIRAN Sastra Koran Dessy wahyuni 28 November 2015 - 23.42 WIB Publikasi karya sastra  melalui koran sudah sangat lama terjadi di Indonesia. Hampir semua sastrawan Indonesia memanfaatkan koran sebagai media untuk “mengiklankan” karya (dan nama) mereka kepada publik. Sebut saja Seno Gumira Ajidarma, Yanusa Nugroho, Taufik Ikram Jamil, Nurzain Hae, Raudal Tanjung Banua, Marhalim Zaini, dan Fakhrunnas M.A. Jabbar (tentu masih ada sederetan nama lainnya). Berkat karya-karya korannya, nama mereka pun menjulang cakrawala. Melalui salah satu tulisannya, “Evolusi, ‘Genre’ dan Realitas Sastra Koran”, Ahmadun Yosi Herfanda menengarai bahwa sastra koran di Indonesia menemukan oasenya pada dekade ’70-an dan ’80-an. Ketika itu, karena rubrik-rubrik sastra menjamur di hampir semua surat kabar (seperti Suara Karya, Berita Buana, Kompas, Sinar Harapan, Kedaulatan Rakyat, dan Med...

Patibrata Praharsa

Surat Senja     Sepucuk surat memutuskan menetap Berisi tulisan tangan seseorang Yang rela menghabiskan 15 tahun waktunya untuk mengenalku Surat itu bertuliskan Patibrata Praharsa [1] Kubalas dengan Amin terkhusyuk Dan berharap semesta menirunya Perlahan Sang Surya tergelincir menuju ufuk barat Kutatap ia lekat dengan kedip sesekali Tak lupa kuselipkan senyum simpul untuk meringkas bahagiaku 17 maret 2016 19:34 [1] Sansekerta Patibrata = sehidup semati, Praharsa = bahagia. Patibrata Praharsa = bahagia sehidup semati.