Bagaimana mungkin jadi rasa: puisi pada barisan kata tanpa makna?
Aku pernah melihatmu pada hal-hal yang tak kau katakan: mengepul bersama asap susu panas yang baru saja kuhidangkan di meja beranda. Manusia silih berganti menyambangi: kemudian pergi dan tak kembali. Beranda ini sepi.
Di antara kepulan susu hangat dan pisang goreng ini, kau usir sepersekian ramai. Pada mulutmu, kata mulai membatasi diri. Lalu kau kini ikut sepi.
Toko di seberang jalan menghadiahi hidung aroma coklat. Kau sesapi esensi lumeran coklat dalam balutan cake dengan rasa yang sama. Di sebelahnya ada toko makhluk pasif berbulu yang sewaktu-waktu ingin kau peluk. Teddy Bear dan Big Panda berpandang-pandangan mengerutkan dahi terheran-heran. Teddy Bear dengan topi bermotif polkadot. Big Panda dengan bambu yang berdaun tiga di mulut. Tapi kau tak suka keduanya. Kau hanya menyukai lara tiada akhir. Seperti cerita yang telah tamat kemarin.
Aku ingin membuatkan sesuatu yang dapat menemani malammu saat merebah badan setelah seharian memeras pikiran. Tetapi seperti segelas susu panas yang tak kau sesap sedikit pun, aku hanyalah gelas berisi yang kau tinggalkan dan mendingin berselimut angin.
Nanti, jika bukan aku kawan hidupmu. Kau adalah serangkaian lara sekaligus tawa yang bagiku selalu ada: bukan hanya sementara. Bagiku kau tetap semesta dan aku tetap tak apa-apa.
09 Maret 2019
12.46

Komentar
Posting Komentar