Langsung ke konten utama

Kepada Roh Puisiku: Kau



Bagaimana mungkin jadi rasa: puisi pada barisan kata tanpa makna?

Aku pernah melihatmu pada hal-hal yang tak kau katakan: mengepul bersama asap susu panas yang baru saja kuhidangkan di meja beranda. Manusia silih berganti menyambangi: kemudian pergi dan tak kembali. Beranda ini sepi.

Di antara kepulan susu hangat dan pisang goreng ini, kau usir sepersekian ramai. Pada mulutmu, kata mulai membatasi diri. Lalu kau kini ikut sepi.

Toko di seberang jalan menghadiahi hidung aroma coklat. Kau sesapi esensi lumeran coklat dalam balutan cake dengan rasa yang sama. Di sebelahnya ada toko makhluk pasif berbulu yang sewaktu-waktu ingin kau peluk. Teddy Bear dan Big Panda berpandang-pandangan mengerutkan dahi terheran-heran. Teddy Bear dengan topi bermotif polkadot. Big Panda dengan bambu yang berdaun tiga di mulut. Tapi kau tak suka keduanya. Kau hanya menyukai lara tiada akhir. Seperti cerita yang telah tamat kemarin.

Aku ingin membuatkan sesuatu yang dapat menemani malammu saat merebah badan setelah seharian memeras pikiran. Tetapi seperti segelas susu panas yang tak kau sesap sedikit pun, aku hanyalah gelas berisi yang kau tinggalkan dan mendingin berselimut angin.

Nanti, jika bukan aku kawan hidupmu. Kau adalah serangkaian lara sekaligus tawa yang bagiku selalu ada: bukan hanya sementara. Bagiku kau tetap semesta dan aku tetap tak apa-apa.


09 Maret 2019
12.46

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Perkenalan

Kidungku Aku Bernyanyi dalam kidung irama rindu Mencoba memahat segurat senyum Saat membuat sajak perkenalan ini Namaku Vita Lahir di Ibu kota Indonesia Pada bulan ke enam Jumlah alfabet ditambah dua tanggalnya Kebetulan lahir sunggang Kedua orang tua asli Jawa Tapi aku hanya tahu beberapa Sepi bukan berarti hilang Diam bukan berarti lupa Kadang Meskipun aku hanya setitik debu di atas karang Meskipun aku hanya satu diantara ribuan titik hujan Keindahan gerimis senja memberikanku setetes harapan Kehadiranku bukanlah yang terindah Akupun bukan yang terpenting Satu yang aku harapkan Hadirku berguna bagi sesama 09.09.14 19:24 Diiringi suara detak jam

Sastra Koran

SASTRA KORAN DAN KAITANNYA DENGAN ROMAN PERGAOELAN: PENGELOMPOKKAN KOTA DAN PINGGIRAN Sastra Koran Dessy wahyuni 28 November 2015 - 23.42 WIB Publikasi karya sastra  melalui koran sudah sangat lama terjadi di Indonesia. Hampir semua sastrawan Indonesia memanfaatkan koran sebagai media untuk “mengiklankan” karya (dan nama) mereka kepada publik. Sebut saja Seno Gumira Ajidarma, Yanusa Nugroho, Taufik Ikram Jamil, Nurzain Hae, Raudal Tanjung Banua, Marhalim Zaini, dan Fakhrunnas M.A. Jabbar (tentu masih ada sederetan nama lainnya). Berkat karya-karya korannya, nama mereka pun menjulang cakrawala. Melalui salah satu tulisannya, “Evolusi, ‘Genre’ dan Realitas Sastra Koran”, Ahmadun Yosi Herfanda menengarai bahwa sastra koran di Indonesia menemukan oasenya pada dekade ’70-an dan ’80-an. Ketika itu, karena rubrik-rubrik sastra menjamur di hampir semua surat kabar (seperti Suara Karya, Berita Buana, Kompas, Sinar Harapan, Kedaulatan Rakyat, dan Med...

Patibrata Praharsa

Surat Senja     Sepucuk surat memutuskan menetap Berisi tulisan tangan seseorang Yang rela menghabiskan 15 tahun waktunya untuk mengenalku Surat itu bertuliskan Patibrata Praharsa [1] Kubalas dengan Amin terkhusyuk Dan berharap semesta menirunya Perlahan Sang Surya tergelincir menuju ufuk barat Kutatap ia lekat dengan kedip sesekali Tak lupa kuselipkan senyum simpul untuk meringkas bahagiaku 17 maret 2016 19:34 [1] Sansekerta Patibrata = sehidup semati, Praharsa = bahagia. Patibrata Praharsa = bahagia sehidup semati.