Hari ini genap malam ke 132 kau menjelma dingin yang merasuk ke selah-selah tulang rusukku
Membekukan segala rasa dan mengaburkan pandangan mataku
Apa semua manusia bisa berubah sewaktu-waktu?
Saat ia mau, maka berubahlah ia menjadi dingin menusuk yang perlahan menghancurkan segala kenang yang manisnya mengeroposi gigi
Singgasana yang tadinya purna di bawah ibumu telah diisi puan lain yang telah kau nilai sebaik-baiknya puan
Puan yang tak pernah mengisi malam harinya dengan tangis, melainkan senyum yang mati-matian kau hadirkan melalui kabel telepon yang transparan
Obrolan seputar hari ini dibahas tuntas, dibumbui tawa yang menggema di langit-langit kamarku
Gigi rapimu terlihat gemerlapan disinari lampu malam yang temaram
Rayumu melengkapi tawa puan yang tak sedikit pun paham tentang cerita lain yang harus karam demi cerita baru penuh bunga memabukkan
Bahagiamu, tuan. Bahagia semesta alam dengan sejuta persoalan.
1sep19
21.31

bagus isi ceritanya
BalasHapus