Langsung ke konten utama

Surat Terbuka untuk Diriku

Untukku di masa yang akan datang
Kuharap kau jauh lebih kuat dibanding saat tulisan ini
       kurangkai kata demi kata.
Kelak dimana pun kau berada
Kumau senyum indah yang jarang muncul itu
       bertengger mesra dengan atau tanpa gincu.
Sehat dan berbahagialah selalu.

Terima kasih untuk pertahanan sekuat tenaga melawan
       menerjang ego diri yang suka semena-mena.
Terima kasih untuk segala upaya mencoba
       berproses panjang menghalau rasa bosan.
Terima kasih sudah berusaha baik-baik saja
       meski seringkali berpikir untuk menyerah.
Terima kasih sudah bersyukur dengan melakukan hal-hal yang kau suka
       dengan tidak melewati batas kemampuanmu.

Nanti kau akan menemui aku pada tumpukan kertas mahakarya mentah di sudut kamarmu, kertas lembar jawaban murid-muridmu, kertas parkir, atau mungkin di balik struk total belanjaanmu.

Saat kau baca ini lagi, kuharap ratusan agenda kegiatan untuk menjadi manusia, separuhnya sudah terwujud.
Kebutuhan wisata masa lalu juga membuatmu cukup puas dan bisa kau bagi dengan sesamamu.
Terlebih, semoga kau telah dibersamai seseorang yang tidak berorientasi pada kesementaraan duniawi.

Kau hebat, kau kuat.


Bumi
02 November 2019
21.27

Komentar

  1. Kau hebat kau Kuta, terima kasih atas kesediaan dan kerja samanya untuk tetap menebar kebahagiaan.

    Terima kasih diri sendiri

    Salut salut

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Perkenalan

Kidungku Aku Bernyanyi dalam kidung irama rindu Mencoba memahat segurat senyum Saat membuat sajak perkenalan ini Namaku Vita Lahir di Ibu kota Indonesia Pada bulan ke enam Jumlah alfabet ditambah dua tanggalnya Kebetulan lahir sunggang Kedua orang tua asli Jawa Tapi aku hanya tahu beberapa Sepi bukan berarti hilang Diam bukan berarti lupa Kadang Meskipun aku hanya setitik debu di atas karang Meskipun aku hanya satu diantara ribuan titik hujan Keindahan gerimis senja memberikanku setetes harapan Kehadiranku bukanlah yang terindah Akupun bukan yang terpenting Satu yang aku harapkan Hadirku berguna bagi sesama 09.09.14 19:24 Diiringi suara detak jam

Sastra Koran

SASTRA KORAN DAN KAITANNYA DENGAN ROMAN PERGAOELAN: PENGELOMPOKKAN KOTA DAN PINGGIRAN Sastra Koran Dessy wahyuni 28 November 2015 - 23.42 WIB Publikasi karya sastra  melalui koran sudah sangat lama terjadi di Indonesia. Hampir semua sastrawan Indonesia memanfaatkan koran sebagai media untuk “mengiklankan” karya (dan nama) mereka kepada publik. Sebut saja Seno Gumira Ajidarma, Yanusa Nugroho, Taufik Ikram Jamil, Nurzain Hae, Raudal Tanjung Banua, Marhalim Zaini, dan Fakhrunnas M.A. Jabbar (tentu masih ada sederetan nama lainnya). Berkat karya-karya korannya, nama mereka pun menjulang cakrawala. Melalui salah satu tulisannya, “Evolusi, ‘Genre’ dan Realitas Sastra Koran”, Ahmadun Yosi Herfanda menengarai bahwa sastra koran di Indonesia menemukan oasenya pada dekade ’70-an dan ’80-an. Ketika itu, karena rubrik-rubrik sastra menjamur di hampir semua surat kabar (seperti Suara Karya, Berita Buana, Kompas, Sinar Harapan, Kedaulatan Rakyat, dan Med...

Patibrata Praharsa

Surat Senja     Sepucuk surat memutuskan menetap Berisi tulisan tangan seseorang Yang rela menghabiskan 15 tahun waktunya untuk mengenalku Surat itu bertuliskan Patibrata Praharsa [1] Kubalas dengan Amin terkhusyuk Dan berharap semesta menirunya Perlahan Sang Surya tergelincir menuju ufuk barat Kutatap ia lekat dengan kedip sesekali Tak lupa kuselipkan senyum simpul untuk meringkas bahagiaku 17 maret 2016 19:34 [1] Sansekerta Patibrata = sehidup semati, Praharsa = bahagia. Patibrata Praharsa = bahagia sehidup semati.