Gambar: Monumen Pancasila Sakti
Kali
kedua sowan ke Monumen Pancasila Sakti yang terletak di Jalan Raya Pondok Gede
RT.4/RW.12, Lubang Buaya, Kec. Cipayung, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota
Jakarta 13810.

Gambar:
pendopo sumur lubang buaya

Gambar: Skema Gerakan
PKI Ilegal Iramani di Purwodadi
Pertama
kali menyambangi Museum Lubang Buaya ini pada 26 Juli 2015, ditemani Rina Suryati, Resti Ria Fauzi, dan Warsini. Berempat motoran macam
bocah indie home (?).
Hari
ini, 16 November 2019, kembali mengunjungi tempat yang sama. Dengan rute yang
sama, tapi partnernya berbeda. Ditemani Jeppy Happy New Year. Ini nama aseli,
bukan kaleng-kaleng hahaha
Memasuki
gedung Museum Pengkhianatan PKI (komunis),
suasana masih sebagaimana museum pada umumnya. Berkisah tentang sepak terjang
Partai Komunis Indonesia—sebagaimana yang ada di bagian bawah Monumen
Nasional (Monas)—hanya saja, foto-foto pendukung
kejadian di berbagai tempat kurang terjaga ke-cetha-annya. Beberapa—dalam jumlah yang banyak—foto sudah hilang garis-garis
pembentuk gambarnya, sehingga yang terlihat hanya kertas foto dengan sapuan
kuning seperti kertas surat yang sudah tua usianya.
Kemudian,
alas hitam tempat penjelasan cerita dengan tinta berwarna emas juga mulai memudar, sehingga cerita jadi
sulit diterima kelengkapannya.
Debu-debu halus juga menyelimuti kayu-kayu. Adapun ketidaknyamanan tersebut
saya rasa perlu adanya perbaikan dari pihak pengelola.

Memasuki
gedung yang mengisahkan bagaimana kejadian yang menimpa 7 jenderal dan 3 korban lain,
seperti yang ada di film G30S. Ditambah lagi, ada ruang khusus barang-barang
kesayangan dan segala suatu hal yang melekat hingga akhir hayat. Bahkan, baju yang melekat
terakhir kali pun ada di ruang itu, lengkap dengan darah beliau-beliau.

Terakhir,
teruntuk para pelajar di seluruh Indonesia. Apabila kalian berkesempatan
mengunjungi tempat wisata masa lalu dimanapun tempatnya, budayakanlah membaca.
Terlebih, apabila sekolah kalian membayar tour
guide (pemandu wisata) untuk
membimbing kalian memahami cerita yang ada di dalamnya. Perhatikan dengan
seksama. Kalau perlu tanyakan hal-hal yang terlintas dalam pikiran kalian.
Berikan nutrisi baik bagi isi kepala kalian. Karena Bung Karno pernah berkata, bangsa yang besar adalah bangsa yang
menghargai sejarahnya. Jasmerah!

Komentar
Posting Komentar