1
Aku duduk pada salah satu pasang kursi di beranda rumah.
Membayangkan kau duduk menempati kursi kosong yang lain.
Bercerita tentang kerjaan
yang acap kali mengerjai.
Mengenang hal-hal manis
yang barangkali menjadi bagian kita
untuk selamanya.
Serta merajut benang-benang
yang kita sulap menjadi indah
di kemudian hari.
2
Katamu kata
yang mempertemukan kita
akan berkembang menjadi kalimat
dan akhirnya menjelma cerita.
Kutulis namamu
pada cerita
yang riuh bergemuruh layaknya kota.
Dan kau visualisasikan aku
seperti semilir angin
di cuaca terik
yang menyibak rambutmu.
Kita membahas banyak topik pembicaraan;
tentang keluarga
yang secara perlahan
kita selami,
isi buku
yang membuatku hidup
di dalamnya,
tempat yang kau sukai
dan ingin disambangi lagi,
biografi tokoh
yang banyak menginspirasi,
amanat film
yang mampu memunculkan debat,
warung makan mana
yang menyuguhkan cita rasa surgawi,
dan masih banyak lagi.
Kau suarakan pikiranmu
sembari menatap
kedalaman netraku.
Sesekali melihat ke atas
sebagai isyarat
bahwa kau sedang mengingat.
Dan aku jatuh
pada ranum sayu milikmu
yang meneduhkan itu.
3
Aku tulis sajak ini
untuk membekukan kenang
yang hening dalam ingatan.
Juga supaya kau tak lupa
bahwa aku pernah ada.
Ah, diriku dan segala rupa kenangannya.
Masih berusaha menggapaimu.
Padahal sudah tahu.
Rasa terkadang serupa borok yang menganga.
11 Juni 2019
Komentar
Posting Komentar