Langsung ke konten utama

Surat Tiga Babak untuk U

1
Aku duduk pada salah satu pasang kursi di beranda rumah.
Membayangkan kau duduk menempati kursi kosong yang lain.
Bercerita tentang kerjaan
yang acap kali mengerjai.
Mengenang hal-hal manis
yang barangkali menjadi bagian kita
untuk selamanya.
Serta merajut benang-benang
yang kita sulap menjadi indah
di kemudian hari.

2
Katamu kata
yang mempertemukan kita
akan berkembang menjadi kalimat
dan akhirnya menjelma cerita.
Kutulis namamu
pada cerita
yang riuh bergemuruh layaknya kota.
Dan kau visualisasikan aku
seperti semilir angin
di cuaca terik
yang menyibak rambutmu.

Kita membahas banyak topik pembicaraan;
tentang keluarga
yang secara perlahan
kita selami,
isi buku
yang membuatku hidup
di dalamnya,
tempat yang kau sukai
dan ingin disambangi lagi,
biografi tokoh
yang banyak menginspirasi,
amanat film
yang mampu memunculkan debat,
warung makan mana
yang menyuguhkan cita rasa surgawi,
dan masih banyak lagi.

Kau suarakan pikiranmu
sembari menatap
kedalaman netraku.
Sesekali melihat ke atas
sebagai isyarat
bahwa kau sedang mengingat.
Dan aku jatuh
pada ranum sayu milikmu
yang meneduhkan itu.

3
Aku tulis sajak ini
untuk membekukan kenang
yang hening dalam ingatan.
Juga supaya kau tak lupa
bahwa aku pernah ada.

Ah, diriku dan segala rupa kenangannya.
Masih berusaha menggapaimu.
Padahal sudah tahu.
Rasa terkadang serupa borok yang menganga.

11 Juni 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Perkenalan

Kidungku Aku Bernyanyi dalam kidung irama rindu Mencoba memahat segurat senyum Saat membuat sajak perkenalan ini Namaku Vita Lahir di Ibu kota Indonesia Pada bulan ke enam Jumlah alfabet ditambah dua tanggalnya Kebetulan lahir sunggang Kedua orang tua asli Jawa Tapi aku hanya tahu beberapa Sepi bukan berarti hilang Diam bukan berarti lupa Kadang Meskipun aku hanya setitik debu di atas karang Meskipun aku hanya satu diantara ribuan titik hujan Keindahan gerimis senja memberikanku setetes harapan Kehadiranku bukanlah yang terindah Akupun bukan yang terpenting Satu yang aku harapkan Hadirku berguna bagi sesama 09.09.14 19:24 Diiringi suara detak jam

Sastra Koran

SASTRA KORAN DAN KAITANNYA DENGAN ROMAN PERGAOELAN: PENGELOMPOKKAN KOTA DAN PINGGIRAN Sastra Koran Dessy wahyuni 28 November 2015 - 23.42 WIB Publikasi karya sastra  melalui koran sudah sangat lama terjadi di Indonesia. Hampir semua sastrawan Indonesia memanfaatkan koran sebagai media untuk “mengiklankan” karya (dan nama) mereka kepada publik. Sebut saja Seno Gumira Ajidarma, Yanusa Nugroho, Taufik Ikram Jamil, Nurzain Hae, Raudal Tanjung Banua, Marhalim Zaini, dan Fakhrunnas M.A. Jabbar (tentu masih ada sederetan nama lainnya). Berkat karya-karya korannya, nama mereka pun menjulang cakrawala. Melalui salah satu tulisannya, “Evolusi, ‘Genre’ dan Realitas Sastra Koran”, Ahmadun Yosi Herfanda menengarai bahwa sastra koran di Indonesia menemukan oasenya pada dekade ’70-an dan ’80-an. Ketika itu, karena rubrik-rubrik sastra menjamur di hampir semua surat kabar (seperti Suara Karya, Berita Buana, Kompas, Sinar Harapan, Kedaulatan Rakyat, dan Med...

Patibrata Praharsa

Surat Senja     Sepucuk surat memutuskan menetap Berisi tulisan tangan seseorang Yang rela menghabiskan 15 tahun waktunya untuk mengenalku Surat itu bertuliskan Patibrata Praharsa [1] Kubalas dengan Amin terkhusyuk Dan berharap semesta menirunya Perlahan Sang Surya tergelincir menuju ufuk barat Kutatap ia lekat dengan kedip sesekali Tak lupa kuselipkan senyum simpul untuk meringkas bahagiaku 17 maret 2016 19:34 [1] Sansekerta Patibrata = sehidup semati, Praharsa = bahagia. Patibrata Praharsa = bahagia sehidup semati.