Langsung ke konten utama

Menjelma Tempat, Lagu, dan Kursi

Aku ingin menjelma tempat dimana sepenggal kisah abadi meski nanti aku berubah
Menampung segala cerita apapun kemasannya, dari perkara obrolan ringan seputar basa-basi atau membahas sesuatu yang menyisakan sesak
Kusimpan dan kutumpahkan jika mereka membutuhkan atau tak sengaja mengundang
Sebab aku tak berjarak dan tak pernah beranjak

Aku ingin menjelma lagu-lagu yang biasa diabaikan ketika mereka mulai berbagi cerita, namun didengar ketika obrolan itu menjelma diam
Kualunkan nada sendu yang liriknya mudah dihafal agar membekas dan membangkitkan sesuatu yang mati-matian mereka lupa: dengan sengaja
Sebab aku tak apa dan akan selalu ada

Aku ingin menjelma kursi yang menyangga tubuh masing-masing mereka dan membuat nyaman layaknya ranjang
Kuayun dalam diam gugup saat bertemu seseorang yang banyak berubah di dalam, namun raganya masih sama
Kudorong agar lawan bicara merasa ditanggapi saat merangkai kata yang tlah dilatih sejak di rumah
Sebab aku tetap mencoba dan meyakini tuk merasa lega

Aku ingin menjadi rumah, tempat berpulang, meski acap kali gagal.

4 Agustus 2019
21.10

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Perkenalan

Kidungku Aku Bernyanyi dalam kidung irama rindu Mencoba memahat segurat senyum Saat membuat sajak perkenalan ini Namaku Vita Lahir di Ibu kota Indonesia Pada bulan ke enam Jumlah alfabet ditambah dua tanggalnya Kebetulan lahir sunggang Kedua orang tua asli Jawa Tapi aku hanya tahu beberapa Sepi bukan berarti hilang Diam bukan berarti lupa Kadang Meskipun aku hanya setitik debu di atas karang Meskipun aku hanya satu diantara ribuan titik hujan Keindahan gerimis senja memberikanku setetes harapan Kehadiranku bukanlah yang terindah Akupun bukan yang terpenting Satu yang aku harapkan Hadirku berguna bagi sesama 09.09.14 19:24 Diiringi suara detak jam

Sastra Koran

SASTRA KORAN DAN KAITANNYA DENGAN ROMAN PERGAOELAN: PENGELOMPOKKAN KOTA DAN PINGGIRAN Sastra Koran Dessy wahyuni 28 November 2015 - 23.42 WIB Publikasi karya sastra  melalui koran sudah sangat lama terjadi di Indonesia. Hampir semua sastrawan Indonesia memanfaatkan koran sebagai media untuk “mengiklankan” karya (dan nama) mereka kepada publik. Sebut saja Seno Gumira Ajidarma, Yanusa Nugroho, Taufik Ikram Jamil, Nurzain Hae, Raudal Tanjung Banua, Marhalim Zaini, dan Fakhrunnas M.A. Jabbar (tentu masih ada sederetan nama lainnya). Berkat karya-karya korannya, nama mereka pun menjulang cakrawala. Melalui salah satu tulisannya, “Evolusi, ‘Genre’ dan Realitas Sastra Koran”, Ahmadun Yosi Herfanda menengarai bahwa sastra koran di Indonesia menemukan oasenya pada dekade ’70-an dan ’80-an. Ketika itu, karena rubrik-rubrik sastra menjamur di hampir semua surat kabar (seperti Suara Karya, Berita Buana, Kompas, Sinar Harapan, Kedaulatan Rakyat, dan Med...

Patibrata Praharsa

Surat Senja     Sepucuk surat memutuskan menetap Berisi tulisan tangan seseorang Yang rela menghabiskan 15 tahun waktunya untuk mengenalku Surat itu bertuliskan Patibrata Praharsa [1] Kubalas dengan Amin terkhusyuk Dan berharap semesta menirunya Perlahan Sang Surya tergelincir menuju ufuk barat Kutatap ia lekat dengan kedip sesekali Tak lupa kuselipkan senyum simpul untuk meringkas bahagiaku 17 maret 2016 19:34 [1] Sansekerta Patibrata = sehidup semati, Praharsa = bahagia. Patibrata Praharsa = bahagia sehidup semati.