Tuan, kutulis sebuah puisi
di bawah temaram sore
yang melahirkan senja indah warnanya
Sepotong masa lalu yang sendu melayang mengetuk pintu ingatanku
Tak pernah mengindahkan yang masih hidup dalam dadaku
Didudukannya aku di kursi terdakwa sebagai perempuan yang tak layak mendapat balasan rasa
Kenangan betah berlama-lama, sedang aku pecundang yang dikoyak bayang-bayang sebegini rupa
Hingga detik ini, masih kugenggam rasa yang nyatanya telah memuai jadi udara
Mengenangmu seperti menunggu
Lama, semakin lama, tetapi aku tak kunjung bosan
Kasihmu seperti senja
Membekas, membara, sebentar, kemudian hilang
Penyesalan itu gencar menghantuiku
Barang tentu sesalku ini bagimu tiada arti
Maka berhentilah menghantui serta bonus berlipat yang membuatku tak mampu berdiri dengan kedua kakiku sendiri
Darimu aku belajar, perjuangan yang kunilai sia-sia memang layak dibayar tunai dengan penuh sesal dan air mata
Keegoisanku Tuan hadiahi perpisahan
Aku pikir sikapku sudah benar
Kupikir kau 'kan mengerti
Tak kusangka kini kita kadaluarsa
Ternyata dari awal harusnya kita memang tak pernah ada
Tunggu, kuusap air mataku dulu
Kini aku benar-benar kehilanganmu, namun bayangmu kulihat dimana-mana
Pada akhirnya, kita sama-sama mengerti kepada siapa hati ini mampu luruh dan patah
Tolong, berbahagialah~
Karang Satria
1 Februari 2019
17.21

Jika teringat ttg dikau, jauh di mata dekat di hati...
BalasHapus