Langsung ke konten utama

Puisi tanpa Kata Cinta




Tuan, kutulis sebuah puisi
di bawah temaram sore
yang melahirkan senja indah warnanya

Sepotong masa lalu yang sendu melayang mengetuk pintu ingatanku
Tak pernah mengindahkan yang masih hidup dalam dadaku
Didudukannya aku di kursi terdakwa sebagai perempuan yang tak layak mendapat balasan rasa
Kenangan betah berlama-lama, sedang aku pecundang yang dikoyak bayang-bayang sebegini rupa
Hingga detik ini, masih kugenggam rasa yang nyatanya telah memuai jadi udara

Mengenangmu seperti menunggu
Lama, semakin lama, tetapi aku tak kunjung bosan
Kasihmu seperti senja
Membekas, membara, sebentar, kemudian hilang

Penyesalan itu gencar menghantuiku
Barang tentu sesalku ini bagimu tiada arti
Maka berhentilah menghantui serta bonus berlipat yang membuatku tak mampu berdiri dengan kedua kakiku sendiri

Darimu aku belajar, perjuangan yang kunilai sia-sia memang layak dibayar tunai dengan penuh sesal dan air mata

Keegoisanku Tuan hadiahi perpisahan
Aku pikir sikapku sudah benar
Kupikir kau 'kan mengerti
Tak kusangka kini kita kadaluarsa
Ternyata dari awal harusnya kita memang tak pernah ada
Tunggu, kuusap air mataku dulu

Kini aku benar-benar kehilanganmu, namun bayangmu kulihat dimana-mana
Pada akhirnya, kita sama-sama mengerti kepada siapa hati ini mampu luruh dan patah
Tolong, berbahagialah~



Karang Satria
1 Februari 2019
17.21

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Perkenalan

Kidungku Aku Bernyanyi dalam kidung irama rindu Mencoba memahat segurat senyum Saat membuat sajak perkenalan ini Namaku Vita Lahir di Ibu kota Indonesia Pada bulan ke enam Jumlah alfabet ditambah dua tanggalnya Kebetulan lahir sunggang Kedua orang tua asli Jawa Tapi aku hanya tahu beberapa Sepi bukan berarti hilang Diam bukan berarti lupa Kadang Meskipun aku hanya setitik debu di atas karang Meskipun aku hanya satu diantara ribuan titik hujan Keindahan gerimis senja memberikanku setetes harapan Kehadiranku bukanlah yang terindah Akupun bukan yang terpenting Satu yang aku harapkan Hadirku berguna bagi sesama 09.09.14 19:24 Diiringi suara detak jam

Sastra Koran

SASTRA KORAN DAN KAITANNYA DENGAN ROMAN PERGAOELAN: PENGELOMPOKKAN KOTA DAN PINGGIRAN Sastra Koran Dessy wahyuni 28 November 2015 - 23.42 WIB Publikasi karya sastra  melalui koran sudah sangat lama terjadi di Indonesia. Hampir semua sastrawan Indonesia memanfaatkan koran sebagai media untuk “mengiklankan” karya (dan nama) mereka kepada publik. Sebut saja Seno Gumira Ajidarma, Yanusa Nugroho, Taufik Ikram Jamil, Nurzain Hae, Raudal Tanjung Banua, Marhalim Zaini, dan Fakhrunnas M.A. Jabbar (tentu masih ada sederetan nama lainnya). Berkat karya-karya korannya, nama mereka pun menjulang cakrawala. Melalui salah satu tulisannya, “Evolusi, ‘Genre’ dan Realitas Sastra Koran”, Ahmadun Yosi Herfanda menengarai bahwa sastra koran di Indonesia menemukan oasenya pada dekade ’70-an dan ’80-an. Ketika itu, karena rubrik-rubrik sastra menjamur di hampir semua surat kabar (seperti Suara Karya, Berita Buana, Kompas, Sinar Harapan, Kedaulatan Rakyat, dan Med...

Patibrata Praharsa

Surat Senja     Sepucuk surat memutuskan menetap Berisi tulisan tangan seseorang Yang rela menghabiskan 15 tahun waktunya untuk mengenalku Surat itu bertuliskan Patibrata Praharsa [1] Kubalas dengan Amin terkhusyuk Dan berharap semesta menirunya Perlahan Sang Surya tergelincir menuju ufuk barat Kutatap ia lekat dengan kedip sesekali Tak lupa kuselipkan senyum simpul untuk meringkas bahagiaku 17 maret 2016 19:34 [1] Sansekerta Patibrata = sehidup semati, Praharsa = bahagia. Patibrata Praharsa = bahagia sehidup semati.