Langsung ke konten utama

Puisi Perkenalan



Kidungku



Aku
Bernyanyi dalam kidung irama rindu
Mencoba memahat segurat senyum
Saat membuat sajak perkenalan ini

Namaku Vita
Lahir di Ibu kota Indonesia
Pada bulan ke enam
Jumlah alfabet ditambah dua tanggalnya
Kebetulan lahir sunggang
Kedua orang tua asli Jawa
Tapi aku hanya tahu beberapa

Sepi bukan berarti hilang
Diam bukan berarti lupa
Kadang
Meskipun aku hanya setitik debu di atas karang
Meskipun aku hanya satu diantara ribuan titik hujan
Keindahan gerimis senja memberikanku setetes harapan
Kehadiranku bukanlah yang terindah
Akupun bukan yang terpenting
Satu yang aku harapkan
Hadirku berguna bagi sesama



09.09.14
19:24
Diiringi suara detak jam

Komentar

  1. Saya tumbuh dengan satu keyakinan bahwa di muka bumi ini Tuhan menciptakan manusia dengan bakat alam masing-masing. Diantara bakat alam itu, adalah bakat merangkai kata, yang mungkin dalam kategori kecerdasan termasuk kecerdasan linguistik. Dan kau salah satu manusia istimewa itu, perkenalanmuu lewat puisi berhasil membuatku bersyukur, telah berkenalan denganmu. “jumlah alfabet ditambah dua”—memberi klu yang menggelitik membuatku benar-benar menghitung dng jari jumlah alfabet yg tak kuingat itu. Sial, kau membuatku aktif untuk terus mengenalmu.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sastra Koran

SASTRA KORAN DAN KAITANNYA DENGAN ROMAN PERGAOELAN: PENGELOMPOKKAN KOTA DAN PINGGIRAN Sastra Koran Dessy wahyuni 28 November 2015 - 23.42 WIB Publikasi karya sastra  melalui koran sudah sangat lama terjadi di Indonesia. Hampir semua sastrawan Indonesia memanfaatkan koran sebagai media untuk “mengiklankan” karya (dan nama) mereka kepada publik. Sebut saja Seno Gumira Ajidarma, Yanusa Nugroho, Taufik Ikram Jamil, Nurzain Hae, Raudal Tanjung Banua, Marhalim Zaini, dan Fakhrunnas M.A. Jabbar (tentu masih ada sederetan nama lainnya). Berkat karya-karya korannya, nama mereka pun menjulang cakrawala. Melalui salah satu tulisannya, “Evolusi, ‘Genre’ dan Realitas Sastra Koran”, Ahmadun Yosi Herfanda menengarai bahwa sastra koran di Indonesia menemukan oasenya pada dekade ’70-an dan ’80-an. Ketika itu, karena rubrik-rubrik sastra menjamur di hampir semua surat kabar (seperti Suara Karya, Berita Buana, Kompas, Sinar Harapan, Kedaulatan Rakyat, dan Med...

Patibrata Praharsa

Surat Senja     Sepucuk surat memutuskan menetap Berisi tulisan tangan seseorang Yang rela menghabiskan 15 tahun waktunya untuk mengenalku Surat itu bertuliskan Patibrata Praharsa [1] Kubalas dengan Amin terkhusyuk Dan berharap semesta menirunya Perlahan Sang Surya tergelincir menuju ufuk barat Kutatap ia lekat dengan kedip sesekali Tak lupa kuselipkan senyum simpul untuk meringkas bahagiaku 17 maret 2016 19:34 [1] Sansekerta Patibrata = sehidup semati, Praharsa = bahagia. Patibrata Praharsa = bahagia sehidup semati.