Tanpa Alpa
Izinkan kulukiskan kau
pada kata
kata yang akan
kukumpulkan dan
kurangkai semampuku
di kertas baru di
sudut ruangan itu.
Kharisma yang tak
mampu kuceritakan
bagaimana bentuknya.
Atau mungkin memang
tak berbentuk.
Masterpiece Abstrak.
Yang jelas kharismamu
hanya mampu
kujelaskan lewat
senyuman malu
yang menggilaimu.
Selalu.
Pawakan tegapmu
membuat banyak dercak kagum
sekaligus ingin
memiliki.
Merasakan hangatnya.
Atau sekedar ingin
menyentuh.
Kau memiliki dahan
kuat yang dapat menjagaku.
Dahan dengan sepuluh
ranting kenyamanan.
Yang mampu mengeja
sungai
dan membaca dua bukit
kecil di wajahku.
Akar sempurna yang
setia mengantarku tanpa keluh.
Dua akar yang
fleksibel tapi kuat itu juga bergelayut
dan kadang menapaki
tanah.
Akar itu juga
berfungsi menjadi kompas peneduh.
Sebab membimbingku
menuju jalan yang benar-benar lurus.
Senja itu merekah di
pipi tirus
yang selalu ingin
kutarik
agar pipi tembamku
turun menularimu.
Kau tak pernah kesal
sewaktu kumelakukan itu.
Kau hanya membalas
dengan tawa
dan usapan lembut di
kepalaku dan penuh cinta.
Ulat bulu subur kembar
melekat pada wajah
yang bertugas sebagai
penegas.
Kamera terbaik
pemancar ketenangan
kau miliki sepasang.
Lubang keluarnya
konsonan dan vokal
yang tak pernah bosan
menghibur dengan lelucon
lelucon ajaib yang
entah darimana asalnya.
Entah Tuhan yang Maha
Asik
atau mungkin sewaktu
Ia merancangmu
seakan tak boleh ada
yang kurang.
Sehingga Ia luput
memberimu kurang suatu apa.
18 Februari 2016
21:24
Pelukisan tentang sebuah master piece abstrak mu sebenarnya cukup mewakili tentang persaanku juga. Ke alpaan yang kau asumsikan mengenai ‘dia’ yang kau puja juga menjadi keniiscayaan untukku. Aku juga ingin menggambarkan bagaimana ‘dia’ yang hadir di hidupku menjadi sebuah anugerah bagiku. “senja itu merekah di pipi tirus yang selalu ingin ku tarik agar pipi tembemku turun menularimu”— sebenarnya membuatku sedikit tergelitik. Aku sempat ingat bagaimana pernah kau bilang aku serupa ‘bawang bombai’ itu sebab pipi tembemku. Tapi tak usah kau pikir, itu hanya sebuah leluconku yang kubangun. Hihihi
BalasHapusGood job ta, kau berhasil melukiskan ke alpaan master piecemu pun punyaku.