Perbedaan Penggambaran
Tokoh Perempuan
Menurut Persepektif
Pengarang Perempuan dan Laki-laki
Sinopsis Cerpen Pemintal Kegelapan Karya Intan
Paramaditha
Kisah seorang ibu yang gemar bercerita mengenai
perempuan yang menghuni rumah mereka. Tokoh Aku yang diceritakan oleh ibunya
memiliki fantasi mengenai cerita-cerita misteri. Ia gemar mencari tahu sesuatu
yang selama ini didengarnya.
Cerita itu menceritakan tentang seorang hantu
perempuan yang berada di loteng sebuah rumah yang selalu duduk di depan pemintal.
Hantu perempuan itu dapat merubah wujudnya menjadi manusia pada siang hari.
Ketika ia mengubah dirinya menjadi wanita cantik ada seorang pemburu. Mereka
bertemu di padang ilalang hanya untuk berbagi cerita. Ketika perempuan itu
hadir, binatang menjadi sedemikian gelisahnya. Suatu hari lelaki itu pamit
untuk menjelajahi hutan untuk mencari singa berbulu emas.
Di suatu sore, mereka bersandar di bawah pohon
berbicara tentang mimpi-mimpi indah. Menjadi istri si pemburu, hidup di tepi
sungai, memiliki rumah kecil namun selalu terdengar gemericik air dan suara
tawa anak-anak. Si Hantu Perempuan begitu terbuai dengan perbicaraan tersebut
hingga lupa bahwa malam telah datang. Hantu perempuan itu lupa kalau hanya
siang hari yang dapat merubah rupanya. Si Pemburu terkejut dan pergi
meninggalkan Hantu Perempuan sendirian.
Hantu Perempuan sangat terpukul, ia murka. Kemudian
ia terbang dari rumah ke rumah, membuat gaduh dan membuat bayi-bayi menangis.
Ia sadar dengan merusak ia tak mampu mematikan rasa cinta kepada Si Pemburu. Ia
teringat bahwa kekasihnya tak mempunyai selimut tebal untuk melindungi dari
dinginnya hutan. Hantu Perempuan itu memutuskan tempat yang gelap untuk membuat
selimut dari kegelapan. Dan loteng rumah Ibu dan anak perempuannya itulah yang
ditetapinya.
Tokoh Aku berhenti memikirkan tentang cerita yang
dibuat ibunya pada saat orangtuanya memutuskan bercerai. Usianya genap 13
tahun. Ibu selalu melakukan tugasnya sebagai seorang ibu dan bertambah peran
menjadi seorang ayah yang harus memenuhi kebutuhan untuk bertahan hidup. Ketika
tokoh Aku berusia 16 tahun, Ibu memiliki kekasih yang selalu berganti-ganti.
Dan karena status sosialnya yang merupakan seorang janda, tetangga pun sering
membicarakannya.
Seiring bertambahnya usia, tokoh Aku semakin yakin
bahwa Ibunya menyimpan banyak rahasia, termasuk penyakit yang selama ini
menggerogotinya. Suatu hari Ibu mengajak tokoh Aku ke loteng rumahnya. Ibu
memberikan suatu pernyataan bahwa dirinyalah Hantu Pemintal Kegelapan itu.
Penggambaran Tokoh Perempuan
pada Cerpen “Pemintal
Kegelapan” Karya Intan Paramaditha
Tokoh
aku:
1. Gadis kecil yang memiliki rasa ingin
tahu yang tinggi
2. Gadis kecil dengan daya imajinasi “liar”
3. Anak yang kreatif
4. Seiring bertambahnya usia, menjadi
mengerti keadaan ibunya yang sebenarnya
Tokoh
Ibu:
1. Perempuan yang luar biasa tegar
2. Seorang ibu yang baik
3. Menutupi kesakitannya demi anaknya
4. Memendam perasaannya seorang diri
Penggambaran sosok perempuan
oleh Intan Paramaditha lebih cenderung menggambarkan perempuan yang benar-benar
perempuan. Maksudnya, masih dianggap sebagai sosok yang termarjinalkan bahkan
mengalami diskriminasi secara sosial di dalam masyarakat. Dalam hal ini, status
sosialnya yang merupakan seorang janda.
Kemudian penggambaran
perempuan yang lain ialah dalam kategori psikologis yang terdapat dalam cerpen Pemintal Kegelapan ada aktivitas
menangis di tengah malam dan membanting piring akan menyatakan adanya tekanan
dalam diri tokoh. Namun di balik citranya sebagai perempuan yang “lemah” akan
menimbulkan suatu tindakan yang luar biasa, sebagai contoh menjadi single parent bertanggung jawab
menanggung kebutuhan anaknya. Namun di sisi lain perempuan yang digambarkan
juga tidak meninggalkan tugasnya sebagai seorang ibu.
Sinopsis Cerpen R A S A Karya Putu Wijaya
Bercerita
tentang seorang ayah yang kagum saat melihat ada doktor muda yang cerdas
sekaligus cantik. Kekagumannya tersebut membuat konflik dalam keluarga
kecilnya. Sang Anak yang sedang menempuh pendidikan untuk mencapai gelar
sarjananya merasa di banding-bandingkan oleh sikap sang ayah tersebut.
Keesokan harinya sang anak
yang bernama Ami tidak keluar kamar untuk sarapan bersama. Kemudian sang ayah
khawatir dengan keadaan putrinya tersebut. Pintu kamarnya dikunci dan istrinya
memberitahu bahwa Ami sakit. Sang ayah yang merasa bersalah pergi ke warung
dekat rumah untuk membeli obat tablet kunyah untuk maag dan langsung pulang.
Sesampainya di rumah
ternyata kamar Ami telah terbuka dan Ami tidak ada di kamar. Istrinya menjawab
bahwa Ami pergi belajar di rumah temannya. Setelah lama menunggu dan kemudian
larut malam, Ami tak kunjung pulang. Ayah kembali mengkhawatirkan putrinya dan
merasa sangat bersalah atas sikapnya.
Ketika sampai di rumah teman
Ami, putrinya itu kaget melihat ayahnya. Ayah meminta Ami untuk pulang dengan
alasan ibunya sakit. Ami yang mendengar berita tersebut khawatir dan matanya
berair, dan segera mutuskan untuk menuruti permintaan ayahnya untuk gegas
pulang.
Saat di perjalan menuju
rumah, ayah blak-blakan meminta maaf bahwa ia telah berbohong. Ami tertawa mendengar
kata-kata ayahnya. Rupanya selama ini ayah salah sangka, yang sebenarnya marah
bukanlah Ami melainkan ibunya. Ami tidak keluar kamar dan pergi belajar di
rumah temannya Rani sebab disuruh ibunya.
Setibanya di depan rumah
ternyata ibu tidak tertidur pulas seperti yang diingat ayah ketika pergi
menjemput Ami. Melainkan istrinya duduk di depan rumah dan menunggu ayah
pulang.
Penggambaran Tokoh Perempuan
pada Cerpen “R A S A” Karya Putu Wijaya
Tokoh
Ami:
1.
Anak yang berani mengutarakan perasaan
2. Menilai sesuatu tidak
gegabah
3. Berpikiran terbuka
Tokoh
Ibu:
1. Perempuan yang pencemburu
2. Seorang ibu yang pengertian
3. Terbiasa menyimpan
4. penyayang
Penggambaran sosok perempuan
oleh Putu Wijaya yang notabennya adalah pengarang laki-laki lebih cenderung
menggambarkan perempuan yang membangun negeri. Maksudnya, citra perempuan yang
digambarkan dianggap sebagai perempuan yang memiliki kekuatan untuk membuat
negeri ini bangkit dari kegelapan dan membuat perubahan besar-besaran sebab
perempuan ialah cahaya.
Selain itu, perempuan juga
digambarkan sebagai perempuan yang masih belum bisa mengungkapkan apa yang
dirasakannya secara terang-terangan, melainkan dengan menyimpannya sendirian.
Namun di lain sisi ada sosok perempuan yang berani mengutarakan perasaannya,
karena tuntutan zaman.
Komentar
Posting Komentar