Langsung ke konten utama

Apresiasi Nonton Teater



Apresiasi Menonton Pertunjukan
Drama Rumah dalam Diri Karya Yusril

Pengantar
Konsep yang diangkat dalam pementasan drama berjudul Rumah dalam Diri karya Yusril ini adalah Paco-paco. Pak Yusril selaku penulis naskah, sutradara, sekaligus pemain menamakan paco-paco yang berasal dari akar kata bahasa Minangkabau yang memiliki arti percahan-percahan kejadian yang disusun sedemikian rupa sehingga menjadi kesatuan cerita yang apik. Tujuan dari pementasan ini tidak hanya sekedar tontonan yang bersifat menghibur, karena di dalam pementasan ini ada keinginan dari Pak Yusril untuk meneror imajinasi penonton yang diharapkan tidak hanya berhenti pada kegiatan menonton saja, melainkan adanya kelanjutan dari tontonan yang disajikan untuk direnungi dan dicari jalan keluarnya.
Tema-tema yang diambil oleh Pak Yusril tidak asing dalam kehidupan sehari-hari manusia pada umumnya—dari suku manapun—sehingga dalam hal ini meliputi masyarakat luas. Kenapa dalam tulisan ini menyebutkan tema-tema, dikarenakan konsep yang diusung oleh Pak Yusril ialah menyatukan percahan-percahan kejadian yang akrab dengan kehidupan yang dikemas dalam satu pertunjukan. Sebagaimana penulis pada umumnya, seorang penulis akan mengangkat suatu kegelisahan yang dirasakannya melalui tulisan-tulisannya. Karena Pak Yusril merupakan salah satu putra Minangkabau, maka karyanya ini memuat nilai budaya Minangkabau yang sarat akan makna kehidupan.
Tema-tema cerita pementasan Rumah dalam Diri ini terinspirasi dari filosofi pintu, tangga, kursi, dan pagar. Tema tersebut berangkat dari perasaan tidak nyaman dengan adanya teror yang berada di luar rumah. Pak Yusril memiliki pengalaman dengan ibunya, ketika berada di luar rumah Pak Yusril diminta masuk ke dalam rumah oleh ibunya. Pada saat ibunya berada di dalam rumah maka ibunya merasa sangat aman.
Pak Yusril berpendapat bahwa dunia adalah lukisan Tuhan yang "gagal" sehingga seniman memiliki keinginan untuk menciptakan kembali dan menyempurnakan. Inilah yang mengantar Pak Yusril menulis cerita dalam bentuk puisi, cerpen, ataupun naskah drama.


Tubuh dalam Rumah dalam Diri
Sebelumnya pementasan Rumah dalam Diri ini telah disajikan, namun Pak Yusril tidak andil dalam pementasan tersebut. Sedangkan pada pementasan (16/05) tersebut beliau tampil sebagai salah satu aktor yang resah dengan berita-berita yang muncul di media massa. Jelas antara pertunjukan yang pertama dan kedua berbeda, kemudian Pak Yusril berkata bahwa pertunjukan teater setiap saat bisa berubah, sebab seni pertunjukan bukanlah kaset yang apabila diputar berkali-kali akan selalu menampilkan hal yang sama, tetapi seni pertunjukan akan menghasilkan sesuatu yang baru pada setiap pertunjukannya.
Dalam pemilihan aktor, Pak Yusril melakukan konservasi terhadap para calon pemainnya. Beliau senang menyaksikan pertunjukkan dan mencari sosok yang tepat untuk memerankan tokoh yang sudah ada dibayangannya. Setelah menemukan pemain atau aktor, langkah selanjutnya yang dilakukan oleh Pak Yusril adalah melakukan pendekatan secara personal kepada masing-masing pemain. Karena berangkat dari profesinya sebagai seorang guru yang memiliki kebiasaan mencoba mengenali setiap murid tidak bisa dilepaskannya begitu saja, maka hal ini juga diterapkan dalam mendekati para pemain. Kemudian dilakukan latihan intens yang juga menampung sudut pandang para pemain yang tentunya tidak kosong budaya dalam seni pertunjukan tersebut karena pemilihan pemain berdasarkan seleksi.
Seperti yang disinggung sebelumnya bahwa Pak Yusril menampung sudut pandang para pemain terhadap naskah drama yang disodorkan. Hal ini bermaksud untuk melihat sejauh mana pemain dapat mengekspresikan naskah tersebut. Kemudian Pak Yusril mengadakan diskusi yang bertujuan untuk mengeksekusi gerak seperti apa yang akan ditampilkan. Berdasarkan penjabaran tersebut maka Pak Yusril memadukan teori Gordon Craig yang dalam ini terlihat pada hasil sempurna pada pertunjukan drama Rumah dalam Diri yang sesuai keinginannya dan teori Laissez Faire yang terlihat pada kecenderungan pemain yang kreatif dalam mengekspresikan suatu naskah drama.
Rupanya pengertian aktor yang diacu oleh Pak Yusril kental dengan pernyataan Plato sebelum tarikh Masehi yang menyebut aktor dengan sebutan hypokrites—yang artinya adalah penafsir naskah drama lewat peragaan tubuh-roh-jiwa—yang tersua dalam bukunya berjudul Republik.
 Dialog yang terdapat dalam pertunjukan tidak terlalu dominan, namun dalam drama Rumah dalam Diri ini lebih menekankan pada gerakan tubuh para pemain yang apik dan penonton sering kali dibuat terkesima dengan gerakan-gerakan yang dihasilkan. Banyak sekali scene yang dilakukan secara bersamaan, sehingga penonton secara tidak langsung “dipaksa” untuk fokus dengan tontonan supaya pesan yang ingin disampaikan tidak luput.
Tata dan teknik pentas yang meliputi tata busana, tata rias, tata dekor, tata cahaya, tata musik, dsb. menurut saya sudah bagus sekali, karena sudah sesuai dengan nalar dasar. Busana yang dikenakan oleh para pemain memberikan penegasan pada karakter tokoh dalam naskah. Tata dekor yang juga memperjelas suatu percahan kejadian juga mendukung jalannya pertunjukan. Penataan cahaya juga pas karena datangnya cahaya tepat dengan adegan yang akan ditampilkan. Tetapi, menurut saya unsur yang paling kuat selain acting aktor atau pemain adalah tata musik pendukung pertunjukan tersebut. Karena dengan adanya pendukung musik yang sesuai dengan gerakan akan menimbulkan ketegangan ataupun ketenangan yang dirasakan penonton menjadi klimaks berdasarkan apa yang disaksikannya.


Tulisan saat semester 6

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Perkenalan

Kidungku Aku Bernyanyi dalam kidung irama rindu Mencoba memahat segurat senyum Saat membuat sajak perkenalan ini Namaku Vita Lahir di Ibu kota Indonesia Pada bulan ke enam Jumlah alfabet ditambah dua tanggalnya Kebetulan lahir sunggang Kedua orang tua asli Jawa Tapi aku hanya tahu beberapa Sepi bukan berarti hilang Diam bukan berarti lupa Kadang Meskipun aku hanya setitik debu di atas karang Meskipun aku hanya satu diantara ribuan titik hujan Keindahan gerimis senja memberikanku setetes harapan Kehadiranku bukanlah yang terindah Akupun bukan yang terpenting Satu yang aku harapkan Hadirku berguna bagi sesama 09.09.14 19:24 Diiringi suara detak jam

Sastra Koran

SASTRA KORAN DAN KAITANNYA DENGAN ROMAN PERGAOELAN: PENGELOMPOKKAN KOTA DAN PINGGIRAN Sastra Koran Dessy wahyuni 28 November 2015 - 23.42 WIB Publikasi karya sastra  melalui koran sudah sangat lama terjadi di Indonesia. Hampir semua sastrawan Indonesia memanfaatkan koran sebagai media untuk “mengiklankan” karya (dan nama) mereka kepada publik. Sebut saja Seno Gumira Ajidarma, Yanusa Nugroho, Taufik Ikram Jamil, Nurzain Hae, Raudal Tanjung Banua, Marhalim Zaini, dan Fakhrunnas M.A. Jabbar (tentu masih ada sederetan nama lainnya). Berkat karya-karya korannya, nama mereka pun menjulang cakrawala. Melalui salah satu tulisannya, “Evolusi, ‘Genre’ dan Realitas Sastra Koran”, Ahmadun Yosi Herfanda menengarai bahwa sastra koran di Indonesia menemukan oasenya pada dekade ’70-an dan ’80-an. Ketika itu, karena rubrik-rubrik sastra menjamur di hampir semua surat kabar (seperti Suara Karya, Berita Buana, Kompas, Sinar Harapan, Kedaulatan Rakyat, dan Med...

Patibrata Praharsa

Surat Senja     Sepucuk surat memutuskan menetap Berisi tulisan tangan seseorang Yang rela menghabiskan 15 tahun waktunya untuk mengenalku Surat itu bertuliskan Patibrata Praharsa [1] Kubalas dengan Amin terkhusyuk Dan berharap semesta menirunya Perlahan Sang Surya tergelincir menuju ufuk barat Kutatap ia lekat dengan kedip sesekali Tak lupa kuselipkan senyum simpul untuk meringkas bahagiaku 17 maret 2016 19:34 [1] Sansekerta Patibrata = sehidup semati, Praharsa = bahagia. Patibrata Praharsa = bahagia sehidup semati.