Langsung ke konten utama

Postingan

Melukai Cermin

Akhir-akhir ini aku melalui hari-hari--dalam masa karantina--dengan banyak bertanya. Tapi tanyaku selalu menemui jalan buntu melulu. Orang-orang silih berganti datang dan pergi. Kisah yang lalu berputar tanpa kukehendaki. Mencabik rasa jadi serpihan kecil yang berserakan di relung hati. Ingatan yang melintas seenaknya tak pernah bisa dicegah, apalagi dilarang, layaknya hakikat manusia. Gelas berisi sirup prambos kulihat seperti darah. Barangkali tubuhku kurang cairan berwarna merah. Sebab definisi bahagia kian hari kian semu saja tanpa arah. Terjebak sendiri dalam labirin rumit berselimut gelap yang menghantar sakit tanpa obat. Gerbang nestapa menyambut diri yang merasa hilang pada suatu yang telah lama lewat. Aku harus bergegas membuang pertanyaan yang terus-menerus muncul. Membebaskan diri dari pertanyaan, "mengapa kemarin dan seterusnya harus terjadi?" Berusaha memahami setiap makna dalam setiap lorong kehidupan. Jika semua yang kulihat hanya berup...

Ribuan Tanya

Malam ini, terlepas dari berbagai kesulitan dan kesibukan, aku ingin sejenak duduk diam untuk mengabadikanmu dalam sesuatu yang bisa kamu baca di kala senggang. Aku pernah cinta pada seseorang yang membuat rasaku membabi buta, kemudian padam dalam sekejap. Tolong jangan bangun megah harap dalam sukmaku jika tak ada niatan untuk menetap. Jika selamanya ini berjudul sia-sia. Mengapa kau dihadirkan-Nya? Bagaimana bisa aku mencintai seseorang yang bahkan aku tak tahu siapa dan bagaimana mawujudmu? Di malam lain, aku selalu berandai-andai, seperti apa rasanya mewujudkan obrolan-obrolan jauh kita. Pada kesempatan kali kesekian, aku acap kali gagal memahami bentuk maksudmu, hingga aku abai pada sia-sia dari kehadiran semu yang tercipta. Aku begitu takut jika besok kubuka mata dan ternyata kamu memang benar-benar tak ada. Persis ketika kuberpikir bahwa sesuatu yang maya akan sirna, bukan nyata. Kehadiranmu hanya berupa ketikan dan suara: maya. Tapi mengapa kekhawatiran dan r...

Tugas Manusia

Pandemi kian hari kian menjadi Mengurung diri untuk kebaikan negeri Bumi diliputi sepi dan ngeri Kejahatan membabi-buta karena di rumah tak ada sesuap nasi Tak ada seorang pun peduli Hari ini Ibu di Serang mati Sudah beberapa hari hanya air yang mengisi Anak masih balita juga butuh asi Suami tak bisa bekerja sebagai pemulung plastik lagi Bumi bisa sedikit bernapas memperbaiki diri Dari ulah tangan jahil yang beranggapan tidak akan mati Menyakiti dan mengeksploitasi guna menyokong kebahagiaan semu setiap hari Awan dilingkupi pencemaran udara yang menghilangkan rona biru langit asri Kemacetan membuahkan polusi suara yang tak pernah tahu caranya berhenti Juga air yang tercemar sampah hasil maha karya manusia tak berperi Sejatinya Tuhan ingin mengingatkan tanda-tanda kuasa-Nya Bahwa semua yang hidup akan mati pada akhirnya Tugas manusia adalah menjadi manusia Menjaga dan membersamai kehidupan yang sejogyanya Bukankah manusia adalah utusan yang diciptakan sempurna? Pe...

s'il te plait

Pukul satu, semua anggota keluarga sudah terlelap, tinggal aku yang masih terjaga. Dibersamai lirik-lirik sedih, kutatap layar gawaiku. Acuh dengan kantuk yang menarik-narik mataku. Jari-jemari masih mengetik kata-kata. Memberi makan rasa penasaran yang justru bersemangat kala dini hari. Melihat-lihat cerita-cerita ataupun unggahan foto teman-teman, pacarnya teman, mantan, pacarnya mantan, juga banyak orang lainnya. Melihat fruktuatif siklus hidup mereka. Tetiba merasa khawatir melihat diri yang masih gini-gini saja. Khawatir dengan kegagalan-kegagalan kali kesekian yang sudah jenuh kulewati. Apa aku tidak pantas mendapatkan sesuatu yang juga dimiliki orang lain, mungkin dalam bentuk yang lain? Kutampilkan layar hitam pada layar gawaiku. Pertanda tak akan kupenuhi sinar di wajahku lagi. Memikirkan tentang perjalanan panjang yang telah kulewati. Tak jarang dianggap tidak menyenangkan. Meninggalkan kenangan atau pelajaran. Kemudian tersadar, bahwa hidup bukan perk...

Perjalanan Menuju Kotamu

Di gerbong khusus perempuan, di dalam kereta menuju pemberhentian stasiun kotamu. Aku menangkap mimpi-mimpi penumpang lain yang nampak semrawut. Pemandangan di luar kereta yang menggambarkan kepalamu--berisi banyak urusan yang mungkin tak ada aku di dalamnya. Kau dibesarkan di kota yang terbuat dari hingar-bingar pembangunan yang menyala 24 jam, tempat cantik yang menjual feed instagram, orang-orang yang bisa bertatap dan berbincang tapi lebih memilih bercumbu dengan gawai, wajah orang-orang yang kehilangan keceriaan, makanan yang dingin karena orang sibuk mengunggah hasil foto dan memberi tanggapan atas komentar yang didapat, juga pengumuman orang mati di masjid yang tak pandang usia. Aku bisa membuatkanmu ribuan puisi paling abu yang dapat kauteguk kapan saja ketika terik dan malam sebagai waktu yang tepat untuk mengisi ulang air mata. Keretaku sebentar lagi akan tuntas mengantarku menuju kotamu, jantungku menjerit lebih kencang seperti bel masuk sekolah pukul tujuh. ...

Jika Nanti

Jika nanti kita bukan lagi kita, ingatlah bahwa sayangku hanya berubah dikadarnya, rasa sayangnya tetap sama. Melalui gesekan lembut dedaunan yang mengalun saat kamu berteduh dari teriknya sang Surya. Atau lewat air mineral yang membasahi tenggorokanmu. Melalui bulir-bulir keringat di keningmu yang kau seka dengan punggung tangan yang selalu ingin kugenggam. Dari suara samar orang-orang yang berlalu-lalang dengan atau tanpa tujuan. Dan kala malam semangkuk sup hangat sebagai menu makan malammu tersaji mengepul halus. Juga dari segala hal yang membuatmu teralihkan bahwa pedih-perih yang telah lalu, kini tak sesakit dulu, nanti rasaku dikit demi sedikit kan membalut luka itu. Jika nanti aku mangkat pada rumah abadi setelah kehidupan ini. Berjanjilah untuk tetap menjadi manusia sebagaimana mestinya. Memiliki senyum yang sampai mati membawa jutaan kupu-kupu ke dalam rongga pernapasanku. Karena, tanpa ada tanpa kita, sejatinya semua fana. Melalui kata hampir yang dipaksa mentas se...

Samudera

Malam ini aku ingin bercerita tentang lelaki bernama Samudera. Aku lupa pasti awal mula kamu sapa aku via sosial media. Bercakap tentang siapa diri dan kisah-kisah yang pernah dialami. Percakapan berlanjut sebagai kawan bertukar cerita hari-hari. Sampai muncul pertanyaan, "kapan bertemu?" Tentu itu tak keluar dari jari-jemariku ataupun -mu. Setahun berlalu, keberanian untuk meringkas jarak tak jua nyata. Ketidakpastian kian hari kian besar menganga. Kuredam hasrat bertatap langsung dan temu tak pernah tercipta. Alasan-alasan seakan dicipta tuk membentuk jarak yang jauh. Aku kehabisan sabar dan memilih hilang bersama waktu. Kalau saja kamu paham, seberapa sering aku menahan diri. Kamu pasti mengerti. Sebelum ada kamu, aku sendiri. Sekarang pun aku harus terbiasa sendiri. Tak ada pesan ucapan pengingat waktu, isi ulang semangat sebelum mengajar, khawatir karena hilang beberapa jam, telepon  panjang tentang tema-tema politik dan pekerjaan, juga tak ada pert...