Langsung ke konten utama

s'il te plait




Pukul satu, semua anggota keluarga sudah terlelap, tinggal aku yang masih terjaga.

Dibersamai lirik-lirik sedih, kutatap layar gawaiku. Acuh dengan kantuk yang menarik-narik mataku.

Jari-jemari masih mengetik kata-kata. Memberi makan rasa penasaran yang justru bersemangat kala dini hari. Melihat-lihat cerita-cerita ataupun unggahan foto teman-teman, pacarnya teman, mantan, pacarnya mantan, juga banyak orang lainnya.

Melihat fruktuatif siklus hidup mereka. Tetiba merasa khawatir melihat diri yang masih gini-gini saja. Khawatir dengan kegagalan-kegagalan kali kesekian yang sudah jenuh kulewati. Apa aku tidak pantas mendapatkan sesuatu yang juga dimiliki orang lain, mungkin dalam bentuk yang lain?

Kutampilkan layar hitam pada layar gawaiku. Pertanda tak akan kupenuhi sinar di wajahku lagi. Memikirkan tentang perjalanan panjang yang telah kulewati. Tak jarang dianggap tidak menyenangkan. Meninggalkan kenangan atau pelajaran. Kemudian tersadar, bahwa hidup bukan perkara perlombaan.

Suatu hari nanti, mungkin aku sudah tak punya waktu memikirkan kekhawatiran-kekhawatiran yang berulang-ulang ini. Karena, jawaban dari segala pertanyaanku dijawab Tuhan dengan menghadirkan seseorang yang benar-benar  diutus membawa kebahagiaan. Semoga.

11 April 2020
20.36

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Perkenalan

Kidungku Aku Bernyanyi dalam kidung irama rindu Mencoba memahat segurat senyum Saat membuat sajak perkenalan ini Namaku Vita Lahir di Ibu kota Indonesia Pada bulan ke enam Jumlah alfabet ditambah dua tanggalnya Kebetulan lahir sunggang Kedua orang tua asli Jawa Tapi aku hanya tahu beberapa Sepi bukan berarti hilang Diam bukan berarti lupa Kadang Meskipun aku hanya setitik debu di atas karang Meskipun aku hanya satu diantara ribuan titik hujan Keindahan gerimis senja memberikanku setetes harapan Kehadiranku bukanlah yang terindah Akupun bukan yang terpenting Satu yang aku harapkan Hadirku berguna bagi sesama 09.09.14 19:24 Diiringi suara detak jam

Sastra Koran

SASTRA KORAN DAN KAITANNYA DENGAN ROMAN PERGAOELAN: PENGELOMPOKKAN KOTA DAN PINGGIRAN Sastra Koran Dessy wahyuni 28 November 2015 - 23.42 WIB Publikasi karya sastra  melalui koran sudah sangat lama terjadi di Indonesia. Hampir semua sastrawan Indonesia memanfaatkan koran sebagai media untuk “mengiklankan” karya (dan nama) mereka kepada publik. Sebut saja Seno Gumira Ajidarma, Yanusa Nugroho, Taufik Ikram Jamil, Nurzain Hae, Raudal Tanjung Banua, Marhalim Zaini, dan Fakhrunnas M.A. Jabbar (tentu masih ada sederetan nama lainnya). Berkat karya-karya korannya, nama mereka pun menjulang cakrawala. Melalui salah satu tulisannya, “Evolusi, ‘Genre’ dan Realitas Sastra Koran”, Ahmadun Yosi Herfanda menengarai bahwa sastra koran di Indonesia menemukan oasenya pada dekade ’70-an dan ’80-an. Ketika itu, karena rubrik-rubrik sastra menjamur di hampir semua surat kabar (seperti Suara Karya, Berita Buana, Kompas, Sinar Harapan, Kedaulatan Rakyat, dan Med...

Patibrata Praharsa

Surat Senja     Sepucuk surat memutuskan menetap Berisi tulisan tangan seseorang Yang rela menghabiskan 15 tahun waktunya untuk mengenalku Surat itu bertuliskan Patibrata Praharsa [1] Kubalas dengan Amin terkhusyuk Dan berharap semesta menirunya Perlahan Sang Surya tergelincir menuju ufuk barat Kutatap ia lekat dengan kedip sesekali Tak lupa kuselipkan senyum simpul untuk meringkas bahagiaku 17 maret 2016 19:34 [1] Sansekerta Patibrata = sehidup semati, Praharsa = bahagia. Patibrata Praharsa = bahagia sehidup semati.