Pukul satu, semua anggota keluarga sudah terlelap, tinggal aku yang masih terjaga.
Dibersamai lirik-lirik sedih, kutatap layar gawaiku. Acuh dengan kantuk yang menarik-narik mataku.
Jari-jemari masih mengetik kata-kata. Memberi makan rasa penasaran yang justru bersemangat kala dini hari. Melihat-lihat cerita-cerita ataupun unggahan foto teman-teman, pacarnya teman, mantan, pacarnya mantan, juga banyak orang lainnya.
Melihat fruktuatif siklus hidup mereka. Tetiba merasa khawatir melihat diri yang masih gini-gini saja. Khawatir dengan kegagalan-kegagalan kali kesekian yang sudah jenuh kulewati. Apa aku tidak pantas mendapatkan sesuatu yang juga dimiliki orang lain, mungkin dalam bentuk yang lain?
Kutampilkan layar hitam pada layar gawaiku. Pertanda tak akan kupenuhi sinar di wajahku lagi. Memikirkan tentang perjalanan panjang yang telah kulewati. Tak jarang dianggap tidak menyenangkan. Meninggalkan kenangan atau pelajaran. Kemudian tersadar, bahwa hidup bukan perkara perlombaan.
Suatu hari nanti, mungkin aku sudah tak punya waktu memikirkan kekhawatiran-kekhawatiran yang berulang-ulang ini. Karena, jawaban dari segala pertanyaanku dijawab Tuhan dengan menghadirkan seseorang yang benar-benar diutus membawa kebahagiaan. Semoga.
11 April 2020
20.36

Komentar
Posting Komentar