Langsung ke konten utama

Tugas Manusia

Pandemi kian hari kian menjadi
Mengurung diri untuk kebaikan negeri
Bumi diliputi sepi dan ngeri
Kejahatan membabi-buta karena di rumah tak ada sesuap nasi
Tak ada seorang pun peduli

Hari ini Ibu di Serang mati
Sudah beberapa hari hanya air yang mengisi
Anak masih balita juga butuh asi
Suami tak bisa bekerja sebagai pemulung plastik lagi

Bumi bisa sedikit bernapas memperbaiki diri
Dari ulah tangan jahil yang beranggapan tidak akan mati
Menyakiti dan mengeksploitasi guna menyokong kebahagiaan semu setiap hari
Awan dilingkupi pencemaran udara yang menghilangkan rona biru langit asri
Kemacetan membuahkan polusi suara yang tak pernah tahu caranya berhenti
Juga air yang tercemar sampah hasil maha karya manusia tak berperi

Sejatinya Tuhan ingin mengingatkan tanda-tanda kuasa-Nya
Bahwa semua yang hidup akan mati pada akhirnya
Tugas manusia adalah menjadi manusia
Menjaga dan membersamai kehidupan yang sejogyanya
Bukankah manusia adalah utusan yang diciptakan sempurna?
Perenungan panjang lebih dari sebulan ini semoga menjadi pembelajaran paling berarti bahwa hidup hanya titipan yang suatu hari akan diminta kembali.

21 April 2020
23.27

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Perkenalan

Kidungku Aku Bernyanyi dalam kidung irama rindu Mencoba memahat segurat senyum Saat membuat sajak perkenalan ini Namaku Vita Lahir di Ibu kota Indonesia Pada bulan ke enam Jumlah alfabet ditambah dua tanggalnya Kebetulan lahir sunggang Kedua orang tua asli Jawa Tapi aku hanya tahu beberapa Sepi bukan berarti hilang Diam bukan berarti lupa Kadang Meskipun aku hanya setitik debu di atas karang Meskipun aku hanya satu diantara ribuan titik hujan Keindahan gerimis senja memberikanku setetes harapan Kehadiranku bukanlah yang terindah Akupun bukan yang terpenting Satu yang aku harapkan Hadirku berguna bagi sesama 09.09.14 19:24 Diiringi suara detak jam

Sastra Koran

SASTRA KORAN DAN KAITANNYA DENGAN ROMAN PERGAOELAN: PENGELOMPOKKAN KOTA DAN PINGGIRAN Sastra Koran Dessy wahyuni 28 November 2015 - 23.42 WIB Publikasi karya sastra  melalui koran sudah sangat lama terjadi di Indonesia. Hampir semua sastrawan Indonesia memanfaatkan koran sebagai media untuk “mengiklankan” karya (dan nama) mereka kepada publik. Sebut saja Seno Gumira Ajidarma, Yanusa Nugroho, Taufik Ikram Jamil, Nurzain Hae, Raudal Tanjung Banua, Marhalim Zaini, dan Fakhrunnas M.A. Jabbar (tentu masih ada sederetan nama lainnya). Berkat karya-karya korannya, nama mereka pun menjulang cakrawala. Melalui salah satu tulisannya, “Evolusi, ‘Genre’ dan Realitas Sastra Koran”, Ahmadun Yosi Herfanda menengarai bahwa sastra koran di Indonesia menemukan oasenya pada dekade ’70-an dan ’80-an. Ketika itu, karena rubrik-rubrik sastra menjamur di hampir semua surat kabar (seperti Suara Karya, Berita Buana, Kompas, Sinar Harapan, Kedaulatan Rakyat, dan Med...

Patibrata Praharsa

Surat Senja     Sepucuk surat memutuskan menetap Berisi tulisan tangan seseorang Yang rela menghabiskan 15 tahun waktunya untuk mengenalku Surat itu bertuliskan Patibrata Praharsa [1] Kubalas dengan Amin terkhusyuk Dan berharap semesta menirunya Perlahan Sang Surya tergelincir menuju ufuk barat Kutatap ia lekat dengan kedip sesekali Tak lupa kuselipkan senyum simpul untuk meringkas bahagiaku 17 maret 2016 19:34 [1] Sansekerta Patibrata = sehidup semati, Praharsa = bahagia. Patibrata Praharsa = bahagia sehidup semati.