Langsung ke konten utama

Ribuan Tanya




Malam ini, terlepas dari berbagai kesulitan dan kesibukan, aku ingin sejenak duduk diam untuk mengabadikanmu dalam sesuatu yang bisa kamu baca di kala senggang.

Aku pernah cinta pada seseorang yang membuat rasaku membabi buta, kemudian padam dalam sekejap. Tolong jangan bangun megah harap dalam sukmaku jika tak ada niatan untuk menetap.

Jika selamanya ini berjudul sia-sia. Mengapa kau dihadirkan-Nya?

Bagaimana bisa aku mencintai seseorang yang bahkan aku tak tahu siapa dan bagaimana mawujudmu?

Di malam lain, aku selalu berandai-andai, seperti apa rasanya mewujudkan obrolan-obrolan jauh kita.

Pada kesempatan kali kesekian, aku acap kali gagal memahami bentuk maksudmu, hingga aku abai pada sia-sia dari kehadiran semu yang tercipta.

Aku begitu takut jika besok kubuka mata dan ternyata kamu memang benar-benar tak ada. Persis ketika kuberpikir bahwa sesuatu yang maya akan sirna, bukan nyata.

Kehadiranmu hanya berupa ketikan dan suara: maya. Tapi mengapa kekhawatiran dan ribuan tanyaku menimbulkan luka?

14 Mei 2020
23.24

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Perkenalan

Kidungku Aku Bernyanyi dalam kidung irama rindu Mencoba memahat segurat senyum Saat membuat sajak perkenalan ini Namaku Vita Lahir di Ibu kota Indonesia Pada bulan ke enam Jumlah alfabet ditambah dua tanggalnya Kebetulan lahir sunggang Kedua orang tua asli Jawa Tapi aku hanya tahu beberapa Sepi bukan berarti hilang Diam bukan berarti lupa Kadang Meskipun aku hanya setitik debu di atas karang Meskipun aku hanya satu diantara ribuan titik hujan Keindahan gerimis senja memberikanku setetes harapan Kehadiranku bukanlah yang terindah Akupun bukan yang terpenting Satu yang aku harapkan Hadirku berguna bagi sesama 09.09.14 19:24 Diiringi suara detak jam

Sastra Koran

SASTRA KORAN DAN KAITANNYA DENGAN ROMAN PERGAOELAN: PENGELOMPOKKAN KOTA DAN PINGGIRAN Sastra Koran Dessy wahyuni 28 November 2015 - 23.42 WIB Publikasi karya sastra  melalui koran sudah sangat lama terjadi di Indonesia. Hampir semua sastrawan Indonesia memanfaatkan koran sebagai media untuk “mengiklankan” karya (dan nama) mereka kepada publik. Sebut saja Seno Gumira Ajidarma, Yanusa Nugroho, Taufik Ikram Jamil, Nurzain Hae, Raudal Tanjung Banua, Marhalim Zaini, dan Fakhrunnas M.A. Jabbar (tentu masih ada sederetan nama lainnya). Berkat karya-karya korannya, nama mereka pun menjulang cakrawala. Melalui salah satu tulisannya, “Evolusi, ‘Genre’ dan Realitas Sastra Koran”, Ahmadun Yosi Herfanda menengarai bahwa sastra koran di Indonesia menemukan oasenya pada dekade ’70-an dan ’80-an. Ketika itu, karena rubrik-rubrik sastra menjamur di hampir semua surat kabar (seperti Suara Karya, Berita Buana, Kompas, Sinar Harapan, Kedaulatan Rakyat, dan Med...

Patibrata Praharsa

Surat Senja     Sepucuk surat memutuskan menetap Berisi tulisan tangan seseorang Yang rela menghabiskan 15 tahun waktunya untuk mengenalku Surat itu bertuliskan Patibrata Praharsa [1] Kubalas dengan Amin terkhusyuk Dan berharap semesta menirunya Perlahan Sang Surya tergelincir menuju ufuk barat Kutatap ia lekat dengan kedip sesekali Tak lupa kuselipkan senyum simpul untuk meringkas bahagiaku 17 maret 2016 19:34 [1] Sansekerta Patibrata = sehidup semati, Praharsa = bahagia. Patibrata Praharsa = bahagia sehidup semati.