Langsung ke konten utama

Melukai Cermin



Akhir-akhir ini aku melalui hari-hari--dalam masa karantina--dengan banyak bertanya. Tapi tanyaku selalu menemui jalan buntu melulu.

Orang-orang silih berganti datang dan pergi. Kisah yang lalu berputar tanpa kukehendaki. Mencabik rasa jadi serpihan kecil yang berserakan di relung hati.

Ingatan yang melintas seenaknya tak pernah bisa dicegah, apalagi dilarang, layaknya hakikat manusia.

Gelas berisi sirup prambos kulihat seperti darah. Barangkali tubuhku kurang cairan berwarna merah. Sebab definisi bahagia kian hari kian semu saja tanpa arah.

Terjebak sendiri dalam labirin rumit berselimut gelap yang menghantar sakit tanpa obat. Gerbang nestapa menyambut diri yang merasa hilang pada suatu yang telah lama lewat.

Aku harus bergegas membuang pertanyaan yang terus-menerus muncul. Membebaskan diri dari pertanyaan, "mengapa kemarin dan seterusnya harus terjadi?" Berusaha memahami setiap makna dalam setiap lorong kehidupan. Jika semua yang kulihat hanya berupa kesedihan, kutanamkan antitesis bahwa aku telah berhasil melewatinya. Meski dengan cabik di sana, lebam di sini, juga luka dimana-mana. Tak terlihat, namun perih luar biasa. Tak usah sedih berlarut lagi. Bila esok hari telah berganti dan aku masih bisa menyambut hari, kan kutanyai aku dengan pertanyaan pengganti.

"Bagaimana tidurmu?"

"Nyenyakkah semalam?"

"Mimpi apa?"

"Nggak mimpi buruk kan?"

"Setelah solat subuh mau melakukan kegiatan apa?"

"Berjemur berapa lama hari ini?"

"Sarapan apa?"

Lalu aku yang paling aku berkata lembut yang menenangkan.


: Menertawai hidup kadang juga perlu, wajah cemberutmu melukai cermin dihadapanmu.

31 Mei 2020
23.04

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Perkenalan

Kidungku Aku Bernyanyi dalam kidung irama rindu Mencoba memahat segurat senyum Saat membuat sajak perkenalan ini Namaku Vita Lahir di Ibu kota Indonesia Pada bulan ke enam Jumlah alfabet ditambah dua tanggalnya Kebetulan lahir sunggang Kedua orang tua asli Jawa Tapi aku hanya tahu beberapa Sepi bukan berarti hilang Diam bukan berarti lupa Kadang Meskipun aku hanya setitik debu di atas karang Meskipun aku hanya satu diantara ribuan titik hujan Keindahan gerimis senja memberikanku setetes harapan Kehadiranku bukanlah yang terindah Akupun bukan yang terpenting Satu yang aku harapkan Hadirku berguna bagi sesama 09.09.14 19:24 Diiringi suara detak jam

Sastra Koran

SASTRA KORAN DAN KAITANNYA DENGAN ROMAN PERGAOELAN: PENGELOMPOKKAN KOTA DAN PINGGIRAN Sastra Koran Dessy wahyuni 28 November 2015 - 23.42 WIB Publikasi karya sastra  melalui koran sudah sangat lama terjadi di Indonesia. Hampir semua sastrawan Indonesia memanfaatkan koran sebagai media untuk “mengiklankan” karya (dan nama) mereka kepada publik. Sebut saja Seno Gumira Ajidarma, Yanusa Nugroho, Taufik Ikram Jamil, Nurzain Hae, Raudal Tanjung Banua, Marhalim Zaini, dan Fakhrunnas M.A. Jabbar (tentu masih ada sederetan nama lainnya). Berkat karya-karya korannya, nama mereka pun menjulang cakrawala. Melalui salah satu tulisannya, “Evolusi, ‘Genre’ dan Realitas Sastra Koran”, Ahmadun Yosi Herfanda menengarai bahwa sastra koran di Indonesia menemukan oasenya pada dekade ’70-an dan ’80-an. Ketika itu, karena rubrik-rubrik sastra menjamur di hampir semua surat kabar (seperti Suara Karya, Berita Buana, Kompas, Sinar Harapan, Kedaulatan Rakyat, dan Med...

Patibrata Praharsa

Surat Senja     Sepucuk surat memutuskan menetap Berisi tulisan tangan seseorang Yang rela menghabiskan 15 tahun waktunya untuk mengenalku Surat itu bertuliskan Patibrata Praharsa [1] Kubalas dengan Amin terkhusyuk Dan berharap semesta menirunya Perlahan Sang Surya tergelincir menuju ufuk barat Kutatap ia lekat dengan kedip sesekali Tak lupa kuselipkan senyum simpul untuk meringkas bahagiaku 17 maret 2016 19:34 [1] Sansekerta Patibrata = sehidup semati, Praharsa = bahagia. Patibrata Praharsa = bahagia sehidup semati.