Akhir-akhir ini aku melalui hari-hari--dalam masa karantina--dengan banyak bertanya. Tapi tanyaku selalu menemui jalan buntu melulu.
Orang-orang silih berganti datang dan pergi. Kisah yang lalu berputar tanpa kukehendaki. Mencabik rasa jadi serpihan kecil yang berserakan di relung hati.
Ingatan yang melintas seenaknya tak pernah bisa dicegah, apalagi dilarang, layaknya hakikat manusia.
Gelas berisi sirup prambos kulihat seperti darah. Barangkali tubuhku kurang cairan berwarna merah. Sebab definisi bahagia kian hari kian semu saja tanpa arah.
Terjebak sendiri dalam labirin rumit berselimut gelap yang menghantar sakit tanpa obat. Gerbang nestapa menyambut diri yang merasa hilang pada suatu yang telah lama lewat.
Aku harus bergegas membuang pertanyaan yang terus-menerus muncul. Membebaskan diri dari pertanyaan, "mengapa kemarin dan seterusnya harus terjadi?" Berusaha memahami setiap makna dalam setiap lorong kehidupan. Jika semua yang kulihat hanya berupa kesedihan, kutanamkan antitesis bahwa aku telah berhasil melewatinya. Meski dengan cabik di sana, lebam di sini, juga luka dimana-mana. Tak terlihat, namun perih luar biasa. Tak usah sedih berlarut lagi. Bila esok hari telah berganti dan aku masih bisa menyambut hari, kan kutanyai aku dengan pertanyaan pengganti.
"Bagaimana tidurmu?"
"Nyenyakkah semalam?"
"Mimpi apa?"
"Nggak mimpi buruk kan?"
"Setelah solat subuh mau melakukan kegiatan apa?"
"Berjemur berapa lama hari ini?"
"Sarapan apa?"
Lalu aku yang paling aku berkata lembut yang menenangkan.
: Menertawai hidup kadang juga perlu, wajah cemberutmu melukai cermin dihadapanmu.
31 Mei 2020
23.04

Pengennya dia yang menyakan hal-hal itu ...
BalasHapus