Langsung ke konten utama

Jika Nanti



Jika nanti kita bukan lagi kita, ingatlah bahwa sayangku hanya berubah dikadarnya, rasa sayangnya tetap sama.

Melalui gesekan lembut dedaunan yang mengalun saat kamu berteduh dari teriknya sang Surya. Atau lewat air mineral yang membasahi tenggorokanmu. Melalui bulir-bulir keringat di keningmu yang kau seka dengan punggung tangan yang selalu ingin kugenggam. Dari suara samar orang-orang yang berlalu-lalang dengan atau tanpa tujuan. Dan kala malam semangkuk sup hangat sebagai menu makan malammu tersaji mengepul halus. Juga dari segala hal yang membuatmu teralihkan bahwa pedih-perih yang telah lalu, kini tak sesakit dulu, nanti rasaku dikit demi sedikit kan membalut luka itu.

Jika nanti aku mangkat pada rumah abadi setelah kehidupan ini. Berjanjilah untuk tetap menjadi manusia sebagaimana mestinya. Memiliki senyum yang sampai mati membawa jutaan kupu-kupu ke dalam rongga pernapasanku. Karena, tanpa ada tanpa kita, sejatinya semua fana.

Melalui kata hampir yang dipaksa mentas sebelum puas. Saat gemintang tak terlihat karena tertutup polusi udara yang kian mencekik. Atau kala hujan yang turun berlebihan dituding sebagai pengakibat banjir bandang. Barangkali serupa tulisan Goethe yang mengajak kawula muda mati di usia dini. Dan Chairil Anwar yang ingin hidup seribu tahun lagi dengan penyakit TBC yang kian memperpendek usia yang menjadikannya tiada. Dari segala ironi, nanti kamu akan paham bahwa hidup kadang tak sesuai rencana seperti obrolan kita hingga menembus langit perkara masa depan serupa padang ilalang yang gersang.


09 Maret 2020
21.17

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Perkenalan

Kidungku Aku Bernyanyi dalam kidung irama rindu Mencoba memahat segurat senyum Saat membuat sajak perkenalan ini Namaku Vita Lahir di Ibu kota Indonesia Pada bulan ke enam Jumlah alfabet ditambah dua tanggalnya Kebetulan lahir sunggang Kedua orang tua asli Jawa Tapi aku hanya tahu beberapa Sepi bukan berarti hilang Diam bukan berarti lupa Kadang Meskipun aku hanya setitik debu di atas karang Meskipun aku hanya satu diantara ribuan titik hujan Keindahan gerimis senja memberikanku setetes harapan Kehadiranku bukanlah yang terindah Akupun bukan yang terpenting Satu yang aku harapkan Hadirku berguna bagi sesama 09.09.14 19:24 Diiringi suara detak jam

Sastra Koran

SASTRA KORAN DAN KAITANNYA DENGAN ROMAN PERGAOELAN: PENGELOMPOKKAN KOTA DAN PINGGIRAN Sastra Koran Dessy wahyuni 28 November 2015 - 23.42 WIB Publikasi karya sastra  melalui koran sudah sangat lama terjadi di Indonesia. Hampir semua sastrawan Indonesia memanfaatkan koran sebagai media untuk “mengiklankan” karya (dan nama) mereka kepada publik. Sebut saja Seno Gumira Ajidarma, Yanusa Nugroho, Taufik Ikram Jamil, Nurzain Hae, Raudal Tanjung Banua, Marhalim Zaini, dan Fakhrunnas M.A. Jabbar (tentu masih ada sederetan nama lainnya). Berkat karya-karya korannya, nama mereka pun menjulang cakrawala. Melalui salah satu tulisannya, “Evolusi, ‘Genre’ dan Realitas Sastra Koran”, Ahmadun Yosi Herfanda menengarai bahwa sastra koran di Indonesia menemukan oasenya pada dekade ’70-an dan ’80-an. Ketika itu, karena rubrik-rubrik sastra menjamur di hampir semua surat kabar (seperti Suara Karya, Berita Buana, Kompas, Sinar Harapan, Kedaulatan Rakyat, dan Med...

Patibrata Praharsa

Surat Senja     Sepucuk surat memutuskan menetap Berisi tulisan tangan seseorang Yang rela menghabiskan 15 tahun waktunya untuk mengenalku Surat itu bertuliskan Patibrata Praharsa [1] Kubalas dengan Amin terkhusyuk Dan berharap semesta menirunya Perlahan Sang Surya tergelincir menuju ufuk barat Kutatap ia lekat dengan kedip sesekali Tak lupa kuselipkan senyum simpul untuk meringkas bahagiaku 17 maret 2016 19:34 [1] Sansekerta Patibrata = sehidup semati, Praharsa = bahagia. Patibrata Praharsa = bahagia sehidup semati.