Jika nanti kita bukan lagi kita, ingatlah bahwa sayangku hanya berubah dikadarnya, rasa sayangnya tetap sama.
Melalui gesekan lembut dedaunan yang mengalun saat kamu berteduh dari teriknya sang Surya. Atau lewat air mineral yang membasahi tenggorokanmu. Melalui bulir-bulir keringat di keningmu yang kau seka dengan punggung tangan yang selalu ingin kugenggam. Dari suara samar orang-orang yang berlalu-lalang dengan atau tanpa tujuan. Dan kala malam semangkuk sup hangat sebagai menu makan malammu tersaji mengepul halus. Juga dari segala hal yang membuatmu teralihkan bahwa pedih-perih yang telah lalu, kini tak sesakit dulu, nanti rasaku dikit demi sedikit kan membalut luka itu.
Jika nanti aku mangkat pada rumah abadi setelah kehidupan ini. Berjanjilah untuk tetap menjadi manusia sebagaimana mestinya. Memiliki senyum yang sampai mati membawa jutaan kupu-kupu ke dalam rongga pernapasanku. Karena, tanpa ada tanpa kita, sejatinya semua fana.
Melalui kata hampir yang dipaksa mentas sebelum puas. Saat gemintang tak terlihat karena tertutup polusi udara yang kian mencekik. Atau kala hujan yang turun berlebihan dituding sebagai pengakibat banjir bandang. Barangkali serupa tulisan Goethe yang mengajak kawula muda mati di usia dini. Dan Chairil Anwar yang ingin hidup seribu tahun lagi dengan penyakit TBC yang kian memperpendek usia yang menjadikannya tiada. Dari segala ironi, nanti kamu akan paham bahwa hidup kadang tak sesuai rencana seperti obrolan kita hingga menembus langit perkara masa depan serupa padang ilalang yang gersang.
09 Maret 2020
21.17

Komentar
Posting Komentar