Langsung ke konten utama

Perjalanan Menuju Kotamu




Di gerbong khusus perempuan, di dalam kereta menuju pemberhentian stasiun kotamu. Aku menangkap mimpi-mimpi penumpang lain yang nampak semrawut. Pemandangan di luar kereta yang menggambarkan kepalamu--berisi banyak urusan yang mungkin tak ada aku di dalamnya.

Kau dibesarkan di kota yang terbuat dari hingar-bingar pembangunan yang menyala 24 jam, tempat cantik yang menjual feed instagram, orang-orang yang bisa bertatap dan berbincang tapi lebih memilih bercumbu dengan gawai, wajah orang-orang yang kehilangan keceriaan, makanan yang dingin karena orang sibuk mengunggah hasil foto dan memberi tanggapan atas komentar yang didapat, juga pengumuman orang mati di masjid yang tak pandang usia.

Aku bisa membuatkanmu ribuan puisi paling abu yang dapat kauteguk kapan saja ketika terik dan malam sebagai waktu yang tepat untuk mengisi ulang air mata. Keretaku sebentar lagi akan tuntas mengantarku menuju kotamu, jantungku menjerit lebih kencang seperti bel masuk sekolah pukul tujuh.

Jika saja pertemuan yang selalu membuatku gusar adalah anak panah. Maka, akan kubuat ia meluncur ke langit dan tak kembali ke bumi.

Dan pada akhirnya,

kukirimkan bisikan rindu melalui angin sepoi yang akan membelaimu melalui celah-celah jendela rumahmu.


17 Maret 2020
21:18

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Perkenalan

Kidungku Aku Bernyanyi dalam kidung irama rindu Mencoba memahat segurat senyum Saat membuat sajak perkenalan ini Namaku Vita Lahir di Ibu kota Indonesia Pada bulan ke enam Jumlah alfabet ditambah dua tanggalnya Kebetulan lahir sunggang Kedua orang tua asli Jawa Tapi aku hanya tahu beberapa Sepi bukan berarti hilang Diam bukan berarti lupa Kadang Meskipun aku hanya setitik debu di atas karang Meskipun aku hanya satu diantara ribuan titik hujan Keindahan gerimis senja memberikanku setetes harapan Kehadiranku bukanlah yang terindah Akupun bukan yang terpenting Satu yang aku harapkan Hadirku berguna bagi sesama 09.09.14 19:24 Diiringi suara detak jam

Sastra Koran

SASTRA KORAN DAN KAITANNYA DENGAN ROMAN PERGAOELAN: PENGELOMPOKKAN KOTA DAN PINGGIRAN Sastra Koran Dessy wahyuni 28 November 2015 - 23.42 WIB Publikasi karya sastra  melalui koran sudah sangat lama terjadi di Indonesia. Hampir semua sastrawan Indonesia memanfaatkan koran sebagai media untuk “mengiklankan” karya (dan nama) mereka kepada publik. Sebut saja Seno Gumira Ajidarma, Yanusa Nugroho, Taufik Ikram Jamil, Nurzain Hae, Raudal Tanjung Banua, Marhalim Zaini, dan Fakhrunnas M.A. Jabbar (tentu masih ada sederetan nama lainnya). Berkat karya-karya korannya, nama mereka pun menjulang cakrawala. Melalui salah satu tulisannya, “Evolusi, ‘Genre’ dan Realitas Sastra Koran”, Ahmadun Yosi Herfanda menengarai bahwa sastra koran di Indonesia menemukan oasenya pada dekade ’70-an dan ’80-an. Ketika itu, karena rubrik-rubrik sastra menjamur di hampir semua surat kabar (seperti Suara Karya, Berita Buana, Kompas, Sinar Harapan, Kedaulatan Rakyat, dan Med...

Patibrata Praharsa

Surat Senja     Sepucuk surat memutuskan menetap Berisi tulisan tangan seseorang Yang rela menghabiskan 15 tahun waktunya untuk mengenalku Surat itu bertuliskan Patibrata Praharsa [1] Kubalas dengan Amin terkhusyuk Dan berharap semesta menirunya Perlahan Sang Surya tergelincir menuju ufuk barat Kutatap ia lekat dengan kedip sesekali Tak lupa kuselipkan senyum simpul untuk meringkas bahagiaku 17 maret 2016 19:34 [1] Sansekerta Patibrata = sehidup semati, Praharsa = bahagia. Patibrata Praharsa = bahagia sehidup semati.