Malam ini aku ingin bercerita tentang lelaki bernama Samudera.
Aku lupa pasti awal mula kamu sapa aku via sosial media.
Bercakap tentang siapa diri dan kisah-kisah yang pernah dialami.
Percakapan berlanjut sebagai kawan bertukar cerita hari-hari.
Sampai muncul pertanyaan, "kapan bertemu?"
Tentu itu tak keluar dari jari-jemariku ataupun -mu.
Setahun berlalu, keberanian untuk meringkas jarak tak jua nyata.
Ketidakpastian kian hari kian besar menganga.
Kuredam hasrat bertatap langsung dan temu tak pernah tercipta.
Alasan-alasan seakan dicipta tuk membentuk jarak yang jauh.
Aku kehabisan sabar dan memilih hilang bersama waktu.
Kalau saja kamu paham, seberapa sering aku menahan diri.
Kamu pasti mengerti.
Sebelum ada kamu, aku sendiri.
Sekarang pun aku harus terbiasa sendiri.
Tak ada pesan ucapan pengingat waktu, isi ulang semangat sebelum mengajar, khawatir karena hilang beberapa jam, telepon panjang tentang tema-tema politik dan pekerjaan, juga tak ada pertengkaran tentang hal kecil yang sering kali kuada-adakan.
Kini semua itu berada di dalam box bernama kenangan.
Kunamaimu Samudera, karena sejatinya kita dekat, tapi ternyata kamu tak memiliki ujung keberanian.
Tugasmu saat ini, menjadi baik-baik saja setelah ini.
Mungkin bukan aku orang yang kamu cari selama ini.
Suatu hari nanti, akan tiba masanya kita melamun dan teringat kisah sia-sia ini.
Meski kita tak lagi kita.
08 Maret 2020
20:23

Ada satu muara cerita dimana ketika semakin banyak kita mengeluarkan energi untuk melupakan, justru alur-alur cerita yang pernah ada akan semakin nyata terbayangkan. Titik itu namanya 'kehilangan'. Hilang dan berhenti pada kata 'hampir'.
BalasHapus