Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Batas Waktu

Tlah kuakrabi perpisahan, Kekasih Toh semua-mua yang ada di dunia ini sudah selayaknya berpisah pada akhirnya Orang-orang datang dan pergi Ada yang masih hidup, ada yang sudah mati Ketahuilah aku tidak pergi kemana-mana Tapi aku juga tak kuasa berjanji akan sama Kekasih, terima kasih telah memberi aku lara Lara yang barangkali berbeda dengan laraku yang lainnya Jika pada akhirnya telah kau putuskan Maka jangan coba kau tengok aku dengan seribu alasan Karena bagiku orang yang memutuskan pergi telah kuanggap mati Berjanjilah padaku bahwa pergimu akan melahirkan bahagia yang jauh dari upaya yang kucipta Berjanjilah padaku kau akan mencintai diri sendiri melebihi cintaku padamu Berjanjilah kau akan menemukan pengganti yang cintanya padamu melebihi cinta pada diri sendiri Harapan Indah, 17 Des 2018 19.04

Teruntuk Mas yang Kutunggu dan Sedang Memperjuangkanku

Mas, jika kelak waktu memangkas jarak dan Allah telah memberikan jalan agar pertemuan kita segera terjadi Aku ingin berterimakasih karena telah memutuskan tinggal dan tidak memilih meninggalkan Mas, jika memang kau jawaban atas kegelisahanku dalam doa-doa panjangku Aku ingin kau menjadi penggenap agamaku dengan menuntunku perlahan dan penuh kesabaran Mas, jika takdir berkata bahwa cinta ini adalah definisi dari menyempurnakan agama Aku ingin kau segera menyatakan niatanmu kepada pemilik hati dan pria yang dititipi-Nya mengemban tugas untuk menanggungku Mas, lelahmu mencari kebutuhan hidup yang menyita waktu dan juga tenagamu Aku ingin meminta pada-Nya supaya kau senantiasa diberi kesehatan, keberkahan, dan kebahagiaan yang melimpah Mas, jika nanti kau adalah orang pertama yang mengingatkanku atas kuasa-Nya Aku ingin memandangi ke kedalaman matamu lama-lama Karang Satria 26 Desember 2018 06.44

Sungai di Pipi

Hallo, apa kabar? Aku tak akan banyak bertanya seperti dulu Tapi aku ingin menyapamu dengan diam yang tak akan pernah sampai Sebab tak mengerti bagaimana cara menyebut namamu Kekasih, Kamu harus tahu, kenangan begitu mencekikku Sedang kutahu kamu telah merajut cerita penuh warna dengannya Aku lelah memunguti rindu yang tak tahu harus kuhibahkan pada siapa Aku masih saja merakitmu dalam puisi-puisi kamarku Aku juga tidak membiarkan aliran sungai sampai pada daguku Sebab katamu, aku tak cantik bila sungai pecah membanjiri pipi dan meluncur di dagu Maaf aku menangis lagi Tapi sekarang kamu tidak di sini: di sisiku Melewati jalan menuju dan pulang membangkitkan kenangan yang semena-mena menetap Mendatangi tempat-tempat yang pernah menampung cerita, sama mengerikannya Mendengarkan cerita orang lain juga selalu membuka pintu kenangan yang selalu kuusahakan enyah Aku masih meraba, "Mengapa Tuhan membiarkanku terjerembab sebegini jadi dan mengapa hanya aku yang dihant...

Puisi Hubung

Aku begitu mencintai kenangan, padahal ia jejak yang rapuh saat kupijak Sedangkan kamu begitu tega membiarkanku dibakar rindu sebegini jadi Mataku ini ranu yang kedalamannya mampu membutakanku dari mawujud lain selainmu Matamu itu arga yang memancarkan seberkas cahaya hangat tempatku bermuara Senyumku ini samudera sepi yang merangkak mengisi kekosongan Sedang senyummu adalah telaga yang menampung segala degubku Aku ingin sekali mengajakmu berbincang ke sana-sini Tapi kamu membiarkanku berdiskusi dengan kesendirian Kusentuh bulu-bulu matamu agar salah satu di antara mereka tanggal Supaya kamu paham bahwa ada yang diam-diam merindu dan mau kamu kenang Aku berdoa supaya puisi ini sampai pada sanubarimu Entah akan kamu simpan dalam kepala atau hati Atau barangkali hanya melintas kemudian pergi Tapi Biarkan aku berharap mendapatkan setetes air mata dan lengkungan maha dahsyat dari bibirmu sebagai upah kecintaanku yang tak berkesudahan ini 25 Oktober 2018 08.00

Pemangkas Rindu

Di atas hamparan sprei kesukaanku Kusulap kasur jadi ruang kerja favorit Dan bayangmu menggoda sambil berkata, "rangkai aku jadi kata-kata" Seselesainya menulis satu bab materi Juga beberapa kumpulan soal yang tak kuasa menemu jawabannya sendiri Kutemui mentari untuk memerahkan kulit Tapi kau tetap di sebelahku merengek minta segera ditulis Kumasuk dan menyalakan TV dengan volume sedang Mencoba mengalihkan dan memulihkan kewarasan Kupikir kau telah hilang Ternyata aktor justru menyerupaimu, kumatikan Kucoba hal lain, merealisasikan kegemaranku Buku yang hampir dua bulan bertengger di rak buku Tapi namamu justru ada dalam deretan kata buku itu Kututup dan kuseduh kantung teh yang mengepul gaduh Baiklah Aku kalah mengenyahkannya Akhirnya Kurangkai kau yang telah mengusung senyum kembali ke bibirku Barangkali aku tak kuasa menyulap kata menjelma pelipur lara Kudandanimu dengan memilah dan memilih ingatan untuk kau kenakan Agar terlihat tampan di ma...

10 Pembelaan untuk Perempuan yang Lebih Cantik daripadaku

Untukmu yang kini menemani saban hari pria yang kusayangi hingga tadi pagi sebelum kau nyinyiri aku dengan kata-kata yang diartikan orang lain kultum. Izinkan saya perempuan yang tak lebih cantik darimu ini menuliskan beberapa patah kata untuk membela diri dari tuduhan keji. Kuluangkan waktuku yang kau artikan tak ada artinya. Tak apa. Aku heran, sepengetahuanku Tuhan menciptakan sesuatu tidak pernah sia-sia, tapi mengapa masih disisakan populasi perempuan yang tega melukai perasaan perempuan lain? Terlebih hanya dengan alasan seorang laki-laki. Sangat kusayangkan ijazah pendidikanmu dan biaya (yang banyak jumlahnya) yang dikeluarkan orang tuamu. Setelah kau baca ini, minta maaflah kepada mereka berdua dan bakar saja ijazahmu. Tulisan ini seperti yang sudahku sampaikan di awal. Aku ingin menegaskan bahwa aku tidak tertarik merebut kepunyaan orang lain, seperti yang telah kau ajarkan. Maaf, bacaanku tidak mengajarkan seperti itu. Izinkan saya meluruskan kesemrawutan pikir...

Berjarak

Kota Jogja menjadi tempat menumpahkan rindu dan mawujud temu yang paling melekat dalam kepalaku Tepat di bawah gapura besar di depan Candi Prambanan rindu yang sudah lama kita tampung, luruh dalam kisaran waktu sepersekian detik Obrolan basa-basi memecah kebisuan dua orang asing yang akhirnya bisa saling melihat mata satu sama lain Canggung dan bahagia melebur jadi satu yang melahirkan sikap malu-malu Kini jarak tak ada lagi, mengaku kalah pada dua orang yang keras kepala dalam satu rasa Di bawah langit yang sama, mengulang obrolan via telepon yang menjaga kantuk hingga pagi menjelang Malam menjadi makin malam yang diisi permainan receh namun menyenangkan Aku mulai menyukai caramu memperlakukanku Aku mulai menyukai cara cemburumu Aku menyukaimu sebab kau lucu Barangkali kita merasa menjadi pasangan paling bahagia kala itu Kau bisikiku dengan kalimat penenang yang masih terngiang, "tetaplah bersamaku, hingga penghujung waktu." Entah kau tangkap atau tidak senyum si...

Terbiasa

Teruntuk Tuan yang sedang gemar menyesapi sari-sari suka pada Puan yang pernah kucurigai menjadi indikasi kelululantaan Tuan dan ku Aku mulai terbiasa dijajah diksi yang semena-mena mengalir dari ujung-ujung matamu Aku mulai terbiasa mempertemukan ujung pena dengan lembaran kertas melahap rinduku Aku mulai terbiasa memandang kumpulan aksara membentuk guratan wajahmu Aku mulai terbiasa menatap kosong garis senyummu yang sudah tak ingat adaku Dan membacai ulang puisi-puisiku, sama saja seperti membacai ulang dirimu 16 September 2018 11.32

Doa Malam

Malam ini Di atas hamparan sprei kuhantarkan rindu melalui doa yang mengalun lirih menujumu. Adakah perempuan yang kini menemani saban harimu melakukan hal serupa? Atau bahkan dia bisa memberimu lebih? Semoga Tuhan selalu memelukmu dalam hening berkepanjanganku. Semoga Tuhan melarungkan sepi pada riak ombak pasang itu. 24 Agustus 2016 22:34

Hujan

Malam ini, kuniati menulis puisi tentang hujan yang seringkali membekukan kenangan bahagia Hujan yang kecil-kecil namun ramai Hujan dengan alunan kidung paling merdu Denganmu Dan orang lain yang juga terpaksa berteduh di sana Mendung bergelayut di padang awan yang kian pekat Jalan terburu-buru seperti hendak buang air menuju kamar mandi Deru kuda besi tak mampu mendahuluinya Perlahan namun pasti, cucuran airnya jatuh membasahi bumi Menghidupi tanaman Menghadirkan bau tanah yang harum Dan menyuruh manusia bergegas meneduh "Kita berteduh di sini tak apa?" tanyamu khawatir karna hari sudah mulai gelap. "Iyaa, telat beberapa menit tak masalah. Biar kukabari orang rumah." jawabku mencoba meredakan. Kulihat jaket abumu basah karna air menghujammu terlebih dahulu "Sampaikan maafku ke Bapak, karna telat mengantarmu pulang." katamu merasa bersalah. "Ternyata kamu..." tak kulanjutkan, sebab senyum di bibirku tak mau pergi kemana-mana....

Akankah kamu?

Akankah kekhusyukan mencumbui rindu ini juga kau lakukan rutin sebagaimana aku? Kalau saja definisi cinta itu surga, barangkali aku tak perlu lagi khawatir tak diperbolehkan masuk Atau ketar-ketir menunggu hisab perhitungan tabungan rinduku padamu Karang Satria 11 Juli 2018 23.23

Keterasingan

Adakah yang lebih berantakan dari hati yang secara tetiba kau tinggalkan? Kutata ruang demi ruang yang pada dindingnya terdapat jejak kisah paling bahagia waktu itu. Kupilah mana yang tetap bertahan di sana dan mana yang harus kucopot biar rasaku tak tumbuh dengan semena-mena. Tapi yang tertinggal hanya kenangan manis di sana. Tapi entah mengapa hatiku terkoyak luar biasa. Pada akhirnya, kita sama-sama gagal dalam itikad baik atau barangkali baik menurut kepala masing-masing kita. Mau tak mau, aku kau ajari caranya mengabaikan seseorang yang takaran cintanya di atas rata-rata. Mau tak mau, aku kau cekoki harapan yang nyatanya tak pernah berpihak. Mau tak mau, dipaksa kembali pada fase asing seperti awal adanya. Mau tak mau, kekosongan kian mencabik-cabik dunia yang mati-matian kupoles penuh warna. Adakah yang lebih babak-belur dari kehilangan yang sudah dipersiapkan? Aku tak mampu mendefinisikan kita yang pernah ada, hanya fana yang memenuhinya. Kusadari bahwa kau bukan...

Kalah pada Waktu

Seiring waktu, kamu pasti mengerti Mengapa aku lebih memilih berdua saja dengan ucapanmu Karena ucapanmu pernah menjadi bagianku Kelak waktu 'kan menyadarkanmu Kita hanya dua orang asing yang dipertemukan waktu Dan akhirnya kita kembali asing karena dipisahkan waktu Setiap abai yang kamu tinggalkan Masih ada perhatian yang dirancang sebagai kalimat penenang Denganmu aku tak khawatir esok seperti apa Asal adamu menguatkan hidupku Tapi akhir-akhir ini, sepilah kawanku Dan rindu harus kuberi makan sendiri Sejatinya sendiri bukanlah yang kumaui Aku hanya ingin berhenti Berhenti membohongi Berhenti membalut luka dengan bahagia yang terkesan dibuat-buat Kuharap akan ada seseorang yang dapat menyabarimu lebih dari aku Mari, kita tinggalkan kebahagiaan semu ini Kita selesaikan kegiatan membohongi Kita usai. Dan kita mau tak mau harus siap mengaku kalah pada waktu Sehari sebelum puasa tiba 16 Mei 2018 08.09

Untuk Rumah Keduaku

Pernah kurasakan luka karena ditinggal induk semang Diberikannya rasa kehilangan yang teramat mendalam Kuharap kau mampu menyembuhkannya dan tak pergi semaunya Tapi tak kuharapkanmu lebih, jika kau ingin pergi, maka pergilah dan jangan pernah kembali 27 hari perkenalan dan aku telah menyayangimu Sebenarnya sudah jauh dari angka 27 kucuri start Tapi ternyata hatiku perlu diyakinkan lebih dari apapun Dan kau berhasil meyakinkanku Aku sedang belajar menyukai apa-apa yang ada padamu Aku sedang belajar membacai apa-apa ciri khasmu Aku sedang belajar mencintai apa-apa yang kau cinta Aku ingin belajar tentangmu selamanya Terima kasih telah terlahir di dunia Terima kasih telah berkenan mengisi ruang sepi hidupku Terima kasih telah berjuang menyempurnakan agamaku Terima kasih karena kau ada Teruslah tertawa dan membuatku tertawa Teruslah menjaga dan menjagaku selamanya Teruslah tersenyum dan jangan kau beri hatimu untuk yang lainnya Teruslah belajar menjadi hamba yang ber...