Kota Jogja menjadi tempat menumpahkan rindu dan mawujud temu yang paling melekat dalam kepalaku
Tepat di bawah gapura besar di depan Candi Prambanan rindu yang sudah lama kita tampung, luruh dalam kisaran waktu sepersekian detik
Obrolan basa-basi memecah kebisuan dua orang asing yang akhirnya bisa saling melihat mata satu sama lain
Canggung dan bahagia melebur jadi satu yang melahirkan sikap malu-malu
Kini jarak tak ada lagi, mengaku kalah pada dua orang yang keras kepala dalam satu rasa
Di bawah langit yang sama, mengulang obrolan via telepon yang menjaga kantuk hingga pagi menjelang
Malam menjadi makin malam yang diisi permainan receh namun menyenangkan
Aku mulai menyukai caramu memperlakukanku
Aku mulai menyukai cara cemburumu
Aku menyukaimu sebab kau lucu
Barangkali kita merasa menjadi pasangan paling bahagia kala itu
Kau bisikiku dengan kalimat penenang yang masih terngiang, "tetaplah bersamaku, hingga penghujung waktu."
Entah kau tangkap atau tidak senyum simpul yang mampu menyipitkan mataku
Akhirnya kita kembali kalah pada jarak
Perpisahan itu masih terasa seperti baru kemarin
Aku nelangsa membayangkan betapa kau pasti senang saat ini
Dalam hati, aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak memandang ke kedalaman matamu, untuk menghindari tak kutemukanku lagi di sana
Bagaimanapun, aku tengah mengutuk diri sendiri karena menjahatimu selama 8 bulan lalu
Puisi yang kutulis setelah membaca sesuatu tentang laut
17 September 2018
22.42
Tepat di bawah gapura besar di depan Candi Prambanan rindu yang sudah lama kita tampung, luruh dalam kisaran waktu sepersekian detik
Obrolan basa-basi memecah kebisuan dua orang asing yang akhirnya bisa saling melihat mata satu sama lain
Canggung dan bahagia melebur jadi satu yang melahirkan sikap malu-malu
Kini jarak tak ada lagi, mengaku kalah pada dua orang yang keras kepala dalam satu rasa
Di bawah langit yang sama, mengulang obrolan via telepon yang menjaga kantuk hingga pagi menjelang
Malam menjadi makin malam yang diisi permainan receh namun menyenangkan
Aku mulai menyukai caramu memperlakukanku
Aku mulai menyukai cara cemburumu
Aku menyukaimu sebab kau lucu
Barangkali kita merasa menjadi pasangan paling bahagia kala itu
Kau bisikiku dengan kalimat penenang yang masih terngiang, "tetaplah bersamaku, hingga penghujung waktu."
Entah kau tangkap atau tidak senyum simpul yang mampu menyipitkan mataku
Akhirnya kita kembali kalah pada jarak
Perpisahan itu masih terasa seperti baru kemarin
Aku nelangsa membayangkan betapa kau pasti senang saat ini
Dalam hati, aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak memandang ke kedalaman matamu, untuk menghindari tak kutemukanku lagi di sana
Bagaimanapun, aku tengah mengutuk diri sendiri karena menjahatimu selama 8 bulan lalu
Puisi yang kutulis setelah membaca sesuatu tentang laut
17 September 2018
22.42
Komentar
Posting Komentar