Langsung ke konten utama

10 Pembelaan untuk Perempuan yang Lebih Cantik daripadaku

Untukmu yang kini menemani saban hari pria yang kusayangi hingga tadi pagi sebelum kau nyinyiri aku dengan kata-kata yang diartikan orang lain kultum.

Izinkan saya perempuan yang tak lebih cantik darimu ini menuliskan beberapa patah kata untuk membela diri dari tuduhan keji. Kuluangkan waktuku yang kau artikan tak ada artinya. Tak apa.

Aku heran, sepengetahuanku Tuhan menciptakan sesuatu tidak pernah sia-sia, tapi mengapa masih disisakan populasi perempuan yang tega melukai perasaan perempuan lain? Terlebih hanya dengan alasan seorang laki-laki. Sangat kusayangkan ijazah pendidikanmu dan biaya (yang banyak jumlahnya) yang dikeluarkan orang tuamu. Setelah kau baca ini, minta maaflah kepada mereka berdua dan bakar saja ijazahmu.

Tulisan ini seperti yang sudahku sampaikan di awal. Aku ingin menegaskan bahwa aku tidak tertarik merebut kepunyaan orang lain, seperti yang telah kau ajarkan. Maaf, bacaanku tidak mengajarkan seperti itu.

Izinkan saya meluruskan kesemrawutan pikiranmu yang sudah mulai tidak rasional.
Pertama, kuawali dengan pertanyaan, "kau siapa? Seenaknya menilai perempuan lain tidak cantik?" Mohon maaf secara tidak langsung kau berburuk sangka pada Sang Pencipta. Lain kali hati-hati dalam pemilihan kata yaa. Dengan berberat hati, saya mengamini kau yang tingkat cantiknya ada di atasku, dengan alasan karena pria itu kini memilih bersamamu, ketimbang bertahan bersamaku.

Kedua, aku benar-benar menyesal, bukan seperti kata-katamu, "memperlihatkan kalo lo tuh kaya nyesel". Begini ya, aku sangat menyesal karena masih sering membanggakan lelaki yang nyatanya sudah membuat perempuannya tak bisa mengontrol jarinya sendiri. Aku menyesal masih mendoakan keselamatannya dengan siapapun pasangannya. Aku menyesal, karena pernah membangun harapan yang luar biasa megah bersama pria yang kini kau ikat lehernya. Terlebih, aku sangat menyesali kedunguanku selama ini, karena dengan rela meluangkan waktu berhargaku, yang kemudian diludahi perempuan sepertimu.

Ketiga, kita ini sama-sama perempuan yang lahir dari rahim perempuan juga. Kita dididik bukan untuk jadi perempuan dewasa yang ditakar dari usia. Tapi lebih dari itu, kelak kita akan melahirkan anak-anak yang harus dididik menjadi perempuan yang lebih baik dari perempuan kebanyakan zaman ini. Lalu, apa gunanya pahlawan perempuan menyuarakan kebebasan perempuan dari jeratan belenggu, kalau generasi penerusnya bertingkah seperti ini? Kau buang kotoran ke wajah mereka. Belum merdeka kau.

Keempat, lucu ya, kamu berperan sebagai penulis dengan sudut pandang serba tahu, yang mengetahui sepersekian inci kehidupanku. Luar biasa sekaligus lancang, tepatnya. Padahal temu belum pernah hadir di tengah-tengah kita. Sebentar, aku tertawa dulu.

Kelima, aku memang perempuan yang egois. Tapi, hal itu kan kulakukan hanya kepada lelakiku. Letak kesalahanku dimana? Kalau dia mau mengubah sikap egoisku, dia boleh menetap, dan sebaliknya. Pada akhirnya, dia memilih pergi dan melanjutkan kisah denganmu. Kesalahannya dimana? Kurasa kau terlalu jauh ikut campur dan jadi gila karenanya. 

Keenam, pertanyaan, "ngerasa diperjuangin? Ngerasa kek dia gabakal mau mutusin?" menggelitik ruang berpikirku. Izinkan kujawab pertanyaanmu dengan pertanyaan juga, "kau sebagai perempuan tidak senang diperjuangkan? Kalau pada akhirnya hubunganmu berakhir, kau masih mau menjalani hari bersamanya?" Kau yang sepertinya membuang-buang waktu. Lepaskan topengmu itu, Cantik. Kalimat selanjutnya menyatakan kalau kau jauh lebih berpengalaman ketimbang aku yang tidak cantik ini. Tabik!

Ketujuh, melihat story karena memegang omongan Bapak yang memintaku untuk membalas kebaikan priamu yang sudi datang ke acara wisudaku, tak kusangka ternyata kau anggap dosa. Maaf, jadi membuatmu sulit mengontrol jari-jemari. Saranmu untuk menumpahkan rindu dengan menyambung tali persahabatan kutertawai juga yaa. Maaf, kau lucu sekali.

Kedelapan, iya akan kuingat kata perkata yang kau tulis itu. Apa perlu kuprint dan kutempel di meja kerja dan di dinding kamarku?
Aku hanya mengkhawatirkan kaca di rumahmu sudah waktunya ganti. Tolong pertimbangkan ya. Kalau kau butuh dana bilang saja, biar kubelikan kaca yang besar, spesial untukmu, Cantik.

Kesembilan, kalau saja kau masih hangat seperti sebelumnya, aku tak akan berpikir untuk menulis ini. Tapi, kau juga harus sedikit ditempeleng supaya sadar dan dengan harapan tidak mengulanginya lagi di kemudian hari.

Terakhir, hahaha ups maaf aku tertawa lagi. Tulisan-tulisanku kau anggap galau (kamus: kacau (dalam pikiran)? Maaf, rupanya kamu anak seni yang kehilangan seninya ya. Bakar ijazahmu. Kalau kau tak suka warna tulisanku, ya ndak perlu dibaca. Aku menulis bukan untuk menyenangkan hatimu. Kalau boleh kuputar ke belakang sedikit. Siapa yang menghilangkan hingar-bingar warna pada barisan kata yang kutulis, Nona?

Ngomong-ngomong, terima kasih karena telah menamparku dengan kultum yang mampu membuatku tertawa sepanjang hari. 

Dari aku,
perempuan yang tak cantik (menurutmu).

23 September 2018
00.21

Komentar

  1. Ceritamu bagus. Emosinya masuk. Tapi, kali ini kemasan ceritamu kacau. Mungkin karena rasa yang terkena dampak masalahmu itu ya? Untuk karya yang selanjutnya, semoga kamu tetap bertahan dengan kemasan2 yang menyenangkan seperti karya2 sebelumnya.

    BalasHapus
  2. Wadadaw.
    Siapa itu yang kultum? Frasa "tidak cantik" yang ditujukan itu untuk siapa sebenarnya? Hmm kurasa ia sadar bahwa prianya memang tak cocok untuknya, tapi prianya lebih cocok dengan perempuan yang telah 8 bulan bersamanya, yang telah mengisi hari-hari dengan sabarnya.
    Andai kaca di rumahnya benar-benar bersih. Aku juga mau menertawainya.

    Untuk penulis, terima kasih, bersabarlah sedikit lagi. InshaAllah kamu akan dipertemukan dengan lelaki yang berkomitmen tinggi, dalam artian tidak cupu, bersamanya yang hanya berbagi dan bercerita hanya denganmu. Dan tidak mudah (merasa) nyaman dengan perempuan lain. Aamiin. Allah Maha Mengetahui.

    BalasHapus
  3. Hanya tertarik membatja tulisan-tulisan pandjang. Kecuali skripsi, tentunya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Perkenalan

Kidungku Aku Bernyanyi dalam kidung irama rindu Mencoba memahat segurat senyum Saat membuat sajak perkenalan ini Namaku Vita Lahir di Ibu kota Indonesia Pada bulan ke enam Jumlah alfabet ditambah dua tanggalnya Kebetulan lahir sunggang Kedua orang tua asli Jawa Tapi aku hanya tahu beberapa Sepi bukan berarti hilang Diam bukan berarti lupa Kadang Meskipun aku hanya setitik debu di atas karang Meskipun aku hanya satu diantara ribuan titik hujan Keindahan gerimis senja memberikanku setetes harapan Kehadiranku bukanlah yang terindah Akupun bukan yang terpenting Satu yang aku harapkan Hadirku berguna bagi sesama 09.09.14 19:24 Diiringi suara detak jam

Sastra Koran

SASTRA KORAN DAN KAITANNYA DENGAN ROMAN PERGAOELAN: PENGELOMPOKKAN KOTA DAN PINGGIRAN Sastra Koran Dessy wahyuni 28 November 2015 - 23.42 WIB Publikasi karya sastra  melalui koran sudah sangat lama terjadi di Indonesia. Hampir semua sastrawan Indonesia memanfaatkan koran sebagai media untuk “mengiklankan” karya (dan nama) mereka kepada publik. Sebut saja Seno Gumira Ajidarma, Yanusa Nugroho, Taufik Ikram Jamil, Nurzain Hae, Raudal Tanjung Banua, Marhalim Zaini, dan Fakhrunnas M.A. Jabbar (tentu masih ada sederetan nama lainnya). Berkat karya-karya korannya, nama mereka pun menjulang cakrawala. Melalui salah satu tulisannya, “Evolusi, ‘Genre’ dan Realitas Sastra Koran”, Ahmadun Yosi Herfanda menengarai bahwa sastra koran di Indonesia menemukan oasenya pada dekade ’70-an dan ’80-an. Ketika itu, karena rubrik-rubrik sastra menjamur di hampir semua surat kabar (seperti Suara Karya, Berita Buana, Kompas, Sinar Harapan, Kedaulatan Rakyat, dan Med...

Patibrata Praharsa

Surat Senja     Sepucuk surat memutuskan menetap Berisi tulisan tangan seseorang Yang rela menghabiskan 15 tahun waktunya untuk mengenalku Surat itu bertuliskan Patibrata Praharsa [1] Kubalas dengan Amin terkhusyuk Dan berharap semesta menirunya Perlahan Sang Surya tergelincir menuju ufuk barat Kutatap ia lekat dengan kedip sesekali Tak lupa kuselipkan senyum simpul untuk meringkas bahagiaku 17 maret 2016 19:34 [1] Sansekerta Patibrata = sehidup semati, Praharsa = bahagia. Patibrata Praharsa = bahagia sehidup semati.