Di atas hamparan sprei kesukaanku
Kusulap kasur jadi ruang kerja favorit
Dan bayangmu menggoda sambil berkata, "rangkai aku jadi kata-kata"
Seselesainya menulis satu bab materi
Juga beberapa kumpulan soal yang tak kuasa menemu jawabannya sendiri
Kutemui mentari untuk memerahkan kulit
Tapi kau tetap di sebelahku merengek minta segera ditulis
Kumasuk dan menyalakan TV dengan volume sedang
Mencoba mengalihkan dan memulihkan kewarasan
Kupikir kau telah hilang
Ternyata aktor justru menyerupaimu, kumatikan
Kucoba hal lain, merealisasikan kegemaranku
Buku yang hampir dua bulan bertengger di rak buku
Tapi namamu justru ada dalam deretan kata buku itu
Kututup dan kuseduh kantung teh yang mengepul gaduh
Baiklah
Aku kalah mengenyahkannya
Akhirnya
Kurangkai kau yang telah mengusung senyum kembali ke bibirku
Barangkali aku tak kuasa menyulap kata menjelma pelipur lara
Kudandanimu dengan memilah dan memilih ingatan untuk kau kenakan
Agar terlihat tampan di mata orang-orang
Tapi kau akan tetap tampan, sebelum dan sesudah kenangan
Kubimbing kata supaya menjadi karangan bunga
Agar tak menjadi puisi bimbang saat menujumu
Nanti, ketika temu hadir di antara kita
Biar kusulut puisi ini untukmu
Dan kau akan heran memaknainya
Puisi yang menempuh jarak jauh memangkas rindu
07 Oktober 2018
20.47

Senyumku datang dengan sendirinya.
BalasHapusUh, ini membangkitkan kenangan lama ternyata (:
Rasanya ingin juga kusulut puisi-puisi yang tergeletak lemah di lantai itu.