Langsung ke konten utama

Pemangkas Rindu




Di atas hamparan sprei kesukaanku
Kusulap kasur jadi ruang kerja favorit
Dan bayangmu menggoda sambil berkata, "rangkai aku jadi kata-kata"

Seselesainya menulis satu bab materi
Juga beberapa kumpulan soal yang tak kuasa menemu jawabannya sendiri
Kutemui mentari untuk memerahkan kulit
Tapi kau tetap di sebelahku merengek minta segera ditulis

Kumasuk dan menyalakan TV dengan volume sedang
Mencoba mengalihkan dan memulihkan kewarasan
Kupikir kau telah hilang
Ternyata aktor justru menyerupaimu, kumatikan

Kucoba hal lain, merealisasikan kegemaranku
Buku yang hampir dua bulan bertengger di rak buku
Tapi namamu justru ada dalam deretan kata buku itu
Kututup dan kuseduh kantung teh yang mengepul gaduh

Baiklah
Aku kalah mengenyahkannya
Akhirnya
Kurangkai kau yang telah mengusung senyum kembali ke bibirku

Barangkali aku tak kuasa menyulap kata menjelma pelipur lara
Kudandanimu dengan memilah dan memilih ingatan untuk kau kenakan
Agar terlihat tampan di mata orang-orang
Tapi kau akan tetap tampan, sebelum dan sesudah kenangan

Kubimbing kata supaya menjadi karangan bunga
Agar tak menjadi puisi bimbang saat menujumu
Nanti, ketika temu hadir di antara kita
Biar kusulut puisi ini untukmu
Dan kau akan heran memaknainya
Puisi yang menempuh jarak jauh memangkas rindu

07 Oktober 2018
20.47

Komentar

  1. Senyumku datang dengan sendirinya.
    Uh, ini membangkitkan kenangan lama ternyata (:

    Rasanya ingin juga kusulut puisi-puisi yang tergeletak lemah di lantai itu.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Perkenalan

Kidungku Aku Bernyanyi dalam kidung irama rindu Mencoba memahat segurat senyum Saat membuat sajak perkenalan ini Namaku Vita Lahir di Ibu kota Indonesia Pada bulan ke enam Jumlah alfabet ditambah dua tanggalnya Kebetulan lahir sunggang Kedua orang tua asli Jawa Tapi aku hanya tahu beberapa Sepi bukan berarti hilang Diam bukan berarti lupa Kadang Meskipun aku hanya setitik debu di atas karang Meskipun aku hanya satu diantara ribuan titik hujan Keindahan gerimis senja memberikanku setetes harapan Kehadiranku bukanlah yang terindah Akupun bukan yang terpenting Satu yang aku harapkan Hadirku berguna bagi sesama 09.09.14 19:24 Diiringi suara detak jam

Sastra Koran

SASTRA KORAN DAN KAITANNYA DENGAN ROMAN PERGAOELAN: PENGELOMPOKKAN KOTA DAN PINGGIRAN Sastra Koran Dessy wahyuni 28 November 2015 - 23.42 WIB Publikasi karya sastra  melalui koran sudah sangat lama terjadi di Indonesia. Hampir semua sastrawan Indonesia memanfaatkan koran sebagai media untuk “mengiklankan” karya (dan nama) mereka kepada publik. Sebut saja Seno Gumira Ajidarma, Yanusa Nugroho, Taufik Ikram Jamil, Nurzain Hae, Raudal Tanjung Banua, Marhalim Zaini, dan Fakhrunnas M.A. Jabbar (tentu masih ada sederetan nama lainnya). Berkat karya-karya korannya, nama mereka pun menjulang cakrawala. Melalui salah satu tulisannya, “Evolusi, ‘Genre’ dan Realitas Sastra Koran”, Ahmadun Yosi Herfanda menengarai bahwa sastra koran di Indonesia menemukan oasenya pada dekade ’70-an dan ’80-an. Ketika itu, karena rubrik-rubrik sastra menjamur di hampir semua surat kabar (seperti Suara Karya, Berita Buana, Kompas, Sinar Harapan, Kedaulatan Rakyat, dan Med...

Patibrata Praharsa

Surat Senja     Sepucuk surat memutuskan menetap Berisi tulisan tangan seseorang Yang rela menghabiskan 15 tahun waktunya untuk mengenalku Surat itu bertuliskan Patibrata Praharsa [1] Kubalas dengan Amin terkhusyuk Dan berharap semesta menirunya Perlahan Sang Surya tergelincir menuju ufuk barat Kutatap ia lekat dengan kedip sesekali Tak lupa kuselipkan senyum simpul untuk meringkas bahagiaku 17 maret 2016 19:34 [1] Sansekerta Patibrata = sehidup semati, Praharsa = bahagia. Patibrata Praharsa = bahagia sehidup semati.