Langsung ke konten utama

Sungai di Pipi

Hallo, apa kabar?
Aku tak akan banyak bertanya seperti dulu
Tapi aku ingin menyapamu dengan diam yang tak akan pernah sampai
Sebab tak mengerti bagaimana cara menyebut namamu

Kekasih,
Kamu harus tahu, kenangan begitu mencekikku
Sedang kutahu kamu telah merajut cerita penuh warna dengannya

Aku lelah memunguti rindu yang tak tahu harus kuhibahkan pada siapa
Aku masih saja merakitmu dalam puisi-puisi kamarku
Aku juga tidak membiarkan aliran sungai sampai pada daguku
Sebab katamu, aku tak cantik bila sungai pecah membanjiri pipi dan meluncur di dagu
Maaf aku menangis lagi
Tapi sekarang kamu tidak di sini: di sisiku

Melewati jalan menuju dan pulang membangkitkan kenangan yang semena-mena menetap
Mendatangi tempat-tempat yang pernah menampung cerita, sama mengerikannya
Mendengarkan cerita orang lain juga selalu membuka pintu kenangan yang selalu kuusahakan enyah

Aku masih meraba,
"Mengapa Tuhan membiarkanku terjerembab sebegini jadi dan mengapa hanya aku yang dihantui masa lalu?"

Kita: dua manusia yang sama-sama gagal
Aku gagal merelakan kepergianmu dan terlalu cinta pada kenangan-kenangan indah kita
Kamu gagal perihal mempertahankanku dan membatalkan segala harap yang memenuhi obrolan masa depan


20 November 2018
20.20

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Perkenalan

Kidungku Aku Bernyanyi dalam kidung irama rindu Mencoba memahat segurat senyum Saat membuat sajak perkenalan ini Namaku Vita Lahir di Ibu kota Indonesia Pada bulan ke enam Jumlah alfabet ditambah dua tanggalnya Kebetulan lahir sunggang Kedua orang tua asli Jawa Tapi aku hanya tahu beberapa Sepi bukan berarti hilang Diam bukan berarti lupa Kadang Meskipun aku hanya setitik debu di atas karang Meskipun aku hanya satu diantara ribuan titik hujan Keindahan gerimis senja memberikanku setetes harapan Kehadiranku bukanlah yang terindah Akupun bukan yang terpenting Satu yang aku harapkan Hadirku berguna bagi sesama 09.09.14 19:24 Diiringi suara detak jam

Sastra Koran

SASTRA KORAN DAN KAITANNYA DENGAN ROMAN PERGAOELAN: PENGELOMPOKKAN KOTA DAN PINGGIRAN Sastra Koran Dessy wahyuni 28 November 2015 - 23.42 WIB Publikasi karya sastra  melalui koran sudah sangat lama terjadi di Indonesia. Hampir semua sastrawan Indonesia memanfaatkan koran sebagai media untuk “mengiklankan” karya (dan nama) mereka kepada publik. Sebut saja Seno Gumira Ajidarma, Yanusa Nugroho, Taufik Ikram Jamil, Nurzain Hae, Raudal Tanjung Banua, Marhalim Zaini, dan Fakhrunnas M.A. Jabbar (tentu masih ada sederetan nama lainnya). Berkat karya-karya korannya, nama mereka pun menjulang cakrawala. Melalui salah satu tulisannya, “Evolusi, ‘Genre’ dan Realitas Sastra Koran”, Ahmadun Yosi Herfanda menengarai bahwa sastra koran di Indonesia menemukan oasenya pada dekade ’70-an dan ’80-an. Ketika itu, karena rubrik-rubrik sastra menjamur di hampir semua surat kabar (seperti Suara Karya, Berita Buana, Kompas, Sinar Harapan, Kedaulatan Rakyat, dan Med...

Patibrata Praharsa

Surat Senja     Sepucuk surat memutuskan menetap Berisi tulisan tangan seseorang Yang rela menghabiskan 15 tahun waktunya untuk mengenalku Surat itu bertuliskan Patibrata Praharsa [1] Kubalas dengan Amin terkhusyuk Dan berharap semesta menirunya Perlahan Sang Surya tergelincir menuju ufuk barat Kutatap ia lekat dengan kedip sesekali Tak lupa kuselipkan senyum simpul untuk meringkas bahagiaku 17 maret 2016 19:34 [1] Sansekerta Patibrata = sehidup semati, Praharsa = bahagia. Patibrata Praharsa = bahagia sehidup semati.