Malam ini, kuniati menulis puisi tentang hujan yang seringkali membekukan kenangan bahagia
Hujan yang kecil-kecil namun ramai
Hujan dengan alunan kidung paling merdu
Denganmu
Dan orang lain yang juga terpaksa berteduh di sana
Mendung bergelayut di padang awan yang kian pekat
Jalan terburu-buru seperti hendak buang air menuju kamar mandi
Deru kuda besi tak mampu mendahuluinya
Perlahan namun pasti, cucuran airnya jatuh membasahi bumi
Menghidupi tanaman
Menghadirkan bau tanah yang harum
Dan menyuruh manusia bergegas meneduh
"Kita berteduh di sini tak apa?" tanyamu khawatir karna hari sudah mulai gelap.
"Iyaa, telat beberapa menit tak masalah. Biar kukabari orang rumah." jawabku mencoba meredakan.
Kulihat jaket abumu basah karna air menghujammu terlebih dahulu
"Sampaikan maafku ke Bapak, karna telat mengantarmu pulang." katamu merasa bersalah.
"Ternyata kamu..." tak kulanjutkan, sebab senyum di bibirku tak mau pergi kemana-mana. Bermuara pada kata dan tingkahmu saja.
Bekasi, 10 Agustus 2018
19.37
Hujan yang kecil-kecil namun ramai
Hujan dengan alunan kidung paling merdu
Denganmu
Dan orang lain yang juga terpaksa berteduh di sana
Mendung bergelayut di padang awan yang kian pekat
Jalan terburu-buru seperti hendak buang air menuju kamar mandi
Deru kuda besi tak mampu mendahuluinya
Perlahan namun pasti, cucuran airnya jatuh membasahi bumi
Menghidupi tanaman
Menghadirkan bau tanah yang harum
Dan menyuruh manusia bergegas meneduh
"Kita berteduh di sini tak apa?" tanyamu khawatir karna hari sudah mulai gelap.
"Iyaa, telat beberapa menit tak masalah. Biar kukabari orang rumah." jawabku mencoba meredakan.
Kulihat jaket abumu basah karna air menghujammu terlebih dahulu
"Sampaikan maafku ke Bapak, karna telat mengantarmu pulang." katamu merasa bersalah.
"Ternyata kamu..." tak kulanjutkan, sebab senyum di bibirku tak mau pergi kemana-mana. Bermuara pada kata dan tingkahmu saja.
Bekasi, 10 Agustus 2018
19.37
hmmmmmmm, hmmmmmmm, hmmmmmm
BalasHapus~