Langsung ke konten utama

Hujan

Malam ini, kuniati menulis puisi tentang hujan yang seringkali membekukan kenangan bahagia
Hujan yang kecil-kecil namun ramai
Hujan dengan alunan kidung paling merdu
Denganmu
Dan orang lain yang juga terpaksa berteduh di sana

Mendung bergelayut di padang awan yang kian pekat
Jalan terburu-buru seperti hendak buang air menuju kamar mandi
Deru kuda besi tak mampu mendahuluinya
Perlahan namun pasti, cucuran airnya jatuh membasahi bumi
Menghidupi tanaman
Menghadirkan bau tanah yang harum
Dan menyuruh manusia bergegas meneduh

"Kita berteduh di sini tak apa?" tanyamu khawatir karna hari sudah mulai gelap.

"Iyaa, telat beberapa menit tak masalah. Biar kukabari orang rumah." jawabku mencoba meredakan.

Kulihat jaket abumu basah karna air menghujammu terlebih dahulu

"Sampaikan maafku ke Bapak, karna telat mengantarmu pulang." katamu merasa bersalah.

"Ternyata kamu..." tak kulanjutkan, sebab senyum di bibirku tak mau pergi kemana-mana. Bermuara pada kata dan tingkahmu saja.

Bekasi, 10 Agustus 2018
19.37

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Perkenalan

Kidungku Aku Bernyanyi dalam kidung irama rindu Mencoba memahat segurat senyum Saat membuat sajak perkenalan ini Namaku Vita Lahir di Ibu kota Indonesia Pada bulan ke enam Jumlah alfabet ditambah dua tanggalnya Kebetulan lahir sunggang Kedua orang tua asli Jawa Tapi aku hanya tahu beberapa Sepi bukan berarti hilang Diam bukan berarti lupa Kadang Meskipun aku hanya setitik debu di atas karang Meskipun aku hanya satu diantara ribuan titik hujan Keindahan gerimis senja memberikanku setetes harapan Kehadiranku bukanlah yang terindah Akupun bukan yang terpenting Satu yang aku harapkan Hadirku berguna bagi sesama 09.09.14 19:24 Diiringi suara detak jam

Sastra Koran

SASTRA KORAN DAN KAITANNYA DENGAN ROMAN PERGAOELAN: PENGELOMPOKKAN KOTA DAN PINGGIRAN Sastra Koran Dessy wahyuni 28 November 2015 - 23.42 WIB Publikasi karya sastra  melalui koran sudah sangat lama terjadi di Indonesia. Hampir semua sastrawan Indonesia memanfaatkan koran sebagai media untuk “mengiklankan” karya (dan nama) mereka kepada publik. Sebut saja Seno Gumira Ajidarma, Yanusa Nugroho, Taufik Ikram Jamil, Nurzain Hae, Raudal Tanjung Banua, Marhalim Zaini, dan Fakhrunnas M.A. Jabbar (tentu masih ada sederetan nama lainnya). Berkat karya-karya korannya, nama mereka pun menjulang cakrawala. Melalui salah satu tulisannya, “Evolusi, ‘Genre’ dan Realitas Sastra Koran”, Ahmadun Yosi Herfanda menengarai bahwa sastra koran di Indonesia menemukan oasenya pada dekade ’70-an dan ’80-an. Ketika itu, karena rubrik-rubrik sastra menjamur di hampir semua surat kabar (seperti Suara Karya, Berita Buana, Kompas, Sinar Harapan, Kedaulatan Rakyat, dan Med...

Patibrata Praharsa

Surat Senja     Sepucuk surat memutuskan menetap Berisi tulisan tangan seseorang Yang rela menghabiskan 15 tahun waktunya untuk mengenalku Surat itu bertuliskan Patibrata Praharsa [1] Kubalas dengan Amin terkhusyuk Dan berharap semesta menirunya Perlahan Sang Surya tergelincir menuju ufuk barat Kutatap ia lekat dengan kedip sesekali Tak lupa kuselipkan senyum simpul untuk meringkas bahagiaku 17 maret 2016 19:34 [1] Sansekerta Patibrata = sehidup semati, Praharsa = bahagia. Patibrata Praharsa = bahagia sehidup semati.