Setiap yang hidup memiliki nasib.
Tak terkecuali rumput di lapangan
yang seiring dengan revolusi
pembangunan tergerus buldozer.
Aku membayangkan bagaimana
perasaan rumput itu dan tidak mampu
menyingkirkan tatapan mata anak-anak
yang kehilangan tempatnya bermain
kala sore hingga azan magrib tiba.
Puluhan pasang mata, tak berdaya
tempatnya bermain dibumihanguskan.
Tak pernah sampai pada pemilik kekuasaan.
Tambun Utara, 15 Agustus 2020
21.35

Komentar
Posting Komentar