Kutepis bayang yang memperagakan goro-goro.
Pada rasa yang acapkali menyelinap di bangku-bangku taman.
Atau pada markah jalan menuju rumah.
Kukubur rasa itu pada parit-parit yang berbau busuk.
Dan kubersyukur, malam menyamarkan cengengku.
Sedu sedan yang kutahan menimbulkan gigil di sekujur badan.
Sayang aku bukanlah Pinkan.
Kita bukan tokoh yang pernah kau khawatirkan.
Tetapi aku masih meniru Sarwono: menulis puisi dan berjuang sampai akhir.
Kini kita sama-sama berusaha, meski dengan jalan dan cara yang berbeda.
Di persimpangan jalan, kita memutuskan untuk melambaikan tangan.
Membekali diri dan dibenturkan dengan kata melupakan.
Tambun Utara, 01 Desember 2020
19.21

Komentar
Posting Komentar