Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2020

Perjalanan Menuju Kotamu

Di gerbong khusus perempuan, di dalam kereta menuju pemberhentian stasiun kotamu. Aku menangkap mimpi-mimpi penumpang lain yang nampak semrawut. Pemandangan di luar kereta yang menggambarkan kepalamu--berisi banyak urusan yang mungkin tak ada aku di dalamnya. Kau dibesarkan di kota yang terbuat dari hingar-bingar pembangunan yang menyala 24 jam, tempat cantik yang menjual feed instagram, orang-orang yang bisa bertatap dan berbincang tapi lebih memilih bercumbu dengan gawai, wajah orang-orang yang kehilangan keceriaan, makanan yang dingin karena orang sibuk mengunggah hasil foto dan memberi tanggapan atas komentar yang didapat, juga pengumuman orang mati di masjid yang tak pandang usia. Aku bisa membuatkanmu ribuan puisi paling abu yang dapat kauteguk kapan saja ketika terik dan malam sebagai waktu yang tepat untuk mengisi ulang air mata. Keretaku sebentar lagi akan tuntas mengantarku menuju kotamu, jantungku menjerit lebih kencang seperti bel masuk sekolah pukul tujuh. ...

Jika Nanti

Jika nanti kita bukan lagi kita, ingatlah bahwa sayangku hanya berubah dikadarnya, rasa sayangnya tetap sama. Melalui gesekan lembut dedaunan yang mengalun saat kamu berteduh dari teriknya sang Surya. Atau lewat air mineral yang membasahi tenggorokanmu. Melalui bulir-bulir keringat di keningmu yang kau seka dengan punggung tangan yang selalu ingin kugenggam. Dari suara samar orang-orang yang berlalu-lalang dengan atau tanpa tujuan. Dan kala malam semangkuk sup hangat sebagai menu makan malammu tersaji mengepul halus. Juga dari segala hal yang membuatmu teralihkan bahwa pedih-perih yang telah lalu, kini tak sesakit dulu, nanti rasaku dikit demi sedikit kan membalut luka itu. Jika nanti aku mangkat pada rumah abadi setelah kehidupan ini. Berjanjilah untuk tetap menjadi manusia sebagaimana mestinya. Memiliki senyum yang sampai mati membawa jutaan kupu-kupu ke dalam rongga pernapasanku. Karena, tanpa ada tanpa kita, sejatinya semua fana. Melalui kata hampir yang dipaksa mentas se...

Samudera

Malam ini aku ingin bercerita tentang lelaki bernama Samudera. Aku lupa pasti awal mula kamu sapa aku via sosial media. Bercakap tentang siapa diri dan kisah-kisah yang pernah dialami. Percakapan berlanjut sebagai kawan bertukar cerita hari-hari. Sampai muncul pertanyaan, "kapan bertemu?" Tentu itu tak keluar dari jari-jemariku ataupun -mu. Setahun berlalu, keberanian untuk meringkas jarak tak jua nyata. Ketidakpastian kian hari kian besar menganga. Kuredam hasrat bertatap langsung dan temu tak pernah tercipta. Alasan-alasan seakan dicipta tuk membentuk jarak yang jauh. Aku kehabisan sabar dan memilih hilang bersama waktu. Kalau saja kamu paham, seberapa sering aku menahan diri. Kamu pasti mengerti. Sebelum ada kamu, aku sendiri. Sekarang pun aku harus terbiasa sendiri. Tak ada pesan ucapan pengingat waktu, isi ulang semangat sebelum mengajar, khawatir karena hilang beberapa jam, telepon  panjang tentang tema-tema politik dan pekerjaan, juga tak ada pert...

Manusia Penuh Tafsir

Setelah menonton wawancara dengan Sal Priadi, saya mendapat satu nilai sosial yang jarang sekali saya lakukan. "Menanyai kabar dan apa aktivitas yang sedang dilakukan oleh manusia lainnya" Tapi maaf Sal, saya juga perlu menahan diri untuk tidak random mengirim pesan pada orang lain. Salah-salah saya disangka mau berhutang haha meski hal itu muncul di kepala orang-orang dengan hidup yang teramat sulit. "Berbuatlah baik tanpa memilih." Baik, tapi saya termasuk wanita yang ngeyel, sering kali memunculkan hal-hal yang barangkali tidak muncul. Bagaimana kalau orang yang dikirimi chat tersebut tidak membalas? Atau paling ringan, bagaimana jika respon yang diberi tidak sesuai harapan? "Kurangi berharap, lakukan dengan ikhlas." Mengapa saya harus menyenangkan hati banyak orang sedang mereka mati-matian membenci? Allah telah berfirman dalam surah Al-Insyirah ayat 8, "dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap." Tapi makluknya kadang senan...