Di gerbong khusus perempuan, di dalam kereta menuju pemberhentian stasiun kotamu. Aku menangkap mimpi-mimpi penumpang lain yang nampak semrawut. Pemandangan di luar kereta yang menggambarkan kepalamu--berisi banyak urusan yang mungkin tak ada aku di dalamnya. Kau dibesarkan di kota yang terbuat dari hingar-bingar pembangunan yang menyala 24 jam, tempat cantik yang menjual feed instagram, orang-orang yang bisa bertatap dan berbincang tapi lebih memilih bercumbu dengan gawai, wajah orang-orang yang kehilangan keceriaan, makanan yang dingin karena orang sibuk mengunggah hasil foto dan memberi tanggapan atas komentar yang didapat, juga pengumuman orang mati di masjid yang tak pandang usia. Aku bisa membuatkanmu ribuan puisi paling abu yang dapat kauteguk kapan saja ketika terik dan malam sebagai waktu yang tepat untuk mengisi ulang air mata. Keretaku sebentar lagi akan tuntas mengantarku menuju kotamu, jantungku menjerit lebih kencang seperti bel masuk sekolah pukul tujuh. ...