Langsung ke konten utama

Postingan

Mati

Kukunjungi makam seperti menyambangi tempat ternyaman. Tak peduli itu Rabu atau Sabtu, bahkan bisa jadi itu Minggu. Tak kukenal kata libur dalam kamusku. Kuberhenti pada gundukan tanah dengan batu nisan bernamakan kita. Kurawat dan kusebar bunga di atas pusaranya. Dengan harapan, seseorang di dalamnya tenang dan tak kemana-mana. Perpisahan ini, Tuan. Tentang merelakan, bahwa kita pernah salah mengobati. Kita sepakat. Selesai mengemban pilu karena tak akan pernah bersatu. Tambun Utara 12 Oktober 2019 20.18

Teman Kecil

: Neng Risma Herliana Pagi tadi aku terbangun dengan ingatan-ingatan masa kecil Ada rasa yang masih hangat seperti baru saja selesai Sempat kuberpikir, "masihkah berada di mimpi?" Tapi kau sudah tak ada di mana-mana Kuberlari ke teras rumah Kau tak ada di sana Rupanya rumah telah berubah Adanya... Neng, sahabat kecilku Aku benci sepi Aku benci sendiri Barangkali jika saja jarak tak pernah ada Dan perpindahan itu fana Andai dulu telepon genggam sudah menjadi kacang rebus Kurasa kita kan selalu ada Meski tak bisa bersama-sama selamanya. Kata orang, dengan berdoa pada Sang Pencipta Segala doa akan diaamiini alam semesta Setelah kuberdoa, kau masih saja tak ada Aku pikir orang sedang mengada-ada. Sebelum hari ini berakhir Aku ingin berpesan padamu Bersamaiku selalu Membenci gemuruh rindu sendiri Tambun Utara 11 Oktober 2019 17.57

Siluet Kekasih

Saat rasa itu merekah sedang merah-merahnya Bersamaan dengan itu Ingin kubuat siluet kekasih Berwujud wajahmu Wajah yang barangkali nanti akan kutatap kala pagi menyapa atau malam pengantar menuju lelap Berkabar menjadi kebiasaan yang tetap dilakukan pada hari-hari yang acapkali berlalu seenaknya Percakapan tentang berita yang sedang hangat di layar kebanyakan orang atau media Berdiskusi layaknya kawan lama yang sudah terbiasa dengan jumpa Namun kebenaran dan dusta telah bercampur Aku tak mengerti bagaimana caranya 'tuk mengurai Tanyaku tak kunjung bertemu jawab Menguap tanpa paham yang dibiarkan lapar Pada akhirnya siklus itu masih sama Obrolan yang memiliki banyak kesamaan, sejalannya persepsi, nyaman, dan asing kembali Mari terbiasa dengan kata tanpa seperti awal mula Menjadi asing sebagaimana akhir tanpa bahagia Saling merelakan masing-masing kita menjemput suka Dengan pengganti yang dapat mengalihkan kenang kembali ke persemayaman. 28 September 2019 21....

Dingin

Hari ini genap malam ke 132 kau menjelma dingin yang merasuk ke selah-selah tulang rusukku Membekukan segala rasa dan mengaburkan pandangan mataku Apa semua manusia bisa berubah sewaktu-waktu? Saat ia mau, maka berubahlah ia menjadi dingin menusuk yang perlahan menghancurkan segala kenang yang manisnya mengeroposi gigi Singgasana yang tadinya purna di bawah ibumu telah diisi puan lain yang telah kau nilai sebaik-baiknya puan Puan yang tak pernah mengisi malam harinya dengan tangis, melainkan senyum yang mati-matian kau hadirkan melalui kabel telepon yang transparan Obrolan seputar hari ini dibahas tuntas, dibumbui tawa yang menggema di langit-langit kamarku Gigi rapimu terlihat gemerlapan disinari lampu malam yang temaram Rayumu melengkapi tawa puan yang tak sedikit pun paham tentang cerita lain yang harus karam demi cerita baru penuh bunga memabukkan Bahagiamu, tuan. Bahagia semesta alam dengan sejuta persoalan. 1sep19 21.31

Atas Dasar Cinta pada Sesama

: untuk seluruh perempuan korban kejahatan KDRT Mata indah yang kudamba, ternyata menyimpan cerita yang pada malam-malam banjir dan tak seorang pun tahu Tangan gemulai kurus itu maha karya Tuhan yang belingsatan mengusap jejak sungai bandang di dua bukit kemerah-merahan Pikiran yang terbaca cerah di mata orang-orang kebanyakan ternyata sesak dengan cerita yang menyakitkan Malam kian panjang, seakan detak jam berhenti bergerak Merasa mati pada hidup yang sejatinya dikemas kesementaraan Aliran sungai kecil begitu deras hingga tak tahu bagaimana caranya berhenti Bagaimana cara membendung agar tak tumpah Dan terus berulang bak iklan yang tak bosan menggiring wabah Lebam di kulit bertemu dengan benturan lain pada tempat yang sama di waktu yang berbeda Luka yang melahirkan darah segar mengalir membentuk corak mega mendung yang pekat dengan asin Rambut panjang ditarik paksa dan menanggalkan rumahnya Benturan demi benturan lama-kelamaan menjadi suatu siksa yang diterima dengan...

Menjelma Tempat, Lagu, dan Kursi

Aku ingin menjelma tempat dimana sepenggal kisah abadi meski nanti aku berubah Menampung segala cerita apapun kemasannya, dari perkara obrolan ringan seputar basa-basi atau membahas sesuatu yang menyisakan sesak Kusimpan dan kutumpahkan jika mereka membutuhkan atau tak sengaja mengundang Sebab aku tak berjarak dan tak pernah beranjak Aku ingin menjelma lagu-lagu yang biasa diabaikan ketika mereka mulai berbagi cerita, namun didengar ketika obrolan itu menjelma diam Kualunkan nada sendu yang liriknya mudah dihafal agar membekas dan membangkitkan sesuatu yang mati-matian mereka lupa: dengan sengaja Sebab aku tak apa dan akan selalu ada Aku ingin menjelma kursi yang menyangga tubuh masing-masing mereka dan membuat nyaman layaknya ranjang Kuayun dalam diam gugup saat bertemu seseorang yang banyak berubah di dalam, namun raganya masih sama Kudorong agar lawan bicara merasa ditanggapi saat merangkai kata yang tlah dilatih sejak di rumah Sebab aku tetap mencoba dan meyakini tuk me...

Keras Kepala

Puisiku punya dunianya sendiri Segala kemungkinan bisa kucipta tanpa seorangpun menginterupsi Aku bisa menempatkanmu di sana, hidup dalam rahim puisi Bahkan jika ada yang mencoba merombaknya, aku tak peduli Jika kenang itu melintas tanpa kuasa kuenyahkan, aku akan terus merangkai Aku tak apa jika kau telah melupa, juga orang seenaknya menilai Sebab senjataku hanya kata yang keras kepala 8Juli2019 18.36