Langsung ke konten utama

Postingan

10 Pembelaan untuk Perempuan yang Lebih Cantik daripadaku

Untukmu yang kini menemani saban hari pria yang kusayangi hingga tadi pagi sebelum kau nyinyiri aku dengan kata-kata yang diartikan orang lain kultum. Izinkan saya perempuan yang tak lebih cantik darimu ini menuliskan beberapa patah kata untuk membela diri dari tuduhan keji. Kuluangkan waktuku yang kau artikan tak ada artinya. Tak apa. Aku heran, sepengetahuanku Tuhan menciptakan sesuatu tidak pernah sia-sia, tapi mengapa masih disisakan populasi perempuan yang tega melukai perasaan perempuan lain? Terlebih hanya dengan alasan seorang laki-laki. Sangat kusayangkan ijazah pendidikanmu dan biaya (yang banyak jumlahnya) yang dikeluarkan orang tuamu. Setelah kau baca ini, minta maaflah kepada mereka berdua dan bakar saja ijazahmu. Tulisan ini seperti yang sudahku sampaikan di awal. Aku ingin menegaskan bahwa aku tidak tertarik merebut kepunyaan orang lain, seperti yang telah kau ajarkan. Maaf, bacaanku tidak mengajarkan seperti itu. Izinkan saya meluruskan kesemrawutan pikir...

Berjarak

Kota Jogja menjadi tempat menumpahkan rindu dan mawujud temu yang paling melekat dalam kepalaku Tepat di bawah gapura besar di depan Candi Prambanan rindu yang sudah lama kita tampung, luruh dalam kisaran waktu sepersekian detik Obrolan basa-basi memecah kebisuan dua orang asing yang akhirnya bisa saling melihat mata satu sama lain Canggung dan bahagia melebur jadi satu yang melahirkan sikap malu-malu Kini jarak tak ada lagi, mengaku kalah pada dua orang yang keras kepala dalam satu rasa Di bawah langit yang sama, mengulang obrolan via telepon yang menjaga kantuk hingga pagi menjelang Malam menjadi makin malam yang diisi permainan receh namun menyenangkan Aku mulai menyukai caramu memperlakukanku Aku mulai menyukai cara cemburumu Aku menyukaimu sebab kau lucu Barangkali kita merasa menjadi pasangan paling bahagia kala itu Kau bisikiku dengan kalimat penenang yang masih terngiang, "tetaplah bersamaku, hingga penghujung waktu." Entah kau tangkap atau tidak senyum si...

Terbiasa

Teruntuk Tuan yang sedang gemar menyesapi sari-sari suka pada Puan yang pernah kucurigai menjadi indikasi kelululantaan Tuan dan ku Aku mulai terbiasa dijajah diksi yang semena-mena mengalir dari ujung-ujung matamu Aku mulai terbiasa mempertemukan ujung pena dengan lembaran kertas melahap rinduku Aku mulai terbiasa memandang kumpulan aksara membentuk guratan wajahmu Aku mulai terbiasa menatap kosong garis senyummu yang sudah tak ingat adaku Dan membacai ulang puisi-puisiku, sama saja seperti membacai ulang dirimu 16 September 2018 11.32

Doa Malam

Malam ini Di atas hamparan sprei kuhantarkan rindu melalui doa yang mengalun lirih menujumu. Adakah perempuan yang kini menemani saban harimu melakukan hal serupa? Atau bahkan dia bisa memberimu lebih? Semoga Tuhan selalu memelukmu dalam hening berkepanjanganku. Semoga Tuhan melarungkan sepi pada riak ombak pasang itu. 24 Agustus 2016 22:34

Hujan

Malam ini, kuniati menulis puisi tentang hujan yang seringkali membekukan kenangan bahagia Hujan yang kecil-kecil namun ramai Hujan dengan alunan kidung paling merdu Denganmu Dan orang lain yang juga terpaksa berteduh di sana Mendung bergelayut di padang awan yang kian pekat Jalan terburu-buru seperti hendak buang air menuju kamar mandi Deru kuda besi tak mampu mendahuluinya Perlahan namun pasti, cucuran airnya jatuh membasahi bumi Menghidupi tanaman Menghadirkan bau tanah yang harum Dan menyuruh manusia bergegas meneduh "Kita berteduh di sini tak apa?" tanyamu khawatir karna hari sudah mulai gelap. "Iyaa, telat beberapa menit tak masalah. Biar kukabari orang rumah." jawabku mencoba meredakan. Kulihat jaket abumu basah karna air menghujammu terlebih dahulu "Sampaikan maafku ke Bapak, karna telat mengantarmu pulang." katamu merasa bersalah. "Ternyata kamu..." tak kulanjutkan, sebab senyum di bibirku tak mau pergi kemana-mana....

Akankah kamu?

Akankah kekhusyukan mencumbui rindu ini juga kau lakukan rutin sebagaimana aku? Kalau saja definisi cinta itu surga, barangkali aku tak perlu lagi khawatir tak diperbolehkan masuk Atau ketar-ketir menunggu hisab perhitungan tabungan rinduku padamu Karang Satria 11 Juli 2018 23.23

Keterasingan

Adakah yang lebih berantakan dari hati yang secara tetiba kau tinggalkan? Kutata ruang demi ruang yang pada dindingnya terdapat jejak kisah paling bahagia waktu itu. Kupilah mana yang tetap bertahan di sana dan mana yang harus kucopot biar rasaku tak tumbuh dengan semena-mena. Tapi yang tertinggal hanya kenangan manis di sana. Tapi entah mengapa hatiku terkoyak luar biasa. Pada akhirnya, kita sama-sama gagal dalam itikad baik atau barangkali baik menurut kepala masing-masing kita. Mau tak mau, aku kau ajari caranya mengabaikan seseorang yang takaran cintanya di atas rata-rata. Mau tak mau, aku kau cekoki harapan yang nyatanya tak pernah berpihak. Mau tak mau, dipaksa kembali pada fase asing seperti awal adanya. Mau tak mau, kekosongan kian mencabik-cabik dunia yang mati-matian kupoles penuh warna. Adakah yang lebih babak-belur dari kehilangan yang sudah dipersiapkan? Aku tak mampu mendefinisikan kita yang pernah ada, hanya fana yang memenuhinya. Kusadari bahwa kau bukan...