Malam kemarin sungguh perih sekali Percikan air pada keran berulir menghujam kulitku Yang kukira sudah menjelma kertas tipis yang siap hancur. Kebisingan berita-berita di televisi tak seriuh isi kepala anak-anak usia sekolah Yang terlahir dari keluarga kurang mampu Pada tiap inci sakit yang menjalar ke pelipis sebagai muaranya. Pedih perih meronta dan semakin tambah deras seperti air yang menerobos bolongan keran Air mataku tak bisa dibendung tumpah ruah melewati pipi yang memerah karena marah Cobaan begitu bernanah dan mengeluarkan kucuran darah. Hidup memang tak pandang buluh Siapa yang tak berkemampuan akan dianggap sepah Tapi bisakah kita sebagai sesama tidak berkutat pada keuntungan diri sendiri semata? Dapatkah kita membunuh aku dan menumbuhkan Ia pada kedalaman sanubari tuk saling menghidupi? Tambun Utara, 05 Agustus 2020 15.29