Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2021

Membunuh Diri

    Malam kemarin sungguh perih sekali Percikan air pada keran berulir menghujam kulitku Yang kukira sudah menjelma kertas tipis yang siap hancur.   Kebisingan berita-berita di televisi tak seriuh isi kepala anak-anak usia sekolah Yang terlahir dari keluarga kurang mampu Pada tiap inci sakit yang menjalar ke pelipis sebagai muaranya.   Pedih perih meronta dan semakin tambah deras seperti air yang menerobos bolongan keran Air mataku tak bisa dibendung tumpah ruah melewati pipi yang memerah karena marah Cobaan begitu bernanah dan mengeluarkan kucuran darah.   Hidup memang tak pandang buluh Siapa yang tak berkemampuan akan dianggap sepah Tapi bisakah kita sebagai sesama tidak berkutat pada keuntungan diri sendiri semata?   Dapatkah kita membunuh aku dan menumbuhkan Ia pada kedalaman sanubari tuk saling menghidupi?   Tambun Utara, 05 Agustus 2020 15.29

Puluhan Pasang Mata

    Setiap yang hidup memiliki nasib. Tak terkecuali rumput di lapangan yang seiring dengan revolusi pembangunan tergerus buldozer. Aku membayangkan bagaimana perasaan rumput itu dan tidak mampu menyingkirkan tatapan mata anak-anak yang kehilangan tempatnya bermain kala sore hingga azan magrib tiba.   Puluhan pasang mata, tak berdaya tempatnya bermain dibumihanguskan. Tak pernah sampai pada pemilik kekuasaan.     Tambun Utara, 15 Agustus 2020 21.35

Sandiwara Mimpi

    Pada perjalanan menuju Bogor, kulihat pemandangan lewat jendela kereta. Berganti-ganti, tak ada yang sama. Pikiranku menyeruak menuju kota-kota lain yang mungkin memikulmu. Selamat siang, bahagiakah kamu dimana pun berada? Nyatanya, tanyaku tak pernah bertemu dengan jawab. Sebab semua yang kulontarkan untukmu harus berhenti pada puisi-puisiku ini. Yang tadinya nyata, meski terkadang dibantu dunia maya, sekarang semua fana adanya. Kulihat kiri-kananku tertidur. Mataku seperti lampu belajar baru. Apa mungkin aku sedang bermain peran dalam mimpimu?   Tambun Utara, 19 Agustus 2020 10.59

Tentang Merelakan

  Debur ombak sedang tak pasang. Buih-buih ke tengah menghantam perut laut. Sepasang burung bergandengan diliputi kesetiaan. Senja muncul perlahan dan kemudian hilang.   Angin malam datang kelam menyeret kenang yang mati-matian   kulupakan. Duduk di dalam tendaungu yang tegak terkadang bergetar. Pelan-pelan angin menusuk jempol kaki yang tak terbungkus.   Kita tahu: angin yang sama pernah membelai lembut pipiku juga pipimu.   Malam ini berbeda. Bintang tak terlihat seperti malam itu.   Dan sekarang kita mengerti meski tak sepenuhnya percaya, bahwa merelakan adalah cara mencintai paling dewasa.     Tambun Utara, 14 Agustus 2020 21.26