Jika kau kini memilih dia melupakan segala cerita, mungkin dengannya kau menikah, dan kau boyong ia menempati suatu kota yang semoga bukan kota kita.
Seperempat abad usiaku habis untuk mimpi-mimpi dalam hati: menggilai buku, membekukan kenang dan orang dalam puisi, atau membersamai anak-anak yang tiap tahun silih berganti. Semuanya kau anggap sia-sia sebab tinggal bersama ilusi semata.
Waktu berputar ke kanan dengan rem blong akan membuatmu melupa sempurna dan tak ingat bahwa di masjid At-Taubah dengan sekat kain kita melaksanakan solat asar yang telat, kecemasan karena pergi lewat magrib, dan gurat wajahku yang terganti permanen dengan perempuanmu.
Aku terus menulis puisi hingga muncul kapalan pada jari telunjukku atau mengumpati romansa orang lain yang nampak baik-baik saja.
Kelak kau tidak akan pernah tahu rabun jauh pada matamu dapat kutetesi dengan puisi-puisi yang kurajut dengan air mata yang tumpah setiap malam.
Teman ngobrol di usia senjamu: puisiku tentangmu.
Juga kegaduhan suara anak-anak yang membawa hingar-bingar kehidupanmu menjadi sendu kala tetiba orang terdekatmu menyebut namaku.
Tambun Utara, 16 September 2020
17.11

Komentar
Posting Komentar