Malam itu, di teras rumah, aku duduk di sepasang kursi yang berdampingan membuatku iri. Di sela-sela duduk, aku melihat sekelebatmu memilih dia dan memutuskan pergi.
Aku membayangkan dia berbalut awan saat siang hari, rambutnya basah karena mengandung hujan di bulan Februari, dan betisnya tersikap angin sepoi. Sementara aku adalah daun kering yang melayang dan sebelum sampai tanah sudah diremas orang yang berlalu-lalang.
Akhirnya kau benar-benar pergi. Kau tak akan pernah kembali lagi.
18 September 2020
20.20

Komentar
Posting Komentar