Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2019

Jatuh

Tempo hari, saya lupa kapan. Kamu terbawa tornado sampai di ujung lembah. Kebetulan, saya sedang lewat. Mau tidak mau, saya pegangi ujung bajumu agar tidak jatuh. Kamu meyakinkan saya bahwa bersama kita kan baik-baik saja. Kita kuat melawan angin kencang. Kamu menjanjikan saya langit beserta isinya. Tapi kamu selalu suka bercerita tentang hujan. Ternyata saya lupa, untuk memegangi ujung bajumu saya harus kuat terlebih dahulu. Bagaimana saya bisa menyelamatkanmu kalau saya sendiri tidak memiliki kekuatan untuk menarik? Lalu pada akhirnya, kita jatuh. Diiringi hujan lebat pasca angin kencang. Kamu senang, karena melayang dibersamai hujan yang kaupuja adanya. Sedangkan saya? Saya jatuh terbentur curam--dengan penuh patah dan lebam. Jika dirimu dipenuhi dia, lantas saya ini siapa? 18 November 2019 19.00

Wisata Kelamnya Masa Lalu Ibu Pertiwi di Museum Lubang Buaya

Gambar: Monumen Pancasila Sakti Kali kedua sowan ke Monumen Pancasila Sakti yang terletak di Jalan Raya Pondok Gede RT.4/RW.12, Lubang Buaya, Kec. Cipayung, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13810. Gambar: pendopo sumur lubang buaya Gambar: Skema Gerakan PKI Ilegal Iramani di Purwodadi Pertama kali menyambangi Museum Lubang Buaya ini pada 26 Juli 2015, ditemani Rina Suryati , Resti Ria Fauzi , dan War sini . Berempat motoran macam bocah indie home (?). Hari ini, 16 November 2019, kembali mengunjungi tempat yang sama. Dengan rute yang sama, tapi partnernya berbeda. Ditemani Jeppy Happy New Year. Ini nama aseli, bukan kaleng-kaleng haha ha Memasuki gedung Museum Pengkhianatan PKI (komunis) , suasana masih sebagaimana museum pada umumnya. Berkisah tentang sepak terjang Partai Komunis Indonesia—sebagaimana yang ada di bagian bawah Monumen Nasional (Monas) —h anya saja, foto-foto pendukung kejadian di berbagai tempat kurang terjaga ke- ...

Surat Terbuka untuk Diriku

Untukku di masa yang akan datang Kuharap kau jauh lebih kuat dibanding saat tulisan ini        kurangkai kata demi kata. Kelak dimana pun kau berada Kumau senyum indah yang jarang muncul itu        bertengger mesra dengan atau tanpa gincu. Sehat dan berbahagialah selalu. Terima kasih untuk pertahanan sekuat tenaga melawan        menerjang ego diri yang suka semena-mena. Terima kasih untuk segala upaya mencoba        berproses panjang menghalau rasa bosan. Terima kasih sudah berusaha baik-baik saja        meski seringkali berpikir untuk menyerah. Terima kasih sudah bersyukur dengan melakukan hal-hal yang kau suka        dengan tidak melewati batas kemampuanmu. Nanti kau akan menemui aku pada tumpukan kertas mahakarya mentah di sudut kamarmu, kertas lembar jawaban murid-muridmu, kertas parkir, atau mungkin di balik struk total belanjaanmu. Saat kau bac...

Genggam

Kau genggam tanganku erat seperti mentransfer energi       supaya takutku lebur mendebu di antara sela-sela tangan kita. Binar pada netra sayumu masih sama,       kesukaan yang diam-diam kupatri tuk kuingat. Perpisahan menjadi begitu kacau, buru-buru, berujung pilu. Pada keheningan dini hari pukul satu Hanya detak jam yang mengisi gendang telingaku Orang-orang sibuk merapal mimpi memeluk guling Sedang aku-- masih saja berharap kau memaafkanku. Bumi 02 November 2019 20.53