Langsung ke konten utama

Keterasingan

Adakah yang lebih berantakan dari hati yang secara tetiba kau tinggalkan?

Kutata ruang demi ruang yang pada dindingnya terdapat jejak kisah paling bahagia waktu itu.
Kupilah mana yang tetap bertahan di sana dan mana yang harus kucopot biar rasaku tak tumbuh dengan semena-mena.
Tapi yang tertinggal hanya kenangan manis di sana.
Tapi entah mengapa hatiku terkoyak luar biasa.

Pada akhirnya, kita sama-sama gagal dalam itikad baik atau barangkali baik menurut kepala masing-masing kita.
Mau tak mau, aku kau ajari caranya mengabaikan seseorang yang takaran cintanya di atas rata-rata.
Mau tak mau, aku kau cekoki harapan yang nyatanya tak pernah berpihak.
Mau tak mau, dipaksa kembali pada fase asing seperti awal adanya.
Mau tak mau, kekosongan kian mencabik-cabik dunia yang mati-matian kupoles penuh warna.

Adakah yang lebih babak-belur dari kehilangan yang sudah dipersiapkan?

Aku tak mampu mendefinisikan kita yang pernah ada, hanya fana yang memenuhinya.
Kusadari bahwa kau bukan lagi kau menjelma kau yang lain yang tak acuh.
Kukelimpungan karna tak pernah membayangkan ini terjadi juga akhirnya.

Benteng waspada yang kubangun megah ternyata bumerang pemicu kehambaran yang kian hari kian dahsyat.
Aku pernah diabaikan sebelumnya, tapi dengan mudah kulepas orang yang tak menghargai eksistensiku.
Kali ini, entah mengapa melepaskan belum pernah semenyiksa ini.
Skala prioritas karna terlalu larut dalam rasa ternyata tak selalu sesuai rencana.
Kejadian demi kejadian seakan disetting untuk terulang.
Dengan orang yang berbeda, tapi akhir ceritanya adalah sama.
Ah, cinta tai kucing.

Karang Satria
08 Juli 2018
10.37

Komentar

  1. Bisa gtu yak. Apa setiap orang mempunyai cerita yang serupa huhu berantakan��

    BalasHapus
  2. ini bentuk kontradiksi manusia yang sedang dilanda sindrom jatuh hati dan untuk kemudian patah hati dalam kurun dalam linimasa yang sama.

    Pesanku untuk mu tomat kesayangaku, "Saat kau buta karena tergila-gila pada dia. Ingatlah Ta, kau mungkin tak sadar, bila ada orang lain yang menjadikanmu semesta pada setiap doanya".

    BalasHapus
  3. Tapi untuk kali ini aku tidak setuju denganmu, "Betapa melepaskan bukan berarti melulu tentang kehilangan". Sebab disudut tempat lain ada cara bagaimana kau dapat melihatnya mesti jauh, menyapanya mesti tak terabai.

    Pakai second acount misalnya ^_^ wkwkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku setuju denganmu. Bahkan mungkin lebih baik melihat secara langsung, untuk tahu bahwa kamu bisa baik-baik saja tanpa dia.

      Hapus
    2. pakar perihal 'cecintaan' nih mulia mah. hihihih

      Hapus
  4. Cobalah untuk tidak pamrih. Seperti yang Mbah Nun katakan, tidak perlu memikirkan orang lain apakah juga mencintai kita. Tapi, berusahalah untuk mencintai. Gie juga pernah mengatakan, "Kita tak menanam apa-apa, kita tidak mendapatkan apa-apa."
    Tanamlah yang baik2. Dan aku sepakat dengan mbak2 di atas, bahwa melepas bukan melulu soal kehilangan. Orang2 Sufi melepas jiwanya, tapi tidak kehilangan jiwa itu sendiri. Merah tidak melulu berapi2, hitam tidak melulu kelam. Bisa jadi cinta adalah tai, tai penyubur tanaman.

    BalasHapus
  5. Endingnya keren , ah cinta tai kucing :v

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Perkenalan

Kidungku Aku Bernyanyi dalam kidung irama rindu Mencoba memahat segurat senyum Saat membuat sajak perkenalan ini Namaku Vita Lahir di Ibu kota Indonesia Pada bulan ke enam Jumlah alfabet ditambah dua tanggalnya Kebetulan lahir sunggang Kedua orang tua asli Jawa Tapi aku hanya tahu beberapa Sepi bukan berarti hilang Diam bukan berarti lupa Kadang Meskipun aku hanya setitik debu di atas karang Meskipun aku hanya satu diantara ribuan titik hujan Keindahan gerimis senja memberikanku setetes harapan Kehadiranku bukanlah yang terindah Akupun bukan yang terpenting Satu yang aku harapkan Hadirku berguna bagi sesama 09.09.14 19:24 Diiringi suara detak jam

Sastra Koran

SASTRA KORAN DAN KAITANNYA DENGAN ROMAN PERGAOELAN: PENGELOMPOKKAN KOTA DAN PINGGIRAN Sastra Koran Dessy wahyuni 28 November 2015 - 23.42 WIB Publikasi karya sastra  melalui koran sudah sangat lama terjadi di Indonesia. Hampir semua sastrawan Indonesia memanfaatkan koran sebagai media untuk “mengiklankan” karya (dan nama) mereka kepada publik. Sebut saja Seno Gumira Ajidarma, Yanusa Nugroho, Taufik Ikram Jamil, Nurzain Hae, Raudal Tanjung Banua, Marhalim Zaini, dan Fakhrunnas M.A. Jabbar (tentu masih ada sederetan nama lainnya). Berkat karya-karya korannya, nama mereka pun menjulang cakrawala. Melalui salah satu tulisannya, “Evolusi, ‘Genre’ dan Realitas Sastra Koran”, Ahmadun Yosi Herfanda menengarai bahwa sastra koran di Indonesia menemukan oasenya pada dekade ’70-an dan ’80-an. Ketika itu, karena rubrik-rubrik sastra menjamur di hampir semua surat kabar (seperti Suara Karya, Berita Buana, Kompas, Sinar Harapan, Kedaulatan Rakyat, dan Med...

Patibrata Praharsa

Surat Senja     Sepucuk surat memutuskan menetap Berisi tulisan tangan seseorang Yang rela menghabiskan 15 tahun waktunya untuk mengenalku Surat itu bertuliskan Patibrata Praharsa [1] Kubalas dengan Amin terkhusyuk Dan berharap semesta menirunya Perlahan Sang Surya tergelincir menuju ufuk barat Kutatap ia lekat dengan kedip sesekali Tak lupa kuselipkan senyum simpul untuk meringkas bahagiaku 17 maret 2016 19:34 [1] Sansekerta Patibrata = sehidup semati, Praharsa = bahagia. Patibrata Praharsa = bahagia sehidup semati.