Adakah yang lebih berantakan dari hati yang secara tetiba kau tinggalkan?
Kutata ruang demi ruang yang pada dindingnya terdapat jejak kisah paling bahagia waktu itu.
Kupilah mana yang tetap bertahan di sana dan mana yang harus kucopot biar rasaku tak tumbuh dengan semena-mena.
Tapi yang tertinggal hanya kenangan manis di sana.
Tapi entah mengapa hatiku terkoyak luar biasa.
Pada akhirnya, kita sama-sama gagal dalam itikad baik atau barangkali baik menurut kepala masing-masing kita.
Mau tak mau, aku kau ajari caranya mengabaikan seseorang yang takaran cintanya di atas rata-rata.
Mau tak mau, aku kau cekoki harapan yang nyatanya tak pernah berpihak.
Mau tak mau, dipaksa kembali pada fase asing seperti awal adanya.
Mau tak mau, kekosongan kian mencabik-cabik dunia yang mati-matian kupoles penuh warna.
Adakah yang lebih babak-belur dari kehilangan yang sudah dipersiapkan?
Aku tak mampu mendefinisikan kita yang pernah ada, hanya fana yang memenuhinya.
Kusadari bahwa kau bukan lagi kau menjelma kau yang lain yang tak acuh.
Kukelimpungan karna tak pernah membayangkan ini terjadi juga akhirnya.
Benteng waspada yang kubangun megah ternyata bumerang pemicu kehambaran yang kian hari kian dahsyat.
Aku pernah diabaikan sebelumnya, tapi dengan mudah kulepas orang yang tak menghargai eksistensiku.
Kali ini, entah mengapa melepaskan belum pernah semenyiksa ini.
Skala prioritas karna terlalu larut dalam rasa ternyata tak selalu sesuai rencana.
Kejadian demi kejadian seakan disetting untuk terulang.
Dengan orang yang berbeda, tapi akhir ceritanya adalah sama.
Ah, cinta tai kucing.
Karang Satria
08 Juli 2018
10.37
Kutata ruang demi ruang yang pada dindingnya terdapat jejak kisah paling bahagia waktu itu.
Kupilah mana yang tetap bertahan di sana dan mana yang harus kucopot biar rasaku tak tumbuh dengan semena-mena.
Tapi yang tertinggal hanya kenangan manis di sana.
Tapi entah mengapa hatiku terkoyak luar biasa.
Pada akhirnya, kita sama-sama gagal dalam itikad baik atau barangkali baik menurut kepala masing-masing kita.
Mau tak mau, aku kau ajari caranya mengabaikan seseorang yang takaran cintanya di atas rata-rata.
Mau tak mau, aku kau cekoki harapan yang nyatanya tak pernah berpihak.
Mau tak mau, dipaksa kembali pada fase asing seperti awal adanya.
Mau tak mau, kekosongan kian mencabik-cabik dunia yang mati-matian kupoles penuh warna.
Adakah yang lebih babak-belur dari kehilangan yang sudah dipersiapkan?
Aku tak mampu mendefinisikan kita yang pernah ada, hanya fana yang memenuhinya.
Kusadari bahwa kau bukan lagi kau menjelma kau yang lain yang tak acuh.
Kukelimpungan karna tak pernah membayangkan ini terjadi juga akhirnya.
Benteng waspada yang kubangun megah ternyata bumerang pemicu kehambaran yang kian hari kian dahsyat.
Aku pernah diabaikan sebelumnya, tapi dengan mudah kulepas orang yang tak menghargai eksistensiku.
Kali ini, entah mengapa melepaskan belum pernah semenyiksa ini.
Skala prioritas karna terlalu larut dalam rasa ternyata tak selalu sesuai rencana.
Kejadian demi kejadian seakan disetting untuk terulang.
Dengan orang yang berbeda, tapi akhir ceritanya adalah sama.
Ah, cinta tai kucing.
Karang Satria
08 Juli 2018
10.37
Bisa gtu yak. Apa setiap orang mempunyai cerita yang serupa huhu berantakan��
BalasHapusini bentuk kontradiksi manusia yang sedang dilanda sindrom jatuh hati dan untuk kemudian patah hati dalam kurun dalam linimasa yang sama.
BalasHapusPesanku untuk mu tomat kesayangaku, "Saat kau buta karena tergila-gila pada dia. Ingatlah Ta, kau mungkin tak sadar, bila ada orang lain yang menjadikanmu semesta pada setiap doanya".
Tapi untuk kali ini aku tidak setuju denganmu, "Betapa melepaskan bukan berarti melulu tentang kehilangan". Sebab disudut tempat lain ada cara bagaimana kau dapat melihatnya mesti jauh, menyapanya mesti tak terabai.
BalasHapusPakai second acount misalnya ^_^ wkwkwkwk
Aku setuju denganmu. Bahkan mungkin lebih baik melihat secara langsung, untuk tahu bahwa kamu bisa baik-baik saja tanpa dia.
Hapuspakar perihal 'cecintaan' nih mulia mah. hihihih
HapusCobalah untuk tidak pamrih. Seperti yang Mbah Nun katakan, tidak perlu memikirkan orang lain apakah juga mencintai kita. Tapi, berusahalah untuk mencintai. Gie juga pernah mengatakan, "Kita tak menanam apa-apa, kita tidak mendapatkan apa-apa."
BalasHapusTanamlah yang baik2. Dan aku sepakat dengan mbak2 di atas, bahwa melepas bukan melulu soal kehilangan. Orang2 Sufi melepas jiwanya, tapi tidak kehilangan jiwa itu sendiri. Merah tidak melulu berapi2, hitam tidak melulu kelam. Bisa jadi cinta adalah tai, tai penyubur tanaman.
Endingnya keren , ah cinta tai kucing :v
BalasHapus