Langsung ke konten utama

Untuk Rumah Keduaku

Pernah kurasakan luka karena ditinggal induk semang
Diberikannya rasa kehilangan yang teramat mendalam
Kuharap kau mampu menyembuhkannya dan tak pergi semaunya
Tapi tak kuharapkanmu lebih, jika kau ingin pergi, maka pergilah dan jangan pernah kembali

27 hari perkenalan dan aku telah menyayangimu
Sebenarnya sudah jauh dari angka 27 kucuri start
Tapi ternyata hatiku perlu diyakinkan lebih dari apapun
Dan kau berhasil meyakinkanku

Aku sedang belajar menyukai apa-apa yang ada padamu
Aku sedang belajar membacai apa-apa ciri khasmu
Aku sedang belajar mencintai apa-apa yang kau cinta
Aku ingin belajar tentangmu selamanya

Terima kasih telah terlahir di dunia
Terima kasih telah berkenan mengisi ruang sepi hidupku
Terima kasih telah berjuang menyempurnakan agamaku
Terima kasih karena kau ada

Teruslah tertawa dan membuatku tertawa
Teruslah menjaga dan menjagaku selamanya
Teruslah tersenyum dan jangan kau beri hatimu untuk yang lainnya
Teruslah belajar menjadi hamba yang beriman serta bertaqwa, bersama aku tentunya.


Grand Galaxy City
26 April 2016
07.49

Komentar

  1. ini bentuk kontradiksi manusia yang sedang dilanda sindrom jatuh hati dan untuk kemudian patah hati dalam kurun dalam linimasa yang sama.

    Pesanku untuk mu tomat kesayangaku, "Saat kau buta karena tergila-gila pada dia. Ingatlah Ta, kau mungkin tak sadar, bila ada orang lain yang menjadikanmu semesta pada setiap doanya".

    Kukirim komentar ini pada puisi terakhirmu. puisi patah hati yang aku harap segera kau obati. Dengan merinduiku misalnya, menulis atau berkutat pada pengabdian muliamu mencerdaskan anak bangsa. Tenang, jika kau butuh aku, sebut namaku dan pencet nomor yang tertera disitu. wkwkwkwk

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Perkenalan

Kidungku Aku Bernyanyi dalam kidung irama rindu Mencoba memahat segurat senyum Saat membuat sajak perkenalan ini Namaku Vita Lahir di Ibu kota Indonesia Pada bulan ke enam Jumlah alfabet ditambah dua tanggalnya Kebetulan lahir sunggang Kedua orang tua asli Jawa Tapi aku hanya tahu beberapa Sepi bukan berarti hilang Diam bukan berarti lupa Kadang Meskipun aku hanya setitik debu di atas karang Meskipun aku hanya satu diantara ribuan titik hujan Keindahan gerimis senja memberikanku setetes harapan Kehadiranku bukanlah yang terindah Akupun bukan yang terpenting Satu yang aku harapkan Hadirku berguna bagi sesama 09.09.14 19:24 Diiringi suara detak jam

Sastra Koran

SASTRA KORAN DAN KAITANNYA DENGAN ROMAN PERGAOELAN: PENGELOMPOKKAN KOTA DAN PINGGIRAN Sastra Koran Dessy wahyuni 28 November 2015 - 23.42 WIB Publikasi karya sastra  melalui koran sudah sangat lama terjadi di Indonesia. Hampir semua sastrawan Indonesia memanfaatkan koran sebagai media untuk “mengiklankan” karya (dan nama) mereka kepada publik. Sebut saja Seno Gumira Ajidarma, Yanusa Nugroho, Taufik Ikram Jamil, Nurzain Hae, Raudal Tanjung Banua, Marhalim Zaini, dan Fakhrunnas M.A. Jabbar (tentu masih ada sederetan nama lainnya). Berkat karya-karya korannya, nama mereka pun menjulang cakrawala. Melalui salah satu tulisannya, “Evolusi, ‘Genre’ dan Realitas Sastra Koran”, Ahmadun Yosi Herfanda menengarai bahwa sastra koran di Indonesia menemukan oasenya pada dekade ’70-an dan ’80-an. Ketika itu, karena rubrik-rubrik sastra menjamur di hampir semua surat kabar (seperti Suara Karya, Berita Buana, Kompas, Sinar Harapan, Kedaulatan Rakyat, dan Med...

Patibrata Praharsa

Surat Senja     Sepucuk surat memutuskan menetap Berisi tulisan tangan seseorang Yang rela menghabiskan 15 tahun waktunya untuk mengenalku Surat itu bertuliskan Patibrata Praharsa [1] Kubalas dengan Amin terkhusyuk Dan berharap semesta menirunya Perlahan Sang Surya tergelincir menuju ufuk barat Kutatap ia lekat dengan kedip sesekali Tak lupa kuselipkan senyum simpul untuk meringkas bahagiaku 17 maret 2016 19:34 [1] Sansekerta Patibrata = sehidup semati, Praharsa = bahagia. Patibrata Praharsa = bahagia sehidup semati.