Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2020

Hampa

  Tak ada Bekasi-Tangerang lagi esok hari. Sepi menyeruak masuk dalam hidup yang kian hari kian gila. Tanpa tawa dan diminta terbiasa meski dengan segala problema. Mengusung kecewa, kembali pada pusara di dasar hati yang kehilangan arah. 18 September 2020 20.34

Hancur

  Malam itu, di teras rumah, aku duduk di sepasang kursi yang berdampingan membuatku iri. Di sela-sela duduk, aku melihat sekelebatmu memilih dia dan memutuskan pergi. Aku membayangkan dia berbalut awan saat siang hari, rambutnya basah karena mengandung hujan di bulan Februari, dan betisnya tersikap angin sepoi. Sementara aku adalah daun kering yang melayang dan sebelum sampai tanah sudah diremas orang yang berlalu-lalang. Akhirnya kau benar-benar pergi. Kau tak akan pernah kembali lagi. 18 September 2020 20.20

Perempuan dan Kata

  Jika kau kini memilih dia melupakan segala cerita, mungkin dengannya kau menikah, dan kau boyong ia menempati suatu kota yang semoga bukan kota kita. Seperempat abad usiaku habis untuk mimpi-mimpi dalam hati: menggilai buku, membekukan kenang dan orang dalam puisi, atau membersamai anak-anak yang tiap tahun silih berganti. Semuanya kau anggap sia-sia sebab tinggal bersama ilusi semata. Waktu berputar ke kanan dengan rem blong akan membuatmu melupa sempurna dan tak ingat bahwa di masjid At-Taubah dengan sekat kain kita melaksanakan solat asar yang telat, kecemasan karena pergi lewat magrib, dan gurat wajahku yang terganti permanen dengan perempuanmu. Aku terus menulis puisi hingga muncul kapalan pada jari telunjukku atau mengumpati romansa orang lain yang nampak baik-baik saja. Kelak kau tidak akan pernah tahu rabun jauh pada matamu dapat kutetesi dengan puisi-puisi yang kurajut dengan air mata yang tumpah setiap malam. Teman ngobrol di usia senjamu: puisiku tentangmu. Juga kegadu...