Langsung ke konten utama

Sama Istimewanya



Antara Jogja dan kamu sama-sama istimewa
Jogja begitu candu 'tuk disambangi lagi, lagi, dan lagi
Sedikit banyak Jogja mengingatkanku padamu
Pada tawa renyah, bibir manyun, dan wangi tubuhmu
Aku begitu merindui Jogja sama seperti aku merinduimu

Sepanjang jalan Solo-Jogja menjadi jalur yang banyak menulis cerita
Senyummu masih saja muncul kalau sedang kurenungi kita
Semua telah fana meski aku masih ada
Kamu yang memilihnya dan bahagia

Angin pantai yang menampar-nampar pipiku itu gemar membisikan namamu
Mengembalikan tingkah polah caramu membekukan waktu untuk kusimpan
Tawa gemas melihat debur ombak yang cukup keras menutup basah betismu
Rasanya baru kemarin kamu santap kelapa muda di atas karang

Perpisahan kian koyak dimakan waktu
Pada bulir-bulir hujan bulan Juni, kenangan begitu galak menyeruak
Isak sendu mewarnai malam-malam jika potret sisa-sisa obrolan gentayangan

Jogja pernah menjadi bagian dari rumah sederhana penuh tawa kita
Kini kamu telah sepenuhnya lupa, tak apa
Toh Jogja tak akan kemana-mana, meski kamu tak ada.

Tambun Utara
14 Juni 2020
10.30

Komentar

  1. Maasya Allah keren bgt tulisan2mu. Lanjutkan vit. Aq suka baca2 puisi🤩

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Perkenalan

Kidungku Aku Bernyanyi dalam kidung irama rindu Mencoba memahat segurat senyum Saat membuat sajak perkenalan ini Namaku Vita Lahir di Ibu kota Indonesia Pada bulan ke enam Jumlah alfabet ditambah dua tanggalnya Kebetulan lahir sunggang Kedua orang tua asli Jawa Tapi aku hanya tahu beberapa Sepi bukan berarti hilang Diam bukan berarti lupa Kadang Meskipun aku hanya setitik debu di atas karang Meskipun aku hanya satu diantara ribuan titik hujan Keindahan gerimis senja memberikanku setetes harapan Kehadiranku bukanlah yang terindah Akupun bukan yang terpenting Satu yang aku harapkan Hadirku berguna bagi sesama 09.09.14 19:24 Diiringi suara detak jam

Sastra Koran

SASTRA KORAN DAN KAITANNYA DENGAN ROMAN PERGAOELAN: PENGELOMPOKKAN KOTA DAN PINGGIRAN Sastra Koran Dessy wahyuni 28 November 2015 - 23.42 WIB Publikasi karya sastra  melalui koran sudah sangat lama terjadi di Indonesia. Hampir semua sastrawan Indonesia memanfaatkan koran sebagai media untuk “mengiklankan” karya (dan nama) mereka kepada publik. Sebut saja Seno Gumira Ajidarma, Yanusa Nugroho, Taufik Ikram Jamil, Nurzain Hae, Raudal Tanjung Banua, Marhalim Zaini, dan Fakhrunnas M.A. Jabbar (tentu masih ada sederetan nama lainnya). Berkat karya-karya korannya, nama mereka pun menjulang cakrawala. Melalui salah satu tulisannya, “Evolusi, ‘Genre’ dan Realitas Sastra Koran”, Ahmadun Yosi Herfanda menengarai bahwa sastra koran di Indonesia menemukan oasenya pada dekade ’70-an dan ’80-an. Ketika itu, karena rubrik-rubrik sastra menjamur di hampir semua surat kabar (seperti Suara Karya, Berita Buana, Kompas, Sinar Harapan, Kedaulatan Rakyat, dan Med...

Patibrata Praharsa

Surat Senja     Sepucuk surat memutuskan menetap Berisi tulisan tangan seseorang Yang rela menghabiskan 15 tahun waktunya untuk mengenalku Surat itu bertuliskan Patibrata Praharsa [1] Kubalas dengan Amin terkhusyuk Dan berharap semesta menirunya Perlahan Sang Surya tergelincir menuju ufuk barat Kutatap ia lekat dengan kedip sesekali Tak lupa kuselipkan senyum simpul untuk meringkas bahagiaku 17 maret 2016 19:34 [1] Sansekerta Patibrata = sehidup semati, Praharsa = bahagia. Patibrata Praharsa = bahagia sehidup semati.