Akhir-akhir ini aku melalui hari-hari--dalam masa karantina--dengan banyak bertanya. Tapi tanyaku selalu menemui jalan buntu melulu. Orang-orang silih berganti datang dan pergi. Kisah yang lalu berputar tanpa kukehendaki. Mencabik rasa jadi serpihan kecil yang berserakan di relung hati. Ingatan yang melintas seenaknya tak pernah bisa dicegah, apalagi dilarang, layaknya hakikat manusia. Gelas berisi sirup prambos kulihat seperti darah. Barangkali tubuhku kurang cairan berwarna merah. Sebab definisi bahagia kian hari kian semu saja tanpa arah. Terjebak sendiri dalam labirin rumit berselimut gelap yang menghantar sakit tanpa obat. Gerbang nestapa menyambut diri yang merasa hilang pada suatu yang telah lama lewat. Aku harus bergegas membuang pertanyaan yang terus-menerus muncul. Membebaskan diri dari pertanyaan, "mengapa kemarin dan seterusnya harus terjadi?" Berusaha memahami setiap makna dalam setiap lorong kehidupan. Jika semua yang kulihat hanya berup...