Langsung ke konten utama

Warna Anak

Beberapa anak mendapat kasih dan sayang dari dua malaikat tanpa melakukan apa-apa
Dikecup pipinya saat terbangun dari mimpi yang indah warnanya
Tapi terjaga jauh lebih indah, karena dicinta mampu membuat seseorang bahagia

Sebagian anak bertingkah supaya bisa setidaknya dilihat
Diperhatikan bahwa mereka ada
Dimanja layaknya anak-anak seusianya
Tapi sampai akhirnya lelah, tak dapat apa-apa

Diantaranya, ada anak yang dihujam pukulan tangan bahkan ketika ia tak tahu salah apa
Dihukum yang membuatnya berpikir dan menyalahkan diri sendiri
Diam merintih di dalam hati karena perih dipukul Ayah Bunda

Beberapa anak beruntung karena dibersamai dua orang bahkan lebih yang berperan banyak dalam hidupnya
Kadang waktu, sayang itu bisa dibagi dengan teman-teman
Berbagi bekal yang memenuhi makanan sehat buatan Mama
Tapi cenderung cengeng bila sesuatu tak berjalan sesuai keinginannya

Sebagian anak harus tau kapan waktunya meminta dan menerima
Menahan keinginan diri dan menelan bahwa mungkin keinginannya bukanlah yang dibutuhkan
Terbiasa berproses karena dibentuk untuk mencintai apa-apa yang dimiliki

Diantaranya, masih berkutat pada ketidaksehatan keluarga
Dilatih menampung kesemrawutan hidup sendirian
Jika beruntung dipertemukan dengan seseorang baik yang mau merawat sebagai ganti--barangkali malaikat lain yang diutus Tuhan untuknya
Kehilangan sosok panutan yang tak mengharapkan kehadirannya di dunia

Ayah Bunda,
anakmu butuh kalian meskipun uang yang kalian cari untuk membuat kami bahagia
anakmu butuh sentuhan sayang kalian untuk memberi tahu bahwa kami diinginkan di dunia ini
anakmu butuh dukungan untuk dibersamai melewati hari
anakmu butuh kalian lebih dari milyaran orang di luar sana

Ayah Bunda,
siapkan diri sebelum menghadirkan kami ya.

9 Februari 2020
22.24

Komentar

  1. Super sekali..Ending yg tak terduga. Ternyata pesan untuk perempuan calon ibu seperti aku.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Perkenalan

Kidungku Aku Bernyanyi dalam kidung irama rindu Mencoba memahat segurat senyum Saat membuat sajak perkenalan ini Namaku Vita Lahir di Ibu kota Indonesia Pada bulan ke enam Jumlah alfabet ditambah dua tanggalnya Kebetulan lahir sunggang Kedua orang tua asli Jawa Tapi aku hanya tahu beberapa Sepi bukan berarti hilang Diam bukan berarti lupa Kadang Meskipun aku hanya setitik debu di atas karang Meskipun aku hanya satu diantara ribuan titik hujan Keindahan gerimis senja memberikanku setetes harapan Kehadiranku bukanlah yang terindah Akupun bukan yang terpenting Satu yang aku harapkan Hadirku berguna bagi sesama 09.09.14 19:24 Diiringi suara detak jam

Sastra Koran

SASTRA KORAN DAN KAITANNYA DENGAN ROMAN PERGAOELAN: PENGELOMPOKKAN KOTA DAN PINGGIRAN Sastra Koran Dessy wahyuni 28 November 2015 - 23.42 WIB Publikasi karya sastra  melalui koran sudah sangat lama terjadi di Indonesia. Hampir semua sastrawan Indonesia memanfaatkan koran sebagai media untuk “mengiklankan” karya (dan nama) mereka kepada publik. Sebut saja Seno Gumira Ajidarma, Yanusa Nugroho, Taufik Ikram Jamil, Nurzain Hae, Raudal Tanjung Banua, Marhalim Zaini, dan Fakhrunnas M.A. Jabbar (tentu masih ada sederetan nama lainnya). Berkat karya-karya korannya, nama mereka pun menjulang cakrawala. Melalui salah satu tulisannya, “Evolusi, ‘Genre’ dan Realitas Sastra Koran”, Ahmadun Yosi Herfanda menengarai bahwa sastra koran di Indonesia menemukan oasenya pada dekade ’70-an dan ’80-an. Ketika itu, karena rubrik-rubrik sastra menjamur di hampir semua surat kabar (seperti Suara Karya, Berita Buana, Kompas, Sinar Harapan, Kedaulatan Rakyat, dan Med...

Patibrata Praharsa

Surat Senja     Sepucuk surat memutuskan menetap Berisi tulisan tangan seseorang Yang rela menghabiskan 15 tahun waktunya untuk mengenalku Surat itu bertuliskan Patibrata Praharsa [1] Kubalas dengan Amin terkhusyuk Dan berharap semesta menirunya Perlahan Sang Surya tergelincir menuju ufuk barat Kutatap ia lekat dengan kedip sesekali Tak lupa kuselipkan senyum simpul untuk meringkas bahagiaku 17 maret 2016 19:34 [1] Sansekerta Patibrata = sehidup semati, Praharsa = bahagia. Patibrata Praharsa = bahagia sehidup semati.