Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2019

Kepada Roh Puisiku: Kau

Bagaimana mungkin jadi rasa: puisi pada barisan kata tanpa makna? Aku pernah melihatmu pada hal-hal yang tak kau katakan: mengepul bersama asap susu panas yang baru saja kuhidangkan di meja beranda. Manusia silih berganti menyambangi: kemudian pergi dan tak kembali. Beranda ini sepi. Di antara kepulan susu hangat dan pisang goreng ini, kau usir sepersekian ramai. Pada mulutmu, kata mulai membatasi diri. Lalu kau kini ikut sepi. Toko di seberang jalan menghadiahi hidung aroma coklat. Kau sesapi esensi lumeran coklat dalam balutan cake dengan rasa yang sama. Di sebelahnya ada toko makhluk pasif berbulu yang sewaktu-waktu ingin kau peluk. Teddy Bear dan Big Panda berpandang-pandangan mengerutkan dahi terheran-heran. Teddy Bear dengan topi bermotif polkadot. Big Panda dengan bambu yang berdaun tiga di mulut. Tapi kau tak suka keduanya. Kau hanya menyukai lara tiada akhir. Seperti cerita yang telah tamat kemarin. Aku ingin membuatkan sesuatu yang dapat menemani malammu saat mere...

Jam Dua Dini Hari

Pukul dua dini hari, bersama irama detak jam yang kian detik kian gaduh namun semakin terasa sepi. Pikiranku berkenalana tanpa tujuan pasti. Aku muak dengan segala tanya tanpa jawab, tentang rasa yang sulit diterka eksistensinya. Kuanalisis setiap tanya yang mencuat dan kusatukan dengan jawab yang dipaksa seiya sekata. Tapi antitesis meronta, meluluhlantakan jawaban yang kuanggap pas maknanya. Detik demi detik lewat tanpa permisi, angin dini hari merangsek masuk melalui celah-celah jendela kamar, pikiranku masih saja berwarna kelabu dengan praduga yang berujung pilu. Kupejamkan mata petanda menyerah kalah, dengan harap tanyaku mandiri menemu jawabannya sendiri. 09 Maret 2019