Untukmu yang kini menemani saban hari pria yang kusayangi hingga tadi pagi sebelum kau nyinyiri aku dengan kata-kata yang diartikan orang lain kultum. Izinkan saya perempuan yang tak lebih cantik darimu ini menuliskan beberapa patah kata untuk membela diri dari tuduhan keji. Kuluangkan waktuku yang kau artikan tak ada artinya. Tak apa. Aku heran, sepengetahuanku Tuhan menciptakan sesuatu tidak pernah sia-sia, tapi mengapa masih disisakan populasi perempuan yang tega melukai perasaan perempuan lain? Terlebih hanya dengan alasan seorang laki-laki. Sangat kusayangkan ijazah pendidikanmu dan biaya (yang banyak jumlahnya) yang dikeluarkan orang tuamu. Setelah kau baca ini, minta maaflah kepada mereka berdua dan bakar saja ijazahmu. Tulisan ini seperti yang sudahku sampaikan di awal. Aku ingin menegaskan bahwa aku tidak tertarik merebut kepunyaan orang lain, seperti yang telah kau ajarkan. Maaf, bacaanku tidak mengajarkan seperti itu. Izinkan saya meluruskan kesemrawutan pikir...