Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2018

10 Pembelaan untuk Perempuan yang Lebih Cantik daripadaku

Untukmu yang kini menemani saban hari pria yang kusayangi hingga tadi pagi sebelum kau nyinyiri aku dengan kata-kata yang diartikan orang lain kultum. Izinkan saya perempuan yang tak lebih cantik darimu ini menuliskan beberapa patah kata untuk membela diri dari tuduhan keji. Kuluangkan waktuku yang kau artikan tak ada artinya. Tak apa. Aku heran, sepengetahuanku Tuhan menciptakan sesuatu tidak pernah sia-sia, tapi mengapa masih disisakan populasi perempuan yang tega melukai perasaan perempuan lain? Terlebih hanya dengan alasan seorang laki-laki. Sangat kusayangkan ijazah pendidikanmu dan biaya (yang banyak jumlahnya) yang dikeluarkan orang tuamu. Setelah kau baca ini, minta maaflah kepada mereka berdua dan bakar saja ijazahmu. Tulisan ini seperti yang sudahku sampaikan di awal. Aku ingin menegaskan bahwa aku tidak tertarik merebut kepunyaan orang lain, seperti yang telah kau ajarkan. Maaf, bacaanku tidak mengajarkan seperti itu. Izinkan saya meluruskan kesemrawutan pikir...

Berjarak

Kota Jogja menjadi tempat menumpahkan rindu dan mawujud temu yang paling melekat dalam kepalaku Tepat di bawah gapura besar di depan Candi Prambanan rindu yang sudah lama kita tampung, luruh dalam kisaran waktu sepersekian detik Obrolan basa-basi memecah kebisuan dua orang asing yang akhirnya bisa saling melihat mata satu sama lain Canggung dan bahagia melebur jadi satu yang melahirkan sikap malu-malu Kini jarak tak ada lagi, mengaku kalah pada dua orang yang keras kepala dalam satu rasa Di bawah langit yang sama, mengulang obrolan via telepon yang menjaga kantuk hingga pagi menjelang Malam menjadi makin malam yang diisi permainan receh namun menyenangkan Aku mulai menyukai caramu memperlakukanku Aku mulai menyukai cara cemburumu Aku menyukaimu sebab kau lucu Barangkali kita merasa menjadi pasangan paling bahagia kala itu Kau bisikiku dengan kalimat penenang yang masih terngiang, "tetaplah bersamaku, hingga penghujung waktu." Entah kau tangkap atau tidak senyum si...

Terbiasa

Teruntuk Tuan yang sedang gemar menyesapi sari-sari suka pada Puan yang pernah kucurigai menjadi indikasi kelululantaan Tuan dan ku Aku mulai terbiasa dijajah diksi yang semena-mena mengalir dari ujung-ujung matamu Aku mulai terbiasa mempertemukan ujung pena dengan lembaran kertas melahap rinduku Aku mulai terbiasa memandang kumpulan aksara membentuk guratan wajahmu Aku mulai terbiasa menatap kosong garis senyummu yang sudah tak ingat adaku Dan membacai ulang puisi-puisiku, sama saja seperti membacai ulang dirimu 16 September 2018 11.32