Tuan, kutulis sebuah puisi di bawah temaram sore yang melahirkan senja indah warnanya Sepotong masa lalu yang sendu melayang mengetuk pintu ingatanku Tak pernah mengindahkan yang masih hidup dalam dadaku Didudukannya aku di kursi terdakwa sebagai perempuan yang tak layak mendapat balasan rasa Kenangan betah berlama-lama, sedang aku pecundang yang dikoyak bayang-bayang sebegini rupa Hingga detik ini, masih kugenggam rasa yang nyatanya telah memuai jadi udara Mengenangmu seperti menunggu Lama, semakin lama, tetapi aku tak kunjung bosan Kasihmu seperti senja Membekas, membara, sebentar, kemudian hilang Penyesalan itu gencar menghantuiku Barang tentu sesalku ini bagimu tiada arti Maka berhentilah menghantui serta bonus berlipat yang membuatku tak mampu berdiri dengan kedua kakiku sendiri Darimu aku belajar, perjuangan yang kunilai sia-sia memang layak dibayar tunai dengan penuh sesal dan air mata Keegoisanku Tuan hadiahi perpisahan Aku pikir sikapku sudah benar ...