Hallo, apa kabar? Aku tak akan banyak bertanya seperti dulu Tapi aku ingin menyapamu dengan diam yang tak akan pernah sampai Sebab tak mengerti bagaimana cara menyebut namamu Kekasih, Kamu harus tahu, kenangan begitu mencekikku Sedang kutahu kamu telah merajut cerita penuh warna dengannya Aku lelah memunguti rindu yang tak tahu harus kuhibahkan pada siapa Aku masih saja merakitmu dalam puisi-puisi kamarku Aku juga tidak membiarkan aliran sungai sampai pada daguku Sebab katamu, aku tak cantik bila sungai pecah membanjiri pipi dan meluncur di dagu Maaf aku menangis lagi Tapi sekarang kamu tidak di sini: di sisiku Melewati jalan menuju dan pulang membangkitkan kenangan yang semena-mena menetap Mendatangi tempat-tempat yang pernah menampung cerita, sama mengerikannya Mendengarkan cerita orang lain juga selalu membuka pintu kenangan yang selalu kuusahakan enyah Aku masih meraba, "Mengapa Tuhan membiarkanku terjerembab sebegini jadi dan mengapa hanya aku yang dihant...