Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2018

Puisi Hubung

Aku begitu mencintai kenangan, padahal ia jejak yang rapuh saat kupijak Sedangkan kamu begitu tega membiarkanku dibakar rindu sebegini jadi Mataku ini ranu yang kedalamannya mampu membutakanku dari mawujud lain selainmu Matamu itu arga yang memancarkan seberkas cahaya hangat tempatku bermuara Senyumku ini samudera sepi yang merangkak mengisi kekosongan Sedang senyummu adalah telaga yang menampung segala degubku Aku ingin sekali mengajakmu berbincang ke sana-sini Tapi kamu membiarkanku berdiskusi dengan kesendirian Kusentuh bulu-bulu matamu agar salah satu di antara mereka tanggal Supaya kamu paham bahwa ada yang diam-diam merindu dan mau kamu kenang Aku berdoa supaya puisi ini sampai pada sanubarimu Entah akan kamu simpan dalam kepala atau hati Atau barangkali hanya melintas kemudian pergi Tapi Biarkan aku berharap mendapatkan setetes air mata dan lengkungan maha dahsyat dari bibirmu sebagai upah kecintaanku yang tak berkesudahan ini 25 Oktober 2018 08.00

Pemangkas Rindu

Di atas hamparan sprei kesukaanku Kusulap kasur jadi ruang kerja favorit Dan bayangmu menggoda sambil berkata, "rangkai aku jadi kata-kata" Seselesainya menulis satu bab materi Juga beberapa kumpulan soal yang tak kuasa menemu jawabannya sendiri Kutemui mentari untuk memerahkan kulit Tapi kau tetap di sebelahku merengek minta segera ditulis Kumasuk dan menyalakan TV dengan volume sedang Mencoba mengalihkan dan memulihkan kewarasan Kupikir kau telah hilang Ternyata aktor justru menyerupaimu, kumatikan Kucoba hal lain, merealisasikan kegemaranku Buku yang hampir dua bulan bertengger di rak buku Tapi namamu justru ada dalam deretan kata buku itu Kututup dan kuseduh kantung teh yang mengepul gaduh Baiklah Aku kalah mengenyahkannya Akhirnya Kurangkai kau yang telah mengusung senyum kembali ke bibirku Barangkali aku tak kuasa menyulap kata menjelma pelipur lara Kudandanimu dengan memilah dan memilih ingatan untuk kau kenakan Agar terlihat tampan di ma...