Aku begitu mencintai kenangan, padahal ia jejak yang rapuh saat kupijak Sedangkan kamu begitu tega membiarkanku dibakar rindu sebegini jadi Mataku ini ranu yang kedalamannya mampu membutakanku dari mawujud lain selainmu Matamu itu arga yang memancarkan seberkas cahaya hangat tempatku bermuara Senyumku ini samudera sepi yang merangkak mengisi kekosongan Sedang senyummu adalah telaga yang menampung segala degubku Aku ingin sekali mengajakmu berbincang ke sana-sini Tapi kamu membiarkanku berdiskusi dengan kesendirian Kusentuh bulu-bulu matamu agar salah satu di antara mereka tanggal Supaya kamu paham bahwa ada yang diam-diam merindu dan mau kamu kenang Aku berdoa supaya puisi ini sampai pada sanubarimu Entah akan kamu simpan dalam kepala atau hati Atau barangkali hanya melintas kemudian pergi Tapi Biarkan aku berharap mendapatkan setetes air mata dan lengkungan maha dahsyat dari bibirmu sebagai upah kecintaanku yang tak berkesudahan ini 25 Oktober 2018 08.00